Laporan Ungkap Pasukan Israel Kian Terdesak, Kekuatan Hizbullah Justru Meningkat

Ilustrasi wilayah penyerbuan Hizbullah di Israel utara
Ilustrasi wilayah penyerbuan Hizbullah di Israel utara

Kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pasukan Israel di kota al-Bayyada, Lebanon Selatan. Menurut kelompok tersebut, serangan yang dilancarkan berhasil memberikan kerugian bagi militer Israel yang tengah menjalankan operasi di wilayah tersebut.

Dalam pernyataan resmi Hizbullah, salah atu serangan ditujukkan ke pusat komando militer Israel dengan menggunakan rentetan roket. Selain itu, pihaknya juga mengaku menembakkan rudal ke satu unit Israel yang berada di kota tersebut. Tak lama kemudian, unit yang sama juga Kembali diserang dalam operasi terpisah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Hizbullah mengklaim telah menghancurkan dua tank Merkava milik Israel di al Bayyada menggunakan rudal berpemandu.

Perkembangan di medan perang ini muncul setelah laporan analisis The New York Times pada Selasa menyebut invasi Israel ke Lebanon semakin mengalami kebuntuan meski pertempuran telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Menurut laporan tersebut, penggunaan drone FPV (first-person view) berbasis serat optik oleh Hizbullah membuat pasukan Israel kewalahan dan mengganggu strategi operasi darat mereka.

Drone jenis ini dikendalikan melalui kabel serat optik sehingga tidak dapat diganggu oleh sistem pengacau sinyal elektronik yang biasa digunakan militer. Kondisi ini membuat tentara Israel menjadi target yang lebih mudah diserang sekaligus memperlihatkan kelemahan dalam persiapan dan taktik militer Israel.

Sumber militer Israel menyebut serangan drone pada Senin menewaskan dua tentara dan melukai 10 lainnya. Namun, menurut laporan tersebut, Hizbullah telah merilis sejumlah video yang menunjukkan drone mereka melacak dan menyerang tentara serta komandan Israel, baik di wilayah Lebanon maupun di wilayah Palestina yang diduduki Israel.

Analisis itu juga menyoroti ancaman terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut yang kemudian tidak jadi dilakukan. Menurut laporan tersebut, perubahan sikap itu mencerminkan semakin besarnya kesulitan yang dihadapi Israel di medan perang.

Senin pekan ini, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanannyamemperingatkan bahwa angkatan udara mereka akan segera menyerang pinggiran Beirut, pernyataan itu bukan sekadar ancaman, tulis The New York Times.

"Ancaman itu juga merupakan pengakuan bahwa strategi Israel dalam pertempuran tersebut belum mencapai hasil yang diharapkan," tulis laporan tersebut dikutip dari laman presstv.ir, Rabu 3 Juni 2026.

Pada awal operasi militer, Israel berupaya membentuk zona penyangga di Lebanon selatan dan mendorong Hizbullah menjauh dari perbatasan. Namun menurut analisis itu, Hizbullah tidak hanya tetap bertahan, tetapi juga dinilai lebih kuat dibanding saat invasi dimulai.

Pengamat Israel, Boaz Haetzni, menyoroti efektivitas drone generasi baru yang digunakan Hizbullah.

"Drone adalah pisau dalam bentuk teknologi. Biayanya sangat murah, komponennya bisa dibeli secara online, dan operatornya tidak perlu mendekati target karena bisa melihatnya dari jarak beberapa kilometer," ujarnya.

Para pejabat dan analis militer Israel juga mengakui bahwa hingga saat ini belum ada solusi efektif untuk menghadapi penggunaan drone serat optik yang semakin meluas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tidak ada solusi yang benar-benar efektif untuk menghadapi drone serat optik selain perlindungan fisik, ditambah kemampuan deteksi dan pencegatan yang masih sangat terbatas," kata Haetzni.

Ia menambahkan bahwa kritik terhadap lembaga pertahanan Israel bukan karena gagal menemukan solusi baru, melainkan karena para prajurit belum dibekali perlengkapan dan prosedur pertahanan yang memadai untuk menghadapi ancaman yang sebenarnya sudah dikenal selama bertahun-tahun.