Fenomena ‘Great Freeze’ Hantam AS, Pengangguran Tinggi dan Lowongan Kerja Hampir Habis Gara-gara AI

Ilustrasi Ekonomi Amerika Serikat
Ilustrasi Ekonomi Amerika Serikat

 Pasar tenaga kerja Amerika Serikat saat ini terlihat stabil dari permukaan. Tingkat pengangguran tercatat 4,3 persen, sementara pengeluaran konsumen tetap solid. 

Di mata banyak orang, ini adalah tanda ekonomi yang sehat dan berdaya tahan tinggi. Namun, Federal Reserve (The Fed) menyoroti bahwa di balik angka-angka tersebut, terdapat perlambatan yang cukup signifikan. 

Ketua The Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers mengungkapkan gambaran pasar kerja yang jauh dari ideal. Menurutnya, ketika data disesuaikan dengan perhitungan yang lebih realistis, maka hasilnya adalah penciptaan lapangan kerja yang hampir nol. 

Powell menekankan bahwa sebagian perlambatan ini berasal dari fenomena yang kini semakin terlihat, yaitu kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini memungkinkan perusahaan melakukan lebih banyak produktivitas dengan tenaga manusia yang lebih sedikit. 

Powell juga menyoroti bahwa sejumlah perusahaan besar baru-baru ini mengumumkan pemutusan hubungan kerja atau penghentian perekrutan, dengan banyak di antaranya secara eksplisit menyebut AI sebagai alasan. 

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menjawab pertanyaan wartawan

“Seringkali mereka membicarakan AI dan apa yang bisa dilakukannya,” kata Powell, sebagaimana dikutip dari Fortune, Jumat, 31 Oktober 2025. 

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan besar memberi sinyal mereka tidak akan menambah jumlah karyawan dalam beberapa tahun mendatang, dan The Fed memantau tren ini dengan sangat hati-hati.

Minggu ini, Amazon menjadi sorotan setelah mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 14.000 manajer menengah, sekitar 4 persen dari pekerja kantoran, dalam upaya. Langkah ini merupakan bagian dari mengurangi lapisan organisasi.

PHK ini terjadi di tengah investasi besar perusahaan terhadap teknologi AI. Target, Paramount, dan sejumlah perusahaan besar lain pun melakukan langkah serupa. 

Berdasarkan laporan Challenger, Gray & Christmas, hingga saat ini perusahaan-perusahaan di AS telah mengumumkan hampir 946.000 PHK, angka tertinggi sejak 2020, dengan lebih dari 17.000 di antaranya secara langsung terkait AI, dan 20.000 lainnya terkait otomatisasi.

Fenomena ini mendorong beberapa ekonom untuk menciptakan istilah baru, yaitu 'Great Freeze', yang menggambarkan kondisi pasar kerja yang suram. Powell mencatat, saat ini yang terjadi adalah penciptaan lapangan kerja sangat rendah, dan tingkat menemukan pekerjaan bagi pengangguran juga sangat rendah. 

Pengangguran di kalangan lulusan baru universitas kini melebihi 5 persen, sementara AI mengancam pekerjaan kantoran tingkat awal. Hal ini mendorong banyak pekerja Gen Z untuk mempertimbangkan melanjutkan pendidikan sebagai strategi sementara, menghindari masuk ke pasar kerja yang semakin kompetitif dan terotomatisasi.

Ketidakseimbangan antara investasi yang kuat dan perekrutan yang lemah kini menjadi pusat perhatian dalam pengambilan kebijakan The Fed. Powell menjelaskan, ekonomi AS semakin menyerupai pola K-shape, di mana rumah tangga berpendapatan tinggi dan perusahaan besar mendapat manfaat dari pasar saham yang kuat dan produktivitas berbasis AI, sementara konsumen berpendapatan rendah menahan pengeluaran.

Anecdotal reports dari peritel besar menunjukkan fenomena “ekonomi terbelah,” di mana konsumen kaya tetap membelanjakan uangnya, sementara mereka di tingkat bawah beralih ke produk yang lebih murah. “Konsumen di tingkat bawah berjuang dan membeli lebih sedikit, serta beralih ke produk berbiaya lebih rendah,” kata Powell. 

Situasi ini menimbulkan dilema bagi The Fed. Di satu sisi, AI dan otomatisasi meningkatkan output dan produktivitas, namun di sisi lain mereka membuat perusahaan dapat melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit tenaga kerja, sehingga pasar tenaga kerja tetap lembek meski pertumbuhan GDP positif. 

“Tidak ada jalur kebijakan yang bebas risiko. Kami menavigasi ketegangan antara tujuan ketenagakerjaan dan inflasi sebaik mungkin,” ujarnya.