Jelang Putaran Kedua Negosiasi, AS Ancam Hantam Pembangkit Listrik Iran

Menhan AS, Pete Hegseth
Menhan AS, Pete Hegseth

Menjelang perundingan putaran kedua dengan Iran, Amerika Serikat kembali melontarkan ancaman. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan bahwa militer Amerika Serikat siap menyerang pembangkit listrik dan sektor energi Iran jika mendapat perintah.

Hegseth juga mengingatkan Iran agar mengambil keputusan dengan bijak jelang negosiasi putaran kedua dengan AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami sedang mempersiapkan diri dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya, dan intelijen yang lebih baik. Kami sudah siap menargetkan infrastruktur vital yang memiliki fungsi ganda, pembangkit listrik yang tersisa, serta industri energi mereka. Tapi kami sebenarnya tidak ingin sampai harus melakukannya,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon Kamis waktu setempat seperti dikutip dari laman Reuters, Jumat 17 April 2026.

Sementara itu, Rabu kemarin pemerintahan Trump sudah menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran akan tercapai. Namun di satu sisi, AS juga memperingatkan Iran akan meningkatkan tekanan ekonomi jika negara menolak untuk sepakat.

Salah satu langkah yang sudah dilakukan AS adalah blokade Iran sejak awal pekan ini. Militer AS dilaporkan memaksa 14 kapal untuk berbalik arah. Puluhan kapal perang dan pesawat militer, dengan sekitar 10.000 personel, dikerahkan untuk menegakkan blokade tersebut.

Trump berharap tekanan ini bisa memaksa Iran menerima syarat-syarat Amerika untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari oleh AS dan Israel. Salah satu syaratnya adalah pembukaan Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia. Trump juga menyebut hal itu sebagai bagian dari syarat gencatan senjata yang akan berakhir pekan depan.

Perang ini sendiri telah menyebabkan gangguan terbesar dalam sejarah pasokan minyak dan gas global.

Sejumlah analis menilai Iran masih mampu bertahan meski ekspor minyaknya berhenti total hingga sekitar dua bulan, sebelum akhirnya harus mengurangi produksi.

Hegseth kembali menegaskan kepada pemerintah Iran bahwa blokade ini adalah cara yang paling sopan untuk menyelesaikan situasi.

SIAP LANJUTKAN OPERASI MILITER

Sementara itu, terkait operasi militr di Timur Tengah,  Kepala Komando Pusat AS (US Central Commad), Laksamana Brad Cooper mengatakan bahwa saat ini militer AS sedang menyesuaikan taktik dan prosedur, meski ia tidak membeberkan rinciannya.

Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Dan Caine, Ketua Gabungan Kepala Staf Militer AS, menambahkan bahwa pasukan Amerika siap melanjutkan operasi tempur besar kapan saja, bahkan dalam hitungan detik.

Caine juga menyebut bahwa Angkatan Laut AS akan mengejar setiap kapal berbendera Iran atau kapal yang dicurigai memberi dukungan material kepada Iran. Operasi itu tidak hanya bisa terjadi di kawasan Timur Tengah, tetapi juga hingga kawasan Indo-Pasifik.

Kapal yang mencoba menerobos blokade akan dihentikan dan diperingatkan yang mana jika tidak mematuhi, maka kekuatan militer akan digunakan. Penegakan aturan ini berlaku baik di perairan teritorial Iran maupun di laut internasional, kata Caine.

Hingga saat ini, belum ada kapal yang dilaporkan dibajak atau disergap.

Militer AS juga memperluas cakupan blokade untuk mencakup muatan yang dianggap ilegal. Setiap kapal yang dicurigai menuju wilayah Iran akan dikenai hak pemeriksaan dan penghentian oleh Angkatan Laut AS, menurut pernyataan resmi mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Daftar barang yang dianggap selundupan mencakup senjata, sistem persenjataan, amunisi, material nuklir, produk minyak mentah dan olahan, serta besi, baja, dan aluminium.

Sumber yang dekat dengan pihak Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa Iran membuka kemungkinan agar kapal tetap bisa melintas bebas di sisi Oman dari Selat Hormuz tanpa risiko serangan, jika tercapai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat untuk mencegah konflik kembali pecah.