Survei Sebut Hanya 19 Persen Keluarga Indonesia Siap Wariskan Harta

ilustrasi kumpul bersama keluarga
ilustrasi kumpul bersama keluarga

 Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan, studi terbaru Sun Life Indonesia mengungkap bahwa masih banyak keluarga di Asia, termasuk Indonesia, yang belum siap mewariskan harta secara terencana. Meski sebagian besar mengutamakan keamanan finansial keluarga, kekhawatiran bahwa kekayaan tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya tetap tinggi.

Survei bertajuk Passing the Torch: Building Lasting Legacies in Asia melibatkan lebih dari 3.000 responden di enam negara yakni Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga di Asia semakin sadar akan pentingnya warisan, baik berupa aset finansial maupun nilai-nilai kehidupan. 

Namun, kesiapan untuk benar-benar menata warisan secara profesional masih tergolong rendah. Sebanyak 70 persen responden menempatkan perlindungan finansial keluarga sebagai prioritas utama dalam perencanaan warisan. 

Prioritas berikutnya adalah memastikan rencana pewarisan yang jelas (53 persen) dan membangun kekayaan yang cukup untuk generasi berikutnya (48 persen). Sebagian besar ingin agar warisan tetap produktif. Sebanyak 59 persen berharap kekayaan yang mereka tinggalkan diinvestasikan untuk pertumbuhan jangka panjang melalui aset finansial, asuransi jiwa, atau bisnis keluarga. 

Jumlah yang sama juga ingin warisan digunakan untuk kebutuhan dasar seperti perumahan dan kesehatan, sementara 56 persen menekankan pada pendidikan anak hingga universitas atau pelatihan kejuruan.

“Kami melihat adanya perubahan cara pandang keluarga terhadap konsep warisan—tidak hanya seputar kekayaan, tetapi juga bagaimana memberikan rasa aman, pendidikan, dan kehidupan yang lebih bermakna bagi generasi berikutnya, " kata Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, sebagaimana dikutip dari keterangannya, Selasa, 4 November 2025.

Ilustrasi orang kaya

"Hasil survei ini menegaskan pentingnya perencanaan proaktif, bimbingan profesional, serta komunikasi terbuka dalam keluarga agar nilai dan aset dapat diwariskan secara berkelanjutan,” ujarnya. 

Hampir dua pertiga (60 persen) responden khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan melewati generasi anak-anak mereka. Lebih dari separuh (55 persen) merasa ahli waris mereka belum memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengelola harta peninggalan. 

Lalu, hanya 31 persen percaya anak-anak mereka akan menjaga dan mengembangkan nilai-nilai keluarga dalam hal pengelolaan kekayaan. Kekhawatiran ini bahkan lebih tinggi di kelompok berpenghasilan tinggi, di mana 28 persen menyebut diri mereka “sangat khawatir” terhadap keberlangsungan kekayaan keluarga. 

Bagi banyak keluarga di Asia, warisan bukan hanya soal harta benda. Sebanyak 41 persen responden ingin meninggalkan warisan dalam bentuk kekayaan finansial, sementara 15 persen ingin meneruskan tradisi keluarga, dan 13 persen berharap meninggalkan pengaruh positif bagi keluarga dan sahabat.

Namun, hanya 31 persen yang yakin anak-anak mereka akan menjaga tradisi keluarga. Perbedaan prioritas antar generasi (58 persen), keterlibatan terbatas (39 persen), salah tafsir terhadap nilai keluarga (30 persen), dan lemahnya ikatan antar generasi (29 persen) disebut sebagai penyebab utama.

"Kini semakin banyak keluarga yang memandang warisan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar peninggalan finansial. Mereka ingin meninggalkan dampak yang berkelanjutan—melalui pendidikan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi generasi berikutnya,” ujarnya. 

Meski kesadaran meningkat, hanya 19 persen responden yang merasa benar-benar siap dengan pengaturan warisan mereka. Angka ini naik menjadi 29 persen di kalangan berpenghasilan tinggi. Hanya 10 persen yang telah menyiapkan dan mengomunikasikan rencana warisan secara lengkap, sementara 45 persen baru memiliki sebagian, dan 31 persen sama sekali belum menyiapkan.

Sebanyak 70 persen responden mengetahui dokumen perencanaan warisan seperti surat wasiat atau perwalian, namun hanya 38 persen yang benar-benar menggunakannya. Begitu pula dengan penasihat keuangan, yang mana 67 persen mengetahuinya, tetapi hanya 36 persen yang pernah berkonsultasi.

“Banyak keluarga yang sudah mulai membicarakan soal warisan, tapi belum benar-benar membuat rencana konkret. Diskusi yang lebih terstruktur dan melibatkan seluruh anggota keluarga penting untuk menghindari konflik dan memastikan warisan dapat diteruskan dengan jelas dan berkelanjutan,” kata Maika. 

Lebih dari separuh responden menganggap literasi finansial sebagai bentuk warisan paling berharga. Sekitar 54 persen telah atau berencana membagikan pengalaman finansial pribadi, 53 persen berdiskusi terbuka soal keuangan, dan 53 persen mengajarkan dasar-dasar pengelolaan uang.

Kebutuhan akan bimbingan profesional juga meningkat, 37 persen telah menggunakan jasa penasihat keuangan, sementara 42 persen lainnya berencana melakukannya. Tren ini paling menonjol pada kelompok berpenghasilan tinggi (58 persen) dan Gen Z (47 persen).

 “Hari ini, banyak keluarga ingin mewariskan lebih dari sekadar harta. Mereka ingin memberikan pengetahuan dan nilai untuk mengelola kekayaan dengan bijak," tukasnya.