Sikap SBY vs Prabowo saat Rupiah Anjlok jadi Sorotan

SBY dampingi Presiden Prabowo saat defile pasukan TNI.
SBY dampingi Presiden Prabowo saat defile pasukan TNI.

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dibanding-bandingkan dengan respons Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Rupiah melemah pada 2013 silam menjadi sorotan.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Kepala Negara, pelemahan Rupiah belum terlalu berdampak langsung bagi mayoritas masyarakat, khususnya warga di daerah yang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari.

"Sekarang ada yang selalu entah apa, saya gak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos akan apa, ya kan Rupiah begini, dolar begini," kata Prabowo saat peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu, 16 Mei 2026.

Kepala Negara juga mengatakan kalau rakyat di desa tidak menggunakan Rupiah. Oleh sebab itu, dirinya memastikan Indonesia dalam keadaan