Jadi Alarm Bandar Narkoba, Bripka Dedy Eks Brimob Bertugas Pantau Kedatangan Polisi Lewat HT
Alih-alih memburu pelaku kejahatan, seorang anggota Brimob justru diduga ikut menjaga bisnis haram peredaran narkoba. Sosok itu adalah Bripka Dedy Wiratama, eks anggota Brimob yang kini telah dipecat dan tengah menjalani pemeriksaan terkait dugaan keterlibatannya dalam jaringan narkoba di Samarinda, Kalimantan Timur.
Peran yang dijalankan Dedy pun terbilang mengejutkan. Dalam jaringan tersebut, ia disebut bertugas sebagai "sniper". Namun istilah sniper yang dimaksud bukanlah penembak jitu, melainkan pengawas lapangan yang bertugas memantau pergerakan orang-orang mencurigakan, termasuk kemungkinan kedatangan aparat penegak hukum.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan seorang anggota kepolisian yang seharusnya berada di garis depan pemberantasan narkotika. Sebaliknya, ia justru diduga membantu sindikat agar aktivitas peredaran barang haram tetap berjalan aman dari penggerebekan.
Jadi Mata dan Telinga Jaringan Narkoba
Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap peran spesifik yang dijalankan Bripka Dedy di kawasan Gang Langgar, Samarinda Seberang, yang dikenal sebagai salah satu lokasi peredaran narkoba.
Kanit III Subdit IV Dittipidnarkoba Bareskrim Polri, Kompol Drago, menjelaskan bahwa tugas Dedy adalah mengawasi situasi di sekitar lokasi transaksi dan memberikan peringatan jika terdapat orang yang dicurigai sebagai anggota polisi atau petugas yang sedang melakukan penyamaran.
"Untuk peran dari yang bersangkutan sendiri ini sebagai 'sniper'. Yang mana 'sniper' ini tugasnya adalah memberitahu atau mengawasi apabila ada konsumen yang gerak-geriknya mencurigakan, yang diduga mungkin anggota, sehingga bisa menyebabkan penangkapan di daerah Gang Langgar tersebut," ujar Drago, Jumat, 5 Juni 2026.
Dengan kata lain, Dedy diduga menjadi sistem peringatan dini bagi jaringan narkoba agar dapat mengantisipasi operasi penangkapan yang dilakukan aparat.
Gunakan HT untuk Pantau Pergerakan Aparat
Dalam menjalankan tugasnya, Dedy tidak menggunakan senjata api. Ia mengandalkan alat komunikasi berupa handy talky (HT) yang terhubung dengan anggota jaringan lainnya.
Menurut penyidik, sindikat narkoba di Gang Langgar memiliki sistem pengamanan yang cukup rapi dan terorganisasi. Sejumlah pengawas ditempatkan di berbagai titik strategis mulai dari pintu masuk gang hingga lokasi utama transaksi narkotika.
Masing-masing pengawas dibekali HT sehingga informasi dapat disampaikan secara cepat apabila ada situasi yang dianggap mencurigakan.
"Jadi untuk 'sniper' itu dia berdiri atau memposisikan dirinya di dalam Gang Langgar itu dengan ada di beberapa titik, yang mana masing-masing titik itu menggunakan alat komunikasi berupa handy talky," kata Drago.
Sistem komunikasi berlapis tersebut memungkinkan jaringan narkoba memantau setiap aktivitas yang masuk ke kawasan mereka.
"Jadi dari depan gang sampai dengan tempat transaksi narkoba itu, itu semua pegang handy talky," lanjutnya.
Diamankan Saat Sedang Berjaga
Saat operasi dilakukan, Bripka Dedy diketahui sedang berada di salah satu titik pengawasan di kawasan tersebut.
Penyidik menemukan Dedy sedang berjaga di area jalan yang berada di Blok C Gang Langgar.
"Kemarin kalau tidak salah kita temukan yang bersangkutan itu di jalan, kalau nggak salah itu di Blok C," ujar Drago.
Keberadaannya di lokasi saat penggerebekan semakin memperkuat dugaan keterlibatan mantan anggota Brimob tersebut dalam sistem pengamanan jaringan narkoba yang beroperasi di kawasan itu.
Sudah Dipecat dan Pernah Positif Narkoba
Polda Kalimantan Timur telah menjatuhkan sanksi etik berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap Bripka Dedy Wiratama.
Sanksi tersebut diberikan setelah yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran berat yang mencoreng institusi kepolisian.
Tak hanya diduga menjadi bagian dari jaringan narkoba, Dedy juga diketahui pernah mengonsumsi narkotika. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia sempat dinyatakan positif menggunakan narkoba.
"Yang pasti yang bersangkutan ini diketahui pernah mengonsumsi narkoba, positif (urine)," kata Drago.
Saat ini Dedy telah dibawa ke Bareskrim Polri di Jakarta Selatan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait perannya dalam jaringan narkoba Gang Langgar.
Kasus ini menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana seorang aparat yang semestinya memberantas peredaran narkotika justru diduga berperan sebagai pengawas lapangan bagi sindikat. Peran sebagai "sniper" membuatnya menjadi mata dan telinga jaringan, membantu para pelaku mendeteksi ancaman dan menghindari penindakan hukum.