Jangan Abaikan Bentuk Feses Anak, Bisa Bantu Deteksi Masalah Pencernaan
Mengetahui apakah makanan yang dikonsumsi anak benar-benar diserap oleh tubuh merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua.
Makanan bergizi yang disajikan setiap hari tidak akan memberikan manfaat maksimal jika organ pencernaan balita sedang bermasalah.
Kondisi malabsorpsi atau gagal serap gizi ini tidak boleh dibiarkan, karena berdampak langsung pada terhambatnya tumbuh kembang fisik maupun otak anak.
Di sinilah orangtua perlu lebih teliti memantau kondisi pencernaan buah hati melalui indikator fisik yang paling mudah diamati secara visual, yaitu bentuk feses harian.
"Menurut datanya, anak di bawah empat tahun itu, satu dari lima anak itu, mempunyai masalah pencernaan," papar dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKesdalam acara Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Memantau kesehatan pencernaan melalui feses anak
Waspada bila berat badan balita stagnan
Banyak orangtua merasa tenang ketika melihat anaknya makan dengan lahap dan menghabiskan porsi yang cukup besar.
Padahal, selera makan yang baik belum tentu berbanding lurus dengan kelancaran proses penyerapan zat besi maupun vitamin di dalam tubuh.
"Nanti begitu (makanan) masuk, kalau misal saluran pencernaannya dia bermasalah, penyerapannya menjadi tidak maksimal," terang dr. Miza.
Anak yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi biasanya tidak selalu menunjukkan gejala sakit perut secara langsung.
Indikasi utamanya justru terlihat dari kurva berat badan anak yang stagnan meskipun asupan makannya tergolong banyak.
"Akhirnya yang kayak kelihatan bahwa kayaknya anak makannya banyak, semuanya oke, kok tapi pertumbuhannya enggak bagus ya? Nah itu ternyata gizinya tidak bisa terserap secara sempurna," jelas dr. Miza.
Makanan yang dikonsumsi tersebut pada akhirnya tidak memberikan nilai tambah energi maupun pembentukan sel yang dibutuhkan anak.
"Akhirnya jadi kayak 'numpang lewat' aja gitu," lanjut dia.
Padahal, kekurangan asupan mikronutrien dalam rentang waktu yang lama akan sangat merugikan kecerdasan kognitif buah hati.
Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Mekanisme penyerapan cairan di usus besar
Untuk mengetahui status kesehatan organ pencernaan anak, orangtua bisa melakukan observasi terhadap tekstur kotoran anak.
Proses pembentukan tinja ini terjadi secara intensif di usus besar, organ yang letaknya berada di jalur paling ujung pada sistem pencernaan manusia.
"Usus besar itu adanya dia di paling bawah sebelum masuk ke rektum. Fungsi utamanya di dalam tubuh adalah dia narik cairan," sebut dr. Miza.
Mekanisme penarikan air ini sangat menentukan bagaimana hasil akhir sisa makanan dikeluarkan dari tubuh balita.
Ketika usus besar mengalami peradangan atau kekurangan bakteri baik, proses pengolahan air akan menjadi sangat berantakan dan merusak tekstur feses.
"Jadi, makanya kalau misalnya ada gangguan di prebiotik (serat), ini karena dia di usus besar, dan usus besar gunanya adalah untuk menyerap cairan, yang paling sering adalah gangguannya di feses," ucap dr. Miza.
Pemenuhan serat harian menjadi kunci penting agar fungsi organ bagian bawah ini dapat bekerja memproses sisa makanan dengan normal.
Mengenali tanda diare dan sembelit
Memeriksa konsistensi kotoran balita secara rutin membantu memberikan jawaban mengenai fungsi saluran pencernaan, apakah sedang dalam kondisi optimal atau ada gangguan.
Jika lapisan usus besar gagal menarik air dari sisa makanan yang lewat, feses anak akan keluar dalam bentuk cair alias diare.
Kondisi buang air cair ini perlu diwaspadai karena balita sangat rentan mengalami dehidrasi jika tidak segera ditangani.
Sebaliknya, jika organ cerna tersebut menyerap cairan dalam jumlah yang terlalu banyak, sisa makanan akan mengering dan memadat. Kondisi ini membuat anak kesakitan saat membuang air besar, alias konstipasi atau sembelit.
Menurut dr. Miza, pengetahuan mengenai indikator buang air besar ini sangat berguna bagi perawatan kesehatan harian balita.
Pengamatan yang konsisten dari ayah dan ibu sangat menentukan kecepatan intervensi saat anak mengalami masalah kelancaran gizi.
"Nah ini challenge-nya menarik karena memang orangtua harus menjadi dokter di rumah," pungkas dr. Miza.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang