Pakar HI Unpad Sebut Kecil Kemungkinan AS Caplok Greenland dengan Kekuatan Militer

Greenland, Amerika Serikat, NATO, Rusia, Uni Eropa, Pakar HI Unpad Sebut Kecil Kemungkinan AS Caplok Greenland dengan Kekuatan Militer, Serangan Militer Dinilai Tidak Realistis, Faktor NATO dan Tekanan Internasional, Tekanan Ekonomi Lebih Mungkin Dilakukan, AS Hadapi Banyak Front Konflik, Rusia Dinilai Ambil Celah dari Kekhawatiran NATO

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah menilai rencana Amerika Serikat terhadap Greenland tidak akan diwujudkan melalui aksi militer terbuka.

Penilaian ini disampaikan menyusul kembali mencuatnya wacana akuisisi Greenland oleh AS.

Menurut pakar, faktor geopolitik dan konfigurasi kekuatan militer di kawasan Nordik menjadi penghambat utama.

AS dinilai lebih mungkin menggunakan tekanan politik dan ekonomi ketimbang kekuatan bersenjata.

Serangan Militer Dinilai Tidak Realistis

Rezasyah menilai Amerika Serikat tidak mungkin mencaplok Greenland melalui serangan militer langsung.

"Tidak mungkin dia serang pakai peluru kendali, tidak mungkin. Kemudian, dia melakukan pendaratan pasukan dalam jumlah besar juga tidak mungkin," kata Rezasyah kepada Antara, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Menurut Rezasyah, skenario tersebut mustahil karena posisi Greenland yang dikelilingi negara-negara Nordik dengan kemampuan militer yang cukup tinggi.

Selain itu, Greenland berada di bawah Kerajaan Denmark, yang saat ini juga aktif mengajak negara-negara tetangganya menggelar latihan militer bersama.

Faktor NATO dan Tekanan Internasional

Rezasyah menambahkan, Amerika Serikat menyadari keterikatannya dalam pola operasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Pola tersebut, menurut dia, dapat dengan mudah dibaca oleh negara-negara anggota aliansi.

Kondisi ini membuat setiap langkah militer AS di kawasan Greenland berisiko memicu reaksi kolektif dari negara-negara NATO lainnya.

Tekanan Ekonomi Lebih Mungkin Dilakukan

Rezasyah memperkirakan rencana akuisisi Greenland oleh AS lebih bersifat ancaman politik untuk menekan pulau tersebut agar membuka akses eksplorasi bagi kepentingan AS.

"Mungkin itu yang akan dia (AS) lakukan. Dia menekankan hal itu beberapa kali. Atau dia juga bisa menekan lewat tarif kepada negara-negara di sekitar Greenland. Mungkin itu bisa dilakukan," katanya.

AS Hadapi Banyak Front Konflik

Kemungkinan tekanan nonmiliter juga dinilai sejalan dengan kondisi global AS saat ini.

Menurut Rezasyah, Washington tengah menghadapi berbagai perlawanan di sejumlah kawasan.

"Tentunya berat juga dia punya masalah dengan Iran di Timur Tengah. Jadi, kalau punya banyak front itu berat bagi AS," imbuh Rezasyah.

Rusia Dinilai Ambil Celah dari Kekhawatiran NATO

Dalam konteks geopolitik global, Rezasyah menilai Rusia berpotensi memanfaatkan kekhawatiran negara-negara NATO terkait rencana AS terhadap Greenland untuk menarik simpati negara-negara Uni Eropa.

"Dia (Rusia) bisa menggunakan energinya untuk mengubah keyakinan dari negara-negara yang sedang kritis terhadap AS. Jadi, kalau selama ini tidak semua anggota Uni Eropa mendapat akses untuk gas, sekarang mungkin Rusia bisa memberikannya kepada negara-negara NATO yang lain," katanya.

"Dengan demikian dia (Rusia) bisa saja membuat suatu 'Persaudaraan Ekonomi Rusia dan Uni Eropa'," demikian kata Rezasyah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang