Cara Batasi YouTube Shorts untuk Cegah Anak Doom Scrolling
Fenomena doom scrolling di platform video pendek menjadi perhatian serius karena algoritma terus menyajikan konten tanpa jeda. Interaksi tanpa henti dengan video singkat diketahui dapat memengaruhi rentang perhatian (attention span) anak.
Sebagai salah satu platform yang menyediakan fitur video pendek, kini YouTube telah memungkinkan para orangtua untuk membatasi akses anak terhadap YouTube Shorts.
Fitur ini bisa dimanfaatkan oleh ayah dan ibu, mengingat sebentar lagi anak sekolah akan memasuki libur panjang saat Lebaran dan kemungkinan besar menghabiskan waktunya di depan layar.
Lantas, bagaimana cara membatasi durasi anak menonton YouTube Shorts? Berikut panduannya, Senin (9/3/2026).
Cara membatasi durasi YouTube Shorts
Buka aplikasi dan profil akun YouTube
Cara membatasi YouTube Shorts.
Pertama, mulailah dengan membuka aplikasi YouTube. Kemudian, klik profil di pojok kanan bawah. Jika sudah memiliki dan masuk ke akun YouTube, profil akan menampilkan tulisan "Anda".
Masuk ke pengaturan
Cara membatasi YouTube Shorts.
Setelah masuk ke profil, klik ikon roda gigi yang berada di pojok kanan atas untuk masuk ke menu "Setelan". Cari pilihan "Manajemen Waktu".
Adapun pilihan tersebut berada di antara pilihan "Bahasa" dan "Notifikasi". Dalam menu "Manajemen Waktu", ada banyak pengaturan seperti "Pengingat" dan "Batas Harian". Dua pengaturan ini penting untuk mencegah anak doom scrolling.
Aktifkan pengaturan "Pengingat"
Cara membatasi YouTube Shorts.
Pada pengaturan "Pengingat", aktifkan "Ingatkan untuk stop menonton". Fungsinya adalah sebagai pengingat agar anak tidak terlalu lama menonton YouTube Shorts, termasuk mengakses YouTube secara umum.
Dalam "Ingatkan untuk stop menonton", ada beberapa pilihan setiap berapa menit atau jam YouTube memberi peringatan. Ada pilihan setiap 30 menit, 45 menit, satu jam, atau durasi kamu bisa sesuaikan sendiri. Menyetel agar YouTube memberi peringatan setiap lima menit pun bisa.
Aktifkan pengaturan "Batas harian"
Cara membatasi YouTube Shorts.
Dalam pengaturan "Batas harian", pilihan yang tersedia hanyalah "Batas feed shorts". Aktifkan untuk membatasi scroll YouTube Shorts.
Pengaturan ini juga menawarkan beberapa pilihan waktu, yakni 15 menit, 30 menit, 45 menit, satu jam, dan dua jam.
Kendati demikian, fitur ini masih memungkinkan anak untuk menonton YouTube Shorts dengan menonton video satu per satu, alih-alih langsung scroll seperti sebelumnya.
Oleh karena itu, Kompas.com menyarankan agar orangtua juga mengaktifkan pengaturan "Ingatkan untuk stop menonton". Durasinya selaraskan dengan pembatasan scrolling YouTube Shorts yang dipilih.
Jadi, anak hanya boleh mengakses YouTube dan YouTube Shorts selama waktu yang telah ditentukan per hari. Misalnya, anak mengakses keduanya selama 30 menit per hari.
Kebiasaan menonton video pendek pengaruhi akademik anak
Kebiasaan menonton video pendek rupanya tidak hanya berdampak pada rentang perhatian anak, tetapi juga nilai akademik mereka.
Pada tahun 2024, Survei Precise Advertiser Report: Kids (PARK) yang dilakukan Precise TV USA menemukan, generasi Alpha menggunakan platform YouTube sebagai tontonan nomor satu di gawai mereka.
Ilustrasi anak main gadget.
Generasi Alpha adalah generasi yang lahir antara tahun 2010 hingga 2024. Penelitian tersebut menyebutkan, rata-rata anak berusia 2-12 tahun menonton YouTube selama 160 menit setiap hari.
Psikolog pendidikan Pratiwi Kusuma Wardhani, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan, akademik dari anak yang menonton video-video pendek di media sosial akan menurun seiring berjalannya waktu.
"Tentu saja berpengaruh signifikan terhadap performa akademik mereka," ungkapnya kepada , Kamis (16/1/2025).
Hal ini didasari oleh berbagai hasil riset yang menunjukkan bahwa salah satu pemicu turunnya prestasi akademik anak adalah berkurangnya kemampuan mereka untuk fokus.
"Ada sejumlah penelitian juga menjelaskan, rentang fokus pada mereka yang menonton video pendek dengan durasi rata-rata 30 menit dalam sehari memiliki rentang fokus yang lebih rendah dibanding mereka yang tidak," papar Pratiwi.
Menurut Pratiwi, hilangnya kemampuan fokus anak akan berdampak langsung pada proses belajarnya di sekolah. Kebiasaan menonton video pendek yang memicu kecanduan gawai cenderung membuat anak menjadi tidak produktif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang