EKSKLUSIF, Wawancara dengan Regional Vice President Marriott International Ramesh Jackson

Marriott International telah membuka beragam properti hotel dan hunian di Indonesia, antara lain The St. Regis Jakarta, Batam Marriot Hotel Harbour Bay, Four Points by Sheraton Bandung, dan Fairfield by Marriott Belitung.
Tahun ini, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat ini akan membuka properti baru, salah satunya di Pulau Nirup di Batam, Kepulauan Riau, yang jaraknya dekat dengan Singapura.
Kompas.com berbincang dengan Regional Vice President- Indonesia & Malaysia at Marriott International, Ramesh Jackson, Rabu (19/3/2025), di The St. Regis Jakarta terkait Pulau Nirup dan dampak efisiensi anggaran pemerintah terhadap industri perhotelan.
Berikut wawancara selengkapnya, disajikan secara verbatim.
Kompas.com: Indonesia memasuki era bonus demografi dan akan ada banyak generasi di dalamnya, termasuk generasi Z. Bagaimana cara Marriott International dan properti di dalamnya untuk tetap relevan ke generasi muda di Indonesia? Apalagi generasi Z memiliki kebiasaan bepergian dan menginap yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Jackson: Saya akan membahas bagian itu (bonus demografi) terlebih dahulu, lalu saya akan membahas bagaimana kebiasaan perjalanan generasi Z. Saya rasa Anda benar sekali. Memang sudah seperti itu dan saya pikir kita melihat semakin banyak perjalanan multi-generasi.
Sebagai contoh, salah satu permintaan terbesar saat ini adalah untuk kamar keluarga. Jadi di banyak hotel saat ini, kami mulai menyediakannya. Kami mulai memiliki kamar keluarga.
Kamar keluarga berarti kamar yang sedikit lebih besar dan memiliki tempat tidur susun. Jadi jika Anda bepergian, banyak orang saat ini - mulai tidak hanya suami dan istri, tetapi suami dan istri dan beberapa anak. Kemudian jika Anda memiliki tempat tidur susun dan kamar penghubung maka orangtua bisa tinggal di satu kamar, Anda dan anak-anak Anda bisa tinggal di satu kamar (lainnya). Jadi kami melihat bahwa perjalanan multi-generasi meningkat.
Faktanya, saat ini di resor-resor di Bali dan lainnya, kategori kamar pertama yang terjual habis adalah kamar keluarga.
Dalam hal generasi Z, apa yang mereka cari, jadi Marriott Bonvoy (program loyalitas dari Marriott International) melakukan survei besar tahun lalu. Apa yang kami temukan sangat menarik. Generasi baru ini masih sangat ingin tetap setia pada sebuah brand (merek). Mereka menyukai kesederhanaan sebagai bagian dari program perjalanan, seperti Marriott Bonvoy kami.
Sebagai contoh, saat ini kami memiliki tiga juta anggota Marriott Bonvoy di Indonesia saja. Tahun lalu, 77 persen tamu yang menginap di hotel kami adalah anggota Marriott Bonvoy. Jadi tiga juta orang ini, mereka multi-generasi. Mereka termasuk generasi muda.
Dan karena brand kami mencakup mulai dari Fairfield, Moxy, yang merupakan produk dengan harga lebih rendah, hingga The St. Regis, Ritz-Carlton Reserve, Bulgari, Anda bisa melihat bahwa generasi muda yang merupakan generasi Z, generasi milenial, adalah mereka yang baru saja bekerja, tapi mungkin mereka tidak mampu untuk tinggal di The St. Regis. Tapi coba tebak, mereka pasti bisa tinggal di Moxy atau Fairfield. Jadi mereka mulai menjadi bagian dari ekosistem Marriott Bonvoy di awal karir mereka.
Kompas.com: Berapa properti Marriott International yang akan dibuka di Indonesia tahun ini?
Jackson: Di Indonesia, kami memiliki 77 hotel. Kami akan membuka tujuh hotel lagi tahun ini.
The Westin Nirup Island Resort & Spa.
Kompas.com: Untuk brand apa saja?
Jackson: Brand yang berbeda. Yang menarik adalah (dari) dua hotel yang akan kami buka akan menjadi yang pertama dari perspektif destinasi. Jadi kami akan membuka (The) Westin di Pulau Nirup, itu akan menjadi yang pertama. Pulau Nirup berada di antara Batam dan Singapura, sangat dekat dengan Singapura. Pertama kali kami akan membuka hotel di (Pulau) Nirup.
