Fenomena “Gerakan Kecoa” Ramai di India, Begini Dampaknya bagi Wisatawan
baru ini, India tengah menghadapi aksi protes besar yang dilakukan generasi muda terhadap pemerintah India. Aksi yang berlangsung pada Sabtu (6/5/2026) membuat pusat kota New Dehli dipadati penduduk.
Gerakan bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau "Partai Rakyat Kecoa" berhasil menarik perhatian jutaan anak muda dalam waktu singkat.
Hanya dalam beberapa pekan saja, akun Instagram CJP gerakan ini telah mengumpulkan lebih dari 12.000 pengikut.
Fenomena tersebut terjadi akibat dari meningkatnya frustrasi Gen Z India terhadap sulitnya mencari pekerjaan serta berbagai kontroversi yang belakangan mengguncang sistem pendidikan nasional.
Kemunculan gerakan protes ini tentu berdampak pada sejumlah aspek termasuk kenyamanan turis yang sedang berwisata ke India.
Apa itu gerakan kecoa?
Gerakan ini bermula pada 16 Mei 2026 ketika salah satu hakim tertinggi India, Surya Kant, menuai kontroversi setelah menyebut sebagian anak muda yang menganggur sebagai "parasit" dan "kecoa" dalam sebuah sidang.
Pernyataan tersebut memicu kritik luas di media sosial. Meski kemudian hakim Surya Kant menyatakan ucapannya telah disalahartikan oleh sebagian media, kemarahan publik terlanjur meluas.
Di tengah polemik tersebut, seorang mahasiswa pascasarjana di Amerika Serikat bernama Abhijeet Dipke memutuskan membuat situs parodi bernama Cockroach Janta Party (CJP).
Melalui situs itu, ia menyebut partainya sebagai rumah bagi generasi muda India yang merasa diabaikan, tidak memiliki pekerjaan, dan tidak terwakili oleh politik pemerintah.
Tak disangka, situs tersebut langsung viral dan menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.
Kesuksesan di dunia maya mendorong Dipke mengubah gerakan satir tersebut menjadi tempat aktivisme sosial bagi warga India.
Dampak aksi protes gerakan kecoa terhadap wisatawan
Aksi protes yang dipelopori pendiri Cockroach Janta Party (CJP), Abhijeet Dipke disambut ratusan pendukung di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi pada Sabtu (7/6/2026).
Dilansir Kompas.com dari The Print pada Minggu (7/6/2026) massa mulai berkumpul di Terminal 3 bandara untuk menyambut Dipke yang baru tiba.
Salah seorang pegawai bandara bernama Mithilesh Kumar bahkan mengaku antusias dengan gerakan tersebut dan datang langsung untuk menyambutnya.
Ramainya penyambutan membuat area Terminal 3 mengalami peningkatan jumlah pengunjung dibanding biasanya. Namun, operasional bandara tetap berjalan normal tanpa adanya penutupan terminal maupun pembatalan penerbangan akibat aksi tersebut.
Setelah tiba di New Delhi, Dipke melanjutkan agenda dengan memimpin aksi protes yang digelar di kawasan Jantar Mantar.
Ratusan demonstran terlihat berkumpul di sekitar area tersebut. Untuk mengantisipasi kerumunan, aparat kepolisian memasang barikade sementara di sejumlah ruas jalan di sekitar lokasi aksi.
Bagi wisatawan dan warga lokal yang sedang berada di New Delhi kala itu menyadari bahwa aksi ini tentu menyebabkan kepadatan lalu lintas dan pembatasan akses di beberapa titik dekat area demonstrasi.
Meski demikian, tidak ada laporan gangguan besar terhadap aktivitas pariwisata maupun transportasi umum selama aksi berlangsung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang