Butuh 5 Presiden untuk Mengukuhkan Rahmah El Yunusiyah Jadi Pahlawan Nasional

Rahmah El Yunusiyah, Diniyyah Puteri, Pahlawan Nasional 2025, rahmah el yunusiyah pahlawan nasional, Butuh 5 Presiden untuk Mengukuhkan Rahmah El Yunusiyah Jadi Pahlawan Nasional, Mengapa Rahmah El Yunusiyah Dianggap Layak Menjadi Pahlawan Nasional?, Bagaimana Perjalanan Panjang Pengusulan Gelar Ini?, Apa Saja Kontribusi Rahmah dalam Dunia Pendidikan dan Perjuangan?, Bagaimana Peran Rahmah dalam Perlawanan terhadap Penjajah?

 Presiden RI Prabowo Subianto menganugerahi Rahmah El Yunusiyah asal Sumatera Barat dengan gelar Pahlawan Nasional atas perjuangannya di bidang pendidikan Islam.

Upacara penganugerahan ini digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin, dan menjadi momen bersejarah bagi dunia pendidikan Islam di Indonesia.

Perwakilan keluarga Rahmah, Fauziah Fauzan El Muhammady, menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pemerintah atas penghargaan tersebut.

"Kita ucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia, khususnya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah memberikan anugerah ini," ujarnya.

Mengapa Rahmah El Yunusiyah Dianggap Layak Menjadi Pahlawan Nasional?

Menurut Fauziah, pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah merupakan bentuk penghargaan tertinggi negara atas jasa luar biasa dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia.

Sosok Rahmah dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pejuang kemerdekaan yang menginspirasi generasi perempuan Muslim hingga kini.

Rahmah El Yunusiyah mendirikan Perguruan Diniyah Puteri di Padang Panjang pada 1 November 1923, sebuah lembaga pendidikan modern khusus perempuan yang berperan penting dalam mencetak kader perempuan terdidik.

Dari lembaga inilah muncul tokoh-tokoh besar, salah satunya Rasuna Said, murid pertama Rahmah yang lebih dulu dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

"Semua santri menyambut dengan rasa syukur. Artinya, ada pengakuan atas perjuangan Bunda Rahmah yang bukan hanya tokoh pendidikan, tapi juga tokoh perjuangan kemerdekaan," kata Fauziah, yang kini memimpin Perguruan Diniyah Puteri.

Bagaimana Perjalanan Panjang Pengusulan Gelar Ini?

Fauziah menjelaskan, pengusulan Rahmah El Yunusiyah sebagai Pahlawan Nasional bukan proses singkat. Upaya itu sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto, namun baru terealisasi di masa Presiden Prabowo Subianto.

"Pada masa Presiden B.J. Habibie, Rahmah baru mendapat Bintang Mahaputera Pratama. Lalu di era Presiden SBY, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana. Baru pada masa Presiden Prabowo, Rahmah resmi menjadi Pahlawan Nasional," ujar Fauziah.

Ia menambahkan, keluarga tidak mengetahui pasti mengapa proses ini baru disetujui sekarang, meski sudah diusulkan sejak lama.

Namun, ia menduga hal itu terkait prioritas nama-nama tokoh lain yang juga diusulkan pemerintah.

Apa Saja Kontribusi Rahmah dalam Dunia Pendidikan dan Perjuangan?

Rahmah El Yunusiyah dikenal sebagai pelopor pendidikan Islam modern untuk perempuan di Asia.

Pada usia 23 tahun, ia berhasil mendirikan sekolah agama perempuan pertama di Indonesia yang memberikan kesempatan luas bagi perempuan untuk belajar agama, sosial, dan kepemimpinan.

Selain mendirikan Perguruan Diniyah Puteri, Rahmah juga membentuk Perserikatan Guru-Guru Putri Islam di Bukittinggi dan Taman Bacaan Khuttub Khannah untuk meningkatkan literasi perempuan.

Ia aktif di Serikat Kaum Ibu Sumatera (GKIS) dan turut mendirikan Partai Masyumi di Minangkabau.

Pada masa penjajahan Belanda, Rahmah menghadapi berbagai tekanan. Belanda melarang aktivitas pendidikan nonkurikulum kolonial dan menyita kitab-kitab Islam.

Namun, Rahmah tetap berjuang menjaga eksistensi pendidikan Islam. Setelah masa penjajahan Belanda, perjuangannya berlanjut melawan pendudukan Jepang.

Bagaimana Peran Rahmah dalam Perlawanan terhadap Penjajah?

Selain kiprah di bidang pendidikan, Rahmah juga aktif dalam perjuangan fisik. Ia ikut mendirikan Batalyon Marapi yang menjadi cikal bakal terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Ranah Minang.

Rahmah juga dikenal karena keberaniannya menentang praktik tak manusiawi penjajah. Ia membantu mengembalikan perempuan Minangkabau yang diculik tentara Jepang hingga ke Medan, serta berhasil membubarkan rumah-rumah prostitusi yang didirikan penjajah di wilayah Sumatera.

Fauziah menegaskan, perjuangan Rahmah bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang kemanusiaan dan pembebasan perempuan dari belenggu kolonialisme.

"Perjuangan beliau adalah bukti nyata bahwa perempuan mampu berkontribusi besar bagi bangsa dan agama," ujarnya.

"Kami berharap semangat perjuangan Bunda Rahmah menjadi teladan bagi seluruh perempuan Indonesia, bahwa ilmu dan iman harus berjalan beriringan," tutup Fauziah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.