Sejarah Gajah Dunia, dari Kekuatan Militer hingga Terancam Punah Akibat Perburuan Gading

Gajah, Gajah Asia, populasi gajah, Gajah Afrika, Sejarah Gajah Dunia, dari Kekuatan Militer hingga Terancam Punah Akibat Perburuan Gading

Gajah telah menjadi bagian dari sejarah Bumi sejak 26 juta tahun yang lalu. Melansir dari Poopoopaper, sejarah mencatat bahwa nenek moyang mamalia besar ini memiliki banyak spesies dengan karakteristik serupa gajah modern.

Namun, saat ini dunia hanya menyisakan dua spesies yang masih bertahan hidup, yakni Gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Gajah Asia (Elephas maximus).

Peran Strategis dalam Sejarah Manusia

Selama berabad-abad, gajah telah digunakan oleh manusia dalam berbagai kapasitas.

Di masa lalu, hewan ini menjadi kekuatan vital dalam militer dan tenaga kerja berat, seperti mencabut pohon hingga memindahkan kayu gelondongan.

Tak hanya itu, gajah memiliki peran religius yang sangat kuat di beberapa budaya.

Di Thailand, gajah putih dianggap sebagai hewan suci. Sementara dalam agama Hindu, Dewa Ganesha yang melambangkan kebijaksanaan digambarkan memiliki kepala gajah.

Ancaman Kepunahan yang Nyata

Meski menyandang gelar sebagai raksasa darat yang lembut, populasi gajah kini berada dalam kondisi terancam.

Aktivitas manusia menjadi faktor utama hilangnya habitat alami mereka. Selain itu, perburuan liar untuk diambil gading, daging, hingga kulitnya terus mengancam keberlangsungan spesies ini.

Data menunjukkan penurunan populasi yang drastis. Pada periode 1979-1989, perburuan gading yang merajalela membuat populasi gajah liar di Afrika berkurang lebih dari separuh, dari 1,4 juta ekor menjadi hanya 600.000 ekor.

Saat ini, jumlahnya diperkirakan hanya tersisa sekitar 400.000 ekor.

Kondisi di Asia pun tak kalah memprihatinkan. Diperkirakan tidak lebih dari 40.000 ekor gajah Asia yang masih bertahan di alam liar saat ini.

"Banyak ahli meyakini bahwa masa depan gajah sangat bergantung pada kawasan-kawasan lindung," demikian laporan yang dikutip dari laman Poopoopaper.

Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika

Gajah, Gajah Asia, populasi gajah, Gajah Afrika, Sejarah Gajah Dunia, dari Kekuatan Militer hingga Terancam Punah Akibat Perburuan Gading

Ilustrasi gajah liar.

Untuk mengenal lebih dalam, berikut adalah rincian karakteristik dan perbedaan antara kedua spesies tersebut:

1. Gajah Asia (Elephas maximus)

Dahulu dikenal sebagai Gajah India, spesies ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan kerabatnya di Afrika.

  • Ciri Fisik: Memiliki telinga yang lebih kecil dan punggung yang lebih melengkung.
  • Dimensi: Tinggi sekitar 2 hingga 4 meter dengan berat antara 3.000 hingga 5.000 kilogram.
  • Anatomi: Memiliki satu "jari" di ujung belalainya, empat kuku pada setiap kaki belakang, dan 19 pasang rusuk.
  • Gading: Pada gajah Asia, hanya pejantan yang memiliki gading, sementara betinanya tidak.
  • Habitat: Tersebar di India, China, Myanmar, Thailand, Kamboja, Malaysia, Sri Lanka, serta di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan/Borneo).

2. Gajah Afrika (Loxodonta africana)

Gajah Afrika memegang rekor sebagai hewan darat terbesar di dunia.

  • Ciri Fisik: Memiliki telinga yang jauh lebih besar. Telinga ini kaya akan pembuluh darah yang berfungsi untuk mendinginkan suhu darah di tengah iklim Afrika yang panas.
  • Dimensi: Panjang tubuhnya mencapai 6 hingga 7,3 meter dengan tinggi 3 hingga 4 meter. Beratnya bisa mencapai 10.000 kilogram.
  • Anatomi: Memiliki dua "jari" di ujung belalai, tiga kuku pada kaki belakang, dan 21 pasang rusuk.
  • Gading: Berbeda dengan spesies Asia, baik gajah Afrika jantan maupun betina sama-sama memiliki gading panjang.

Kini, tantangan terbesar adalah memastikan konservasi berjalan maksimal agar spesies yang telah bertahan selama puluhan juta tahun ini tidak benar-benar hilang dari muka Bumi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang