Bisakah Hubungan Diperbaiki Setelah Disakiti?
Pasangan ketahuan berbohong, selingkuh, atau mengingkari janji. Rasanya seperti dunia runtuh, bukan?
Di usia 20-an akhir hingga 30-an, banyak orang mulai serius membangun hubungan jangka panjang. Itu sebabnya, ketika kepercayaan yang jadi fondasi utama justru runtuh, rasanya tak hanya menyakitkan tapi juga membingungkan: harus bertahan atau melepaskan?
Menurut terapis hubungan Neha Prabhu, LMFT, proses memperbaiki kepercayaan tidak pernah instan.
“Kepercayaan seringkali tidak dapat dibangun kembali dalam semalam, hanya dengan satu percakapan atau satu permintaan maaf,” jelasnya seperti dikutip dari USA Today.
Ia menggambarkan kepercayaan seperti dinding bata: sekali runtuh, hanya bisa dibangun kembali sedikit demi sedikit melalui percakapan jujur, tindakan nyata, dan pengakuan dari pihak yang bersalah.
Cara membangun lagi rasa saling percaya
Bagi kamu yang sedang berada di fase ini, ada beberapa langkah yang bisa jadi pegangan.
Pertama, pasangan yang terluka perlu berani mengungkapkan rasa sakitnya, tanpa ditahan. Di sisi lain, pasangan yang bersalah harus mau mendengarkan, mengakui kesalahan, dan memvalidasi perasaan yang muncul. Tanpa ini, hubungan akan terasa seperti jalan dua arah yang buntu.
Mengucapkan "Maaf aku menyakitimu" mungkin tidak akan cukup, terutama tergantung pada seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan.
"Agar luka sembuh, luka tersebut perlu dibersihkan dengan benar, yang memang menyakitkan tetapi perlu, alih-alih hanya menutupinya dengan plester. Saya sering mendorong melakukan percakapan tentang bagaimana kita sampai pada titik ini terkait dengan tindakan pasangan menyakiti," katanya.
Dengan membahas "bagaimana kita sampai pada titik ini", pasangan A (yang terluka) mungkin menyadari bahwa tindakan pasangan B (yang menyakiti) "tidak disengaja atau berawal dari niat jahat."
"Sebaliknya, hal itu sering kali disebabkan oleh kesalahpahaman, harapan yang tidak diungkapkan, atau keputusan yang dibuat karena rasa takut atau cemas," kata Prabhu.
Meskipun itu tidak membenarkan perilaku mereka, tapi membantu dalam mencari cara untuk memperbaiki situasi ke depannya.
Kedua pasangan perlu menyadari perasaan masing-masing terhadap situasi tersebut dan bagaimana emosi mereka dapat memengaruhi upaya penyembuhan dan pengampunan.
"Penting bagi pasangan B untuk memperhatikan dan mengelola sikap defensif yang mungkin muncul dalam situasi ini karena fokusnya adalah mendengarkan dan memahami pengalaman pasangan A," kata Prabhu.
Membangun kembali kepercayaan tidak selalu mungkin, atau tentu saja merupakan keputusan yang tepat. Tanyakan pada diri sendiri apakah pasangan benar-benar berubah? Apakah Anda masih bisa merasa aman bersama mereka? Jawabannya ada pada keseharian, bukan hanya kata-kata manis.
Dalam beberapa kasus, rusaknya kepercayaan merupakan sinyal bahwa hubungan tersebut tidak tepat, atau tidak sepadan dengan rasa sakit yang ditimbulkannya.
Kadang, tanda bahwa sudah waktunya menyerah justru muncul ketika usaha memperbaiki hanya datang dari satu pihak.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.