Kedua, kami akan membuka hotel kedua kami di Kalimantan yaitu di Pontianak. Jadi kami akan membuka Four Points (by Sheraton) di Pontianak, yang akan menjadi yang pertama di kota tersebut.
Kami memiliki dua hotel yang akan dibuka di Bekasi. Kami akan membuka Four Points (by Sheraton) dan Fairfield by Marriott di Bekasi. Kami (akan) memiliki Aloft Kebon Jeruk, kami juga memiliki Aloft di Surabaya, dan kami juga akan membuka Fairfield di Ngurah Rai di Bali.
Kami akan membuka Farfield di Bekasi pada 18 April (2025). Tapi semuanya akan dibuka sekitar Oktober, November.
Kompas.com: Marriott International akan membuka properti baru di Pulau Nirup. Apa menargetkan wisatawan Singapura?
Jackson: Ya, tentu saja. Sebenarnya saya pikir lebih mudah bagi warga Singapura untuk sampai ke sana daripada warga Indonesia. Secara harfiah, jika Anda naik kapal feri dari sana, saya pikir sekitar 20 menit atau 25 menit, maksimal 30 menit, feri dari Singapura (sampai) ke Nirup. Dari Batam, yang merupakan pelabuhan terdekat dari Indonesia, dibutuhkan waktu 40 menit.
Jadi kami pikir ini akan menjadi destinasi utama untuk MICE (meetings, incentives, conferences, exhibitions) pada hari kerja baik dari Singapura - sampai batas tertentu Malaysia dan Indonesia - dan kemudian pada akhir pekan mungkin akan didominasi oleh warga Singapura. Saya pikir kami akan menggaet orang Indonesia yang akan pergi ke Nirup, tapi tidak terlalu banyak untuk bersantai dan lebih banyak untuk bisnis, untuk MICE.
Kompas.com: Kenapa memilih Pulau Nirup?
Jackson: Karena menurut saya, ini adalah yang pertama. Satu-satunya hotel di pulau itu. Tidak ada hotel lain di pulau itu. Jadi benar-benar seperti Maladewa.
Kompas.com: Dan konsepnya nanti akan seperti resor?
Jackson: Benar-benar sebuah resor yang lengkap. Jika saya tidak salah ingat, setiap kamar memiliki pemandangan laut.
Kompas.com: Sudah ada banyak hotel dan resor di Batam dan Riau. Bagaimana dengan persaingannya?
Jackson: Saya pikir segmen pasarnya akan sedikit berbeda. Jika Anda pergi ke (Pulau) Nirup, Anda akan pergi karena dua alasan. Pertama, MICE. Kedua, liburan.
Batam masih menjadi kota industri, jadi Anda masih memiliki banyak bisnis korporat di Batam. Orang-orang yang datang dan berbisnis di Batam. Anda memiliki pabrik-pabrik di Batam. Ini adalah kawasan industri yang baik.
Saya melihat korporasi di (Pulau) Nirup hanya dalam bentuk MICE. Tidak ada bisnis lain di sana. Jadi saya pikir ini adalah pasar yang sangat berbeda dan harganya juga berbeda.
(Resor) ini akan menjadi sedikit lebih eksklusif. (Pulau) Nirup akan menjadi sedikit lebih eksklusif, sedikit lebih mahal karena ini adalah pulau pribadi. Ini akan menjadi pulau pribadi, jadi begitulah cara kami memasarkannya, sebagai destinasi pribadi.
Kompas.com: Pemerintah Indonesia menerapkan efisiensi anggaran yang pada akhirnya berdampak terhadap industri perhotelan di Indonesia. Bagaimana pandangan Marriott International akan hal ini?
Jackson: Sangat disayangkan. Ini bukan pertanyaan apakah kami akan merasakan dampaknya, tapi kami sedang merasakannya. Hal ini sangat merugikan kami, beberapa hotel dan beberapa destinasi lebih dari yang lain. Namun, hal ini telah berdampak terhadap banyak hotel dan pasar kami di seluruh Indonesia.
Jadi harapannya adalah pemerintah meninjau kembali kebijakan ini dan mudah-mudahan mereka akan mengubahnya agar tidak merugikan industri ini.