Jaga Pencernaan Anak, Batasi Pangan Olahan dan Gula Tambahan

Jaga Pencernaan Anak, Batasi Pangan Olahan dan Gula Tambahan

Saluran cerna berpengaruh besar pada kesehatan anak, terutama penyerapan nutrisinya. Salah satu faktor penting dari yang perlu dijaga adalah keseimbangan mikrobiota usus, yaitu kumpulan mikroorganisme baik.

Ketidakseimbangan mikrobiota usus sejak dini dapat memicu gangguan pencernaan berulang, yang berpotensi memengaruhi nafsu makan, suasana hati, hingga pertumbuhan anak.

Karenanya orangtua perlu memahami jenis makanan yang perlu dibatasi agar keseimbangan bakteri baik ini tetap terjaga.

Menurut dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, konsumsi makanan olahan dan juga tinggi gula  pada anak harus dibatasi.

"Itu adalah dua musuh utama si bakteri baik. Semakin banyak gula dan semakin banyak ultra-processed food yang masuk ke dalam tubuh anak, itu lumayan mengganggu," jelas dr. Miza dalam acara Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Hindari memberikan ultra-processed food (UPF)

Makanan ultra proses umumnya melewati serangkaian tahapan pengolahan yang sangat panjang. Pembuatan makanan ini biasanya menambahkan berbagai pengawet, perasa, hingga pewarna buatan agar produk bertahan lebih lama di rak toko.

Proses kimiawi tersebut pada akhirnya membuat nutrisi asli bahan pangan hilang secara drastis.

Konsumsi makanan olahan secara berlebihan dapat memicu perubahan di dalam lambung maupun usus anak. Kondisi ini membuat bakteri baik yang bertugas menjaga sistem metabolisme kesulitan untuk bertahan hidup dan berkembang biak.

"Itu yang harus dijagain, selain kita masukin berbagai macam variasi dalam bentuk real food," papar dr. Miza.

Perhatikan batas aman gula harian anak

Selain pangan olahan, asupan manis berlebih juga sebaiknya dihindari. Orangtua perlu menyadari perbedaan mendasar antara gula alami, seperti yang terdapat dalam buah segar atau air susu ibu (ASI), dengan gula tambahan buatan pabrik.

Jaga Pencernaan Anak, Batasi Pangan Olahan dan Gula Tambahan

Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Terlalu banyak mengonsumsi gula tidak sekadar berisiko memicu obesitas dini, melainkan ikut merusak populasi mikroorganisme sehat di saluran pencernaan.

"Batasnya adalah buat anak di atas dua tahun, dia adalah 25 gram sehari. Di bawah umur dua tahun gimana? Sebenarnya ada yang bilang 10 sampai 15 gram," sebut dr. Miza.

Membiasakan balita mengonsumsi kudapan tanpa pemanis tambahan akan membantu membentuk pola makan sehat yang terbawa hingga mereka dewasa.

Dokter bahkan menyarankan agar bayi di bawah usia dua tahun belum diperkenalkan sama sekali dengan pemanis buatan.

Jangan lupakan nutrisi dari makanan utuh

Pola makan sehat perlu dibentuk sejak dini. Ini antara lain dengan membiasakan anak mengonsumsi makanan utuh. 

Sayuran segar maupun potongan buah yang disiapkan langsung di dapur rumah membawa kombinasi vitamin dan mineral kompleks yang tidak ditemukan pada suplemen instan.

Bahan pangan nabati tersebut kaya akan serat alami yang bertindak sebagai prebiotik, yaitu sumber makanan utama bagi probiotik atau bakteri baik usus. Asupan prebiotik yang cukup menjamin proses buang air besar balita berjalan lancar tanpa hambatan.

"Kita cuma perlu memberikan anak dengan real food, karena masing-masing real food di dalamnya itu terkandung jenis-jenis probiotik yang sangat bervariasi," terang dr. Miza.

Usus yang rutin menerima serat utuh terbukti jauh lebih tangguh dalam menangkal berbagai penyakit.

"Serat yang alami itu semakin bagus buat saluran pencernaan kita. Nah serat alami dapatnya dari ya, dari tadi, sayuran atau misalnya buah-buahan," tutup dr. Miza.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang