Mengenal Marsinah, Aktivis Buruh yang Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional 2025
— Nama Marsinah kembali menjadi sorotan publik setelah Kementerian Sosial (Kemensos) mengusulkannya sebagai salah satu dari 40 calon penerima gelar pahlawan nasional tahun 2025.
Usulan tersebut disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Fadli Zon di Jakarta, Kamis (24/10/2025).
“Beberapa nama di antaranya kemarin sudah saya sampaikan ada Presiden Abdurrahman Wahid, ada Presiden Soeharto, juga ada pejuang buruh Marsinah, dan ada beberapa tokoh-tokoh juga dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia,” ujar Gus Ipul.
Marsinah disebut sebagai simbol perjuangan buruh perempuan Indonesia yang berani menentang ketidakadilan di masa Orde Baru.
Namanya mewakili suara kaum pekerja yang tertindas dan hingga kini tetap hidup dalam ingatan publik sebagai ikon keberanian dan kemanusiaan.
Perjalanan Hidup Marsinah
Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, dari keluarga sederhana.
Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya bernama Marsini, dan adiknya, Wijiati. Sejak kecil, Marsinah dikenal rajin, cerdas, dan suka membaca.
Setelah ibunya meninggal saat ia berusia tiga tahun, Marsinah diasuh oleh neneknya, Paerah, yang tinggal di desa bersama paman dan bibi.
hari, ia membantu neneknya menjual gabah dan jagung sepulang sekolah.
Marsinah menamatkan pendidikan di SMP Negeri 5 Nganjuk dan SMA Muhammadiyah Nganjuk dengan bantuan pamannya.
Ia sempat bercita-cita menjadi pengacara agar bisa membela orang-orang lemah, namun kondisi ekonomi membuatnya batal melanjutkan kuliah.
Pada 1989, Marsinah merantau ke Surabaya, bekerja di pabrik plastik di kawasan Rungkut, sebelum akhirnya diterima di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik pembuat jam di Porong, Sidoarjo, pada 1990.
Di tempat kerjanya, Marsinah aktif di Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) unit PT CPS dan dikenal sebagai sosok vokal yang berani memperjuangkan hak rekan-rekannya.
Mensos Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat menjadi keynote speaker seminar bertajuk ?Marsinah: Perjuangan, Kemanusiaan, dan Pengakuan Negara? di Front One Ratu Hotel, Nganjuk, Jawa Timur, Jumat (10/10/2025)
Perjuangan dan Tragedi
Pada awal Mei 1993, pemerintah mengeluarkan imbauan agar pengusaha menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen.
Namun, PT CPS menolak kebijakan tersebut. Para pekerja pun melakukan aksi mogok kerja yang dipelopori oleh Marsinah dan kawan-kawannya.
Tanggal 2–5 Mei 1993, Marsinah terlibat aktif dalam rapat dan negosiasi dengan pihak perusahaan.
Namun, situasi memanas ketika 13 buruh ditangkap oleh aparat militer dan dipaksa mengundurkan diri.
Marsinah yang menuntut kejelasan atas penangkapan itu pergi ke Kodim Sidoarjo.
Malam itu, 5 Mei 1993, ia menghilang tanpa jejak. Empat hari kemudian, jenazahnya ditemukan di Nganjuk dalam kondisi mengenaskan, tubuh penuh luka dan tanda kekerasan berat.
Hasil autopsi menunjukkan bahwa Marsinah disiksa dan diperkosa sebelum dibunuh pada 8 Mei 1993.
Kasus HAM yang Menggema ke Dunia
Kematian Marsinah memicu kecaman luas dari masyarakat dan dunia internasional.
Kasusnya dianggap sebagai salah satu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Indonesia yang belum terselesaikan hingga kini.
Pemerintah Orde Baru sempat membentuk Tim Terpadu Bakorstanasda Jawa Timur untuk mengusut kasus ini.
Beberapa petinggi PT CPS ditangkap dan disiksa hingga mengaku bersalah, tetapi akhirnya dibebaskan oleh Mahkamah Agung karena bukti yang lemah.
Hingga hari ini, pembunuh Marsinah tidak pernah terungkap.
Simbol Perlawanan dan Keadilan Sosial
Bagi banyak aktivis, Marsinah bukan sekadar korban, tetapi simbol perjuangan buruh dan perempuan Indonesia dalam menuntut keadilan.
Ia memperjuangkan hak-hak dasar buruh, mulai dari upah layak, kebebasan berserikat, hingga perlakuan manusiawi di tempat kerja.
Kisah hidupnya diabadikan dalam berbagai karya sastra, puisi, teater, hingga film dokumenter, termasuk dalam puisi legendaris “Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono.
Atas keberaniannya, Marsinah dianugerahi Penghargaan HAM Yap Thiam Hien dan dikenang setiap 8 Mei sebagai Hari Marsinah.
Marsinah Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Kini, setelah lebih dari tiga dekade sejak kematiannya, Marsinah diusulkan Kemensos menjadi Pahlawan Nasional tahun 2025.
Usulan ini menjadi simbol pengakuan negara terhadap perjuangan buruh dan nilai-nilai kemanusiaan yang ia bela.
Jika disetujui oleh Dewan Gelar dan Presiden, Marsinah akan menjadi aktivis buruh perempuan pertama yang mendapat gelar Pahlawan Nasional dalam sejarah Indonesia modern.
Referensi:
- Menguak Kisah Marsinah. (2020). (n.p.): Tempo Publishing.
- Laporan pendahuluan kasus pembunuhan Marsinah. (1994). Indonesia: Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Tim Pencari Fakta
- Pembunuhan Marsinah. Lubis, T. M. (2005). Jalan panjang hak asasi manusia: catatan Todung Mulya Lubis. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul dan "Lengkap! Ini 40 Calon Pahlawan Nasional yang Diserahkan ke Fadli Zon".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.