Turtle World Day 2025, Jagat Satwa Nusantara Ajak Pengunjung Sayangi Kura-kura

Lembaga konservasi eksitu Jagat Satwa Nusantara mengajak para pengunjung mengenal kura-kura sebagai hewan peliharaan maupun konservasi, lewat acara edukasi bertajuk "Lindungi Tempurung Nusantara".
Acara ini digelar bertepatan dengan Hari Kura-kura dan Penyu (Turtle World Day) sedunia yang jatuh pada 23 Mei 2025. Dokter hewan Yulyana Dewi, menyoroti pentingnya konservasi kura-kura, terutama untuk jenis yang dilindungi.
"Ada beberapa jenis kura-kura yang hanya diperuntukkan untuk lembaga konservasi, kebun binatang, dan lembaga-lembaga serupa," kata Yulyana dalam acara bincang-bincang Turtle Day 2025 di Museum Komodo Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (24/5/2025).
Ia menyebut jenis kura-kura flying river tortoise atau kura-kura moncong babi yang termasuk daftar satwa dilindungi.
Selain jumlah kura-kura moncong babi yang sudah tidak banyak, jenis kura-kura ini juga tidak mudah dipelihara di rumah.
Kura-kura flying river tortoise membutuhkan tempat luas untuk berenang dan rentan terkena penyakit pada kulit bila kualitas air tidak dijaga dengan baik.
Mengingat jenis kura-kura dilindungi hanya bisa ditemukan di kebun binatang, Yulyana juga menekankan cara berinteraksi pengunjung kebun binatang dengan kura-kura, yang kerap dianggap sepele.
Kura-kura memang memiliki tempurung sebagai pertahanan diri, tetapi bukan berarti bagian terluar ini boleh dipegang bahkan diketuk sesuka hati.
"Semua tempurung kura-kura terhubung dengan sistem peredaran darah dan saraf, jadi mereka bisa merasakan sakit," ungkap dia.
Kura-kura di Museum Komodo, Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Kura-kura merasakan nyaman saat tempurungnya disentuh oleh manusia, tetapi bisa berubah menjadi rasa sakit bila santuhannya terlalu kuat.
"Jangan sampai menjatuhkan kura-kura atau memegang dengan kasar karena mereka akan merasakan tekanan pada bagian-bagian tubuhnya dan mengakibatkan stres," saran Yulyana.
Jagat Satwa Nusantara sendiri menyediakan kegiatan edukasi kura-kura melalui Turtle Feeding di Zona Testudines, Museum Komodo.
Aktivitas memberi makan kura-kura ini tersedia setiap hari untuk semua pengunjung, dipandu oleh penjaga satwa (animal keeper).
Peran kura-kura di ekosistem
Bukan sekadar menggemaskan, kura-kura dan penyu juga memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Kedua reptil ini bermanfaat menyuburkan terumbu karang, mengendalikan populasi ubur-ubur, dan menyebarkan benih tumbuhan di daratan.
Bila kehilangan kura-kura dan penyu, berarti manusia turut kehilangan keseimbangan alam.
"Kita harus terus meningkatkan kesadaran konservasi dan kesadaran untuk pemeliharaan hewan. Bukan hanya untuk kura-kura, tetapi semua hewan," pungkas Yulyana.
Dokter hewan sekaligus praktisi Reptile Medicine & Surgery, Yulyana Dewi, dalam acara bincang-bincang Turtle Day 2025 di Museum Komodo Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (24/5/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Yulyana juga meluncurkan buku "A-Z Tortoises and Turtles" (edisi kedua) sebagai panduan mengenal kura-kura.
Buku ini berisi jenis kura-kura langka, cara memelihara kura-kura, hingga cara mengatasi gangguan kesehatan pada kura-kura dan pengobatannya secara umum.
Buku "A-Z Tortoises and Turtles" (edisi kedua) dijual seharga Rp 285.000 khusus pre-order dan Rp 350.000 untuk harga normal.