Karyawan Siap-siap! Survei Sebut AI Bakal Ubah 89 Persen Pekerjaan di 2026
Dunia kerja sedang berada di persimpangan penting, karena kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan membawa perubahan besar di tahun 2026. Hampir sembilan dari sepuluh pemimpin sumber daya manusia senior memperkirakan AI akan memengaruhi sebagian besar pekerjaan di perusahaan mereka.
Fenomena ini menandai era baru di mana pekerja, terutama generasi muda seperti Gen Z, harus lebih adaptif, menyesuaikan keterampilan, dan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sisi manusiawi mereka.
Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru CNBC Workforce Executive Council. Berdasarkan survei tersebut, hampir 89 persen pemimpin HR senior memperkirakan AI akan memengaruhi pekerjaan pada tahun depan.
Saat ini, lebih dari dua pertiga eksekutif menyatakan bahwa AI sudah berdampak pada pekerjaan mereka, dengan pengaruh berupa otomatisasi sebagian besar tugas atau perubahan cara kerja sehari-hari.
Ilustrasi Stres Kerja di Hari Senin
Beberapa perusahaan bahkan mulai memprioritaskan perekrutan berbasis keterampilan yang didukung AI daripada perekrutan tradisional yang hanya mengacu pada gelar. “Kami memperkirakan akan ada lebih banyak perekrutan berbasis keterampilan yang didukung AI, bukan hanya berbasis gelar tradisional,” ungkap anggota Dewan Eksekutif CNBC, sebagaimana dikutip pada Senin, 17 November 2025.
Namun, walaupun AI akan mengubah pekerjaan, pengurangan tenaga kerja yang terjadi bukan karena efisiensi dari AI. Survei menunjukkan bahwa alasan utama perusahaan memangkas jumlah karyawan adalah kebutuhan umum untuk menekan biaya, bukan karena penghematan dari otomatisasi.
Sekitar 38 persen pemimpin HR mengatakan perusahaan mereka akan mempertahankan jumlah karyawan saat ini selama 12 bulan ke depan, sementara 29 persen memperkirakan penambahan atau pengurangan jumlah karyawan.
Meski begitu, AI juga membawa dampak positif. Sebanyak 61 persen pemimpin HR menyatakan AI membuat perusahaan lebih efisien, dan 78 persen mengatakan AI mendorong inovasi di tempat kerja.
Penelitian dari London School of Economics menemukan bahwa pekerja yang memanfaatkan AI untuk tugas kerja dapat menghemat rata-rata 7,5 jam per minggu. Transformasi ini bahkan berpotensi mempersingkat jam kerja dan meningkatkan produktivitas, sekaligus memberi ruang bagi pekerja untuk fokus pada hal-hal kreatif dan strategis.
Sementara itu, laporan dari situs karier Indeed menyebutkan bahwa sekitar 26 persen pekerjaan yang dipasang selama setahun terakhir diprediksi akan mengalami transformasi radikal akibat AI. Para pemimpin HR menekankan bahwa AI bukan sekadar pengganti manusia, melainkan alat untuk mempercepat pengalaman manusia dan meningkatkan kualitas kerja.
“Ini adalah kesempatan untuk mempercepat pengalaman manusia, bukan menggantikannya,” ungkapnya.
Bagi Gen Z dan profesional muda, tren ini menjadi pengingat pentingnya keterampilan adaptasi, literasi digital, dan kemampuan berkolaborasi dengan teknologi. Mereka yang mampu memadukan kreativitas manusia dengan efisiensi AI akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar kerja 2026.