Survei Sebut Mayoritas Pekerja Siap Resign Jika Kerja Remote Dilarang, Begini Kata Ahli Karier

Ilustrasi gen z bekerja
Ilustrasi gen z bekerja

 Perubahan dunia kerja pasca-pandemi masih terasa hingga sekarang. Konsep bekerja dari rumah atau remote work telah menjadi prioritas bagi banyak profesional. 

Namun, tren ini menimbulkan tantangan bagi perusahaan yang ingin mengembalikan karyawan ke kantor untuk meningkatkan kolaborasi dan visibilitas. 

Survei terbaru FlexJobs mengungkapkan realitas baru, di mana mayoritas pekerja kini bersiap untuk meninggalkan perusahaan jika mereka dipaksa kembali ke kantor.

Menurut FlexJobs 2025 State of the Workforce Report, 76 persen pekerja Amerika Serikat mengatakan, mereka akan mencari pekerjaan baru jika tidak lagi diperbolehkan bekerja dari rumah, berdasarkan survei terhadap 3.000 profesional. 

Angka ini meningkat hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya, ketika hanya 57 persen pekerja yang mengatakan mereka “pasti” akan mencari pekerjaan lain jika remote work dilarang. 

Ilustrasi kerja dari hobi

Lebih dari itu, dari mereka yang mempertimbangkan pindah, 85 persen menyebut remote work sebagai faktor utama dalam memilih pekerjaan, bahkan lebih penting daripada gaji, tunjangan, dan keseimbangan kerja-hidup.

Popularitas remote work tidak mengherankan, menurut ahli karier FlexJobs, Toni Frana, yang menyebutkan bahwa bekerja dari rumah menawarkan sejumlah manfaat seperti work-life balance lebih besar, fleksibilitas lebih tinggi, dan bahkan penghematan biaya. 

Survei menunjukkan bahwa hanya 2 persen pekerja yang lebih memilih bekerja penuh di kantor, dibandingkan dengan sepenuhnya remote atau hybrid. Namun perusahaan tetap mendorong mandat kembali ke kantor (RTO) dengan alasan memperkuat kolaborasi. 

Bagi karyawan yang menghadapi RTO, Frana menyarankan membuka diskusi konstruktif dengan manajer untuk memahami implikasi kebijakan ini terhadap peran mereka. Ia  mencontohkan beberapa pertanyaan yang bisa diajukan.

"Misalnya, tantangan apa yang ingin kita atasi dengan kembali ke kantor? Bagaimana keberhasilan akan diukur? Apakah ada fleksibilitas yang masih bisa diberikan?” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Kamis, 16 Oktober 2025.

Alternatif lain adalah menyiapkan proposal yang menjelaskan mengapa mereka sebaiknya tetap bekerja remote. Frana menekankan bahwa yang utama adalah menunjukkan hasil kerja.

Tujuannya untuk meyakinkan manajer bahwa karyawan tetap produktif dan efisien meski tidak hadir secara fisik di kantor.

Jika remote work menjadi kebutuhan yang tidak bisa dinegosiasikan, Frana menyarankan untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. “Mungkin saatnya mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan Anda,” ujarnya.

Kondisi kantor Pemprov DKI saat diberlakukan WFH 50 persen.

Kondisi kantor Pemprov DKI saat diberlakukan WFH 50 persen.

Masih banyak perusahaan menawarkan pekerjaan sepenuhnya remote, tetapi persaingannya juga ketat. Ia menekankan pentingnya memperbarui resume, membangun jaringan profesional, dan meneliti perusahaan yang ramah terhadap remote work.

Bagi pekerja yang ingin tetap remote, Frana menambahkan saran untuk proaktif dalam mencari jenis lingkungan kerja dan posisi yang mereka inginkan di masa depan.