Modus AKP Deky Minta Duit Berkali-Kali ke Bandar: Janji Lindungi Jaringan Narkoba Hingga Buat Sertijab
Fakta baru terus terungkap dalam kasus dugaan keterlibatan mantan Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Barat, Ajun Komisaris Polisi Deky Jonathan Sasiang, dengan jaringan bandar narkoba Ishak di Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Bareskrim Polri mengungkap AKP Deky diduga beberapa kali meminta setoran uang kepada jaringan Ishak dengan berbagai alasan. Mulai dari kebutuhan serah terima jabatan hingga malam pergantian tahun.
Modus itu terungkap usai penyidik menangkap Mery Christine yang disebut sebagai calon istri sekaligus bendahara sindikat narkoba Ishak, serta Marselus Vernandus yang berperan sebagai penghubung antara Ishak dan AKP Deky.
“Marselus Vernandus bahwa yang bersangkutan berperan sebagai penghubung antara AKP Deky dengan Mery untuk diperkenalkan dengan tersangka Ishak, bandar narkoba yang beroperasi di wilayah Kutai Barat Kalimantan Barat,” tutur Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso, Senin, 18 Mei 2026.
Dari hasil pemeriksaan terhadap Marselus, terungkap adanya dugaan skenario penangkapan narkoba yang diminta AKP Deky demi kepentingan rilis akhir tahun.
“Yang meminta Marselus untuk bantu menyampaikan ke Mery agar disampaikan kepada tersangka Ishak untuk memancing saudara Fathur untuk menjual sabu miliknya lebih dari 1 Kg kepada tersangka Ishak agar bisa ditangkap berikut barang buktinya oleh AKP Deky sebagai bahan Rilis Tahunan,” katanya
Tak hanya itu, AKP Deky juga disebut menjanjikan keamanan bagi bisnis haram jaringan Ishak apabila berhasil membantu membuat tangkapan besar tersebut.
“AKP Deky juga menjanjikan bahwa kalau berhasil memberikan tangkapan tersebut akan menjaminkan keamanan jaringan tersangka Ishak untuk beroperasi mengedarkan Narkoba di wilayah Kutai Barat, Kalimantan Timur,” ujarnya.
Sementara berdasarkan pemeriksaan terhadap Mery Christine, terungkap Ishak sempat datang menemui AKP Deky di rumahnya sekitar Oktober atau November 2025 untuk menyerahkan uang tunai.
“Memberikan uang sebesar Rp5.000.000 secara cash untuk bantu memantau bisnis narkoba tersangka Ishak dan Mery supaya tidak ada yang ganggu,” kata dia.
Namun, setoran itu ternyata belum berhenti. Sebulan kemudian, AKP Deky kembali meminta uang kepada jaringan Ishak, kali ini sebesar Rp50 juta dengan dalih kebutuhan serah terima jabatan atau sertijab.
“Setelah satu bulan AKP Deky meminta uang lagi Rp50 juta melalui perantara Marselus untuk disampaikan kepada Mery dengan alasan untuk sertijab (serah terima jabatan),” tutur dia.
“Kemudian Mery diperintah oleh tersangka Ishak untuk memberikan uang tersebut melalui perantara Marselus secara cash," ucapnya.
Menjelang pergantian tahun, permintaan uang kembali muncul. AKP Deky disebut meminta tambahan Rp15 juta dengan alasan kebutuhan malam tahun baru.
“Akhir bulan Desember AKP Deky kembali meminta uang sebanyak Rp15 juta melalui perantara Marselus untuk disampaikan kepada Mery guna malam tahun baru, kemudian Mery diperintahkan tersangka Ishak untuk memberikan uang tersebut melalui perantara Marselus secara cash," katanya.
Sebelumnya diberitakan, aroma keterlibatan aparat dalam bisnis haram narkotika kembali menyeruak. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri kini turun langsung membongkar dugaan hubungan eks Kasat Reserse Narkoba (Kepala Satuan) Polres Kutai Barat, Ajun Komisaris Polisi Deky Jonathan Sasiang, dengan jaringan bandar narkoba besar bernama Ishak di Kalimantan Timur.
Kasus ini mencuat setelah penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menemukan fakta baru dalam pengembangan kasus sindikat narkoba Kutai Barat yang sebelumnya diungkap Polsek Melak.
“Penyidik Dittipidnarkoba Bareskrim Polri mendapatkan fakta baru terkait keterlibatan AKP Deky Jonathan Sasiang,” kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Eko Hadi Santoso, dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Temuan itu membuat Bareskrim mengambil alih penuh penanganan kasus yang menyeret nama bandar Ishak dan kelompoknya. Polisi kini memburu kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam jaringan tersebut.
“Penanganan kasus sindikat bandar narkoba Ishak dan kawan-kawan (sindikat narkoba Kutai Barat) saat ini diambil alih oleh Dittipidnarkoba Bareskrim Polri,” kata dia.