Kisah Marthen Indey, dari Polisi Kolonial hingga Pahlawan Nasional Papua

Marthen Indey, hari pahlawan, Pahlawan Nasional Papua, pahlawan nasional papua adalah, pahlawan dari papua, pahlawan dari papua adalah, Kisah Marthen Indey, dari Polisi Kolonial hingga Pahlawan Nasional Papua, Dari Polisi Belanda Menjadi Pejuang Papua Merdeka, Bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka, Diburu dan Ditahan oleh Belanda, Menolak Kekuasaan Belanda, Menyuarakan Kesetiaan Papua pada NKRI

Nama Marthen Indey tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan nasional dari Papua yang berjuang keras menyatukan Irian Barat (kini Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lahir di Doromena, Papua, pada 14 Maret 1912, Marthen Indey awalnya merupakan seorang polisi Belanda.

Namun, semangat nasionalismenya tumbuh ketika ia bertugas menjaga para tahanan politik di Boven Digoel dan bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan seperti Sugoro Atmoprasojo. Pertemuan itu menjadi titik balik dalam hidupnya yakni dari abdi kolonial menjadi pejuang kemerdekaan.

“Dari sanalah cara berpikirnya berubah dan menumbuhkan jiwa nasionalisme,” tulis catatan perjuangan Marthen Indey.

Dari Polisi Belanda Menjadi Pejuang Papua Merdeka

Dikutip dari buku "Tokoh dan Pahlawanku dari Papua", meski berulang kali mengalami kegagalan, semangat juang Marthen Indey tak pernah padam.

Bersama sekitar 30 anak buahnya, ia sempat merencanakan penangkapan aparat pemerintah Belanda di Digul, namun aksi itu gagal.

Lulusan Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat ini tak gentar menghadapi tekanan dan kekalahan. Ia terus menolak tunduk pada kekuasaan penjajah.

Ketika pasukan Jepang menyerang Papua, Belanda melarikan diri ke Australia, termasuk Marthen Indey yang saat itu masih bertugas sebagai polisi kolonial.

Setelah tiga tahun di pengungsian, pada 1944 ia kembali ke tanah air dan ditunjuk oleh pihak Sekutu untuk melatih anggota Batalyon Papua guna menghadapi pasukan Jepang.

Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Kepala Distrik Arso, Yamal, dan Waris. Namun jabatan itu tak membuatnya diam.

Ia tetap berhubungan dengan para pejuang Indonesia yang pernah menjadi tahanan di Digul.

Bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka

Pada 1946, Marthen Indey bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian berubah menjadi Partai Indonesia Merdeka (PIM).

Sebagai ketua, ia bersama beberapa kepala suku Papua seperti Corinus Crey dan Nicolas Youwe mengirim telegram protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.J. Van Mook pada 12 Desember 1946.

Isi telegram itu jelas: menolak rencana Belanda memisahkan Irian Barat dari wilayah Indonesia.

Tindakan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap hasil Konferensi Denpasar (20–24 Desember 1946) yang tidak melibatkan wakil dari Irian Barat.

Indey juga menyerukan kepada anggota militer non-Belanda agar melawan upaya kolonialisme di tanah Papua.

Diburu dan Ditahan oleh Belanda

Marthen Indey, hari pahlawan, Pahlawan Nasional Papua, pahlawan nasional papua adalah, pahlawan dari papua, pahlawan dari papua adalah, Kisah Marthen Indey, dari Polisi Kolonial hingga Pahlawan Nasional Papua, Dari Polisi Belanda Menjadi Pejuang Papua Merdeka, Bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka, Diburu dan Ditahan oleh Belanda, Menolak Kekuasaan Belanda, Menyuarakan Kesetiaan Papua pada NKRI

Marthen Indey

Keberaniannya membuat Indey diawasi ketat oleh pemerintah kolonial.

Saat mendapat kesempatan cuti ke Ambon, ia justru memanfaatkannya untuk menggalang dukungan.

Pada 25 Februari 1947, Marthen Indey bertemu Presiden Negara Indonesia Timur (NIT) Tjokorde Gde Rake Sukawati di Ambon dan mendesak agar Irian Barat tetap dipertahankan sebagai bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS).

Namun, tindakannya dianggap pemberontakan. Marthen Indey akhirnya ditangkap dan ditahan selama tiga tahun di Boven Digoel bersama tahanan politik lainnya.

Setelah bebas pada 1950, semangatnya tak surut. Ia terus berjuang menjalin kontak dengan kelompok pro-Indonesia di bawah tanah yang menolak dominasi Belanda di Papua.

Menolak Kekuasaan Belanda

Pada 15–16 Agustus 1962, saat operasi militer Indonesia dilakukan untuk merebut Irian Barat, Marthen Indey bergerilya di Teluk Tanah Merah.

Ia menyelamatkan sembilan dari lima belas anggota RPKAD (kini Kopassus) yang terkepung oleh pasukan Belanda, dan menyembunyikan mereka di rumahnya di Dosay hingga September 1962.

Keberanian itu menjadi bukti nyata keberpihakannya pada perjuangan kemerdekaan.

Ketika perwira polisi Belanda menuntut kesetiaan, Marthen Indey menolak tegas.

“Belanda sudah tak berkuasa lagi atas Irian Barat karena Perjanjian New York telah ditandatangani oleh Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962,” tegasnya.

Berkat tindakannya, pasukan RPKAD yang selamat akhirnya bisa dipulangkan ke Jakarta.

Pada bulan September 1962, ia mendapat tugas langsung dari Menteri Luar Negeri Soebandrio untuk membebaskan para pejuang yang ditahan, termasuk Sujarwo Tjondronegoro dan K.J. Teppy.

Menyuarakan Kesetiaan Papua pada NKRI

Masih di tahun yang sama, Marthen Indey menyampaikan Piagam Kota Baru, yang berisi tekad rakyat Papua untuk tetap menjadi bagian dari NKRI.

Desember 1962, ia bersama E.Y. Bonay dikirim ke New York untuk mendesak PBB agar mempercepat masa transisi UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) dan segera memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Indonesia.

Setelah Papua resmi bergabung dengan Indonesia, Marthen Indey diangkat sebagai anggota MPRS (1963–1968). Ia juga menjabat sebagai Kontrolir pada Residen Jayapura dengan pangkat Mayor Tituler selama 20 tahun.

Marthen Indey wafat di kampung halamannya, Doromena, pada 17 Juli 1986 dalam usia 74 tahun.

Namun jasa dan semangat nasionalismenya tetap dikenang sebagai teladan bagi generasi Papua dan seluruh bangsa Indonesia.

Melalui perjuangannya, ia membuktikan bahwa cinta tanah air dan keberanian melawan penjajahan tidak mengenal batas etnis maupun asal daerah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.