Cara Bedakan Anak GTM karena Picky Eater atau Gangguan Pencernaan

Cara Bedakan Anak GTM karena Picky Eater atau Gangguan Pencernaan

Hampir semua balita pernah mogok makan atau sering disebut dengan gerakan tutup mulut (GTM). Ini bisa membuat orangtua pusing karena khawatir dengan kesehatan si kecil. 

Anak bisa saja GTM karena tekstur makanan yang tidak sesuai, rasa yang menurut mereka aneh, tengah menahan rasa mual atau sakit perut, atau memang tidak suka dengan makanannya.

Kesalahan dalam mendiagnosis alasan mogok makan tersebut akan berujung pada pemilihan solusi yang keliru. Lantas, bagaimana cara membedakan anak yang GTM karena picky eater atau bukan?

Menurut dr.Miza Afrizal Azwir, Sp.A, cara terbaik untuk memastikannya memang perlu pemeriksaan dokter. Namun, ada sejumlah tanda yang bisa membantu orangtua.

"Yang bisa orangtua lihat adalah biasanya kalau penyebab GTM-nya karena saluran pencernaan, anak habis tidak makan, tidak mencari pengganti," paparnya di acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Mendeteksi penyebab GTM melalui observasi perilaku

Observasi reaksi anak

Apa yang anak lakukan sesaat setelah makanan dijauhkan dari meja merupakan hal yang perlu diobservasi oleh orangtua atau pengasuh.

Ketika anak menolak makanan karena tidak suka dengan menunya, biasanya mereka akan mencari camilan karena lapar. Hal ini menandakan anak tidak makan bukan karena adanya gangguan pada saluran cerna.

"Entah dia rewel minta nenen (menyusu), rewel minta buah, kemungkinan memang lebih kecil ada masalah pada saluran pencernaan," tambah dr. Miza.

Cara Bedakan Anak GTM karena Picky Eater atau Gangguan Pencernaan

Dokter spesialis anak Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, MKes dalam acara LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Kepasifan sebagai sinyal gangguan saluran cerna

Situasi berbeda ditunjukkan apabila balita benar-benar mengalami masalah pencernaan, seperti penumpukan gas atau rasa begah. Ketidaknyamanan tersebut membuat anak kehilangan selera makan secara alami.

Selain rasa begah, kontraksi organ usus yang sedang meradang sering kali menimbulkan sensasi mual setiap kali ada makanan padat yang masuk ke dalam rongga mulut.

"Kalau karena saluran pencernaan, karena memang perutnya dia enggak enak, biasanya tidak makan, mereka tetap biasa-biasa saja," tutur dr. Miza.

Berhentinya aktivitas mengunyah justru memberikan kelegaan sementara bagi lambung anak.

Oleh karena itu, balita yang mogok makan akibat gangguan pencernaan cenderung terlihat tenang atau kembali asyik bermain seolah tidak membutuhkan kalori sama sekali.

Sikap pasif terhadap rasa lapar inilah yang perlu dicermati. Apabila pola penolakan ini terus berulang tanpa adanya keinginan untuk mengonsumsi nutrisi pengganti, orangtua perlu mengambil tindakan dengan membawa anak ke dokter guna mencegah terjadinya kekurangan gizi berkelanjutan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang