Sosok Rahmah El Yunusiyah: Sang Syaikhah Indonesia, Pendiri Diniyah Putri yang Kini Jadi Pahlawan Nasional

gelar Pahlawan Nasional, Rahmah El Yunusiyah, gelar pahlawan nasional, rahmah el yunusiyah pahlawan nasional, Sosok Rahmah El Yunusiyah: Sang Syaikhah Indonesia, Pendiri Diniyah Putri yang Kini Jadi Pahlawan Nasional, Siapa Rahmah El Yunusiyah dan Bagaimana Latar Belakangnya?, Bagaimana Perjuangan Rahmah di Bidang Pendidikan?, Apa Peran Rahmah di Bidang Sosial dan Politik?, Apa Pengakuan yang Diterima Rahmah El Yunusiyah?

Rahmah El Yunusiyah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto dalam upacara di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Senin (10/11/2025).

Penghargaan ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025.

Dalam upacara tersebut, Presiden Prabowo memimpin prosesi mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan.

"Marilah kita sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan, kedaulatan, dan kehormatan bangsa Indonesia," ujar Prabowo.

Rahmah menjadi salah satu dari sepuluh tokoh yang menerima gelar Pahlawan Nasional tahun ini.

Namanya disejajarkan dengan tokoh besar lain seperti Abdurrahman Wahid, Soeharto, Marsinah, dan Syaikhona Kholil Bangkalan.

Namun di antara deretan nama tersebut, Rahmah dikenal sebagai simbol perjuangan perempuan dalam dunia pendidikan dan kesetaraan gender di Indonesia.

Siapa Rahmah El Yunusiyah dan Bagaimana Latar Belakangnya?

Rahmah El Yunusiyah lahir pada 29 Desember 1900 di Bukit Surungan, Kecamatan Padang Panjang Barat, Sumatera Barat.

Ia adalah putri dari Syekh Muhammad Yunus, seorang qadhi atau hakim agama yang juga dikenal sebagai cendekiawan Islam, dan Rafi’ah.

Meski tidak mengenyam pendidikan formal, Rahmah tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai keislaman dan intelektualitas.

Setelah ayahnya wafat, Rahmah belajar dari kakak-kakaknya dan sejumlah ulama besar di Minangkabau, termasuk Haji Abdul Karim Amrullah, ayah dari Buya Hamka.

Ia mahir membaca dan menulis dalam bahasa Arab dan Latin, serta sempat mempelajari kebidanan di rumah sakit setempat.

Pengetahuan dan semangat belajarnya inilah yang menjadi dasar perjuangannya dalam bidang pendidikan perempuan.

Bagaimana Perjuangan Rahmah di Bidang Pendidikan?

Rahmah El Yunusiyah adalah pendiri Diniyah Putri Padang Panjang, sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia yang berdiri pada 1 November 1923.

Saat pertama kali didirikan, jumlah siswanya hanya 71 orang, sebagian besar merupakan ibu muda yang ingin belajar.

Pada masa itu, mendirikan sekolah bagi perempuan bukan perkara mudah. Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi.

Namun Rahmah tetap teguh memperjuangkan cita-citanya. Ia ingin perempuan memperoleh pendidikan yang layak agar mengerti hak dan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat.

Diniyah Putri kemudian berkembang pesat, menjadi lembaga pendidikan yang mencakup berbagai jenjang dan melahirkan banyak perempuan terdidik yang berperan dalam kemajuan bangsa.

Apa Peran Rahmah di Bidang Sosial dan Politik?

Selain berperan dalam pendidikan, Rahmah juga aktif dalam pergerakan sosial, keagamaan, dan politik.

Ia ikut mendirikan Perserikatan Guru-Guru Poetri Islam di Bukittinggi serta aktif dalam pergerakan menentang penindasan penjajah Belanda.

Rahmah juga menjadi ketua panitia penolakan kawin bercatat dan organisasi sekolah liar, serta memimpin rapat umum kaum ibu di Padang Panjang yang membuatnya didenda oleh pemerintah Belanda.

Tak hanya itu, Rahmah mendirikan taman bacaan bernama Khuttub Khannah untuk masyarakat agar perempuan bisa mengakses literasi.

Ia juga menjadi anggota pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (GKIS) Padang Panjang, serta ikut mendirikan Partai Masyumi di Minangkabau.

Pada masa kemerdekaan, Rahmah terpilih menjadi anggota Parlemen (DPR) mewakili Sumatera Tengah pada periode 1955-1958.

Apa Pengakuan yang Diterima Rahmah El Yunusiyah?

Atas perjuangannya memperjuangkan hak-hak perempuan dan memajukan pendidikan Islam, Rahmah El Yunusiyah menerima berbagai penghargaan bergengsi.

Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana.

Pengakuan juga datang dari luar negeri. Pada tahun 1957, Universitas Al-Azhar Mesir menganugerahkan gelar "Syaikhah" kepada Rahmah El Yunusiyah, sebuah gelar kehormatan yang belum pernah diberikan kepada perempuan mana pun sebelumnya.

Gelar tersebut menjadi bukti pengakuan dunia Islam terhadap perjuangan Rahmah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan.

Ia dikenal bukan hanya sebagai tokoh nasional, tetapi juga sebagai pelopor reformasi pendidikan Islam yang menginspirasi banyak generasi.

Rahmah El Yunusiyah wafat di Padang Panjang pada 26 Februari 1969 dalam usia 68 tahun. Warisan perjuangannya terus hidup melalui lembaga Diniyah Putri yang masih beroperasi hingga kini dan menjadi salah satu institusi pendidikan Islam perempuan terkemuka di Indonesia.

Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Rahmah El Yunusiyah, Tokoh Emansipasi Wanita dari Padang Panjang".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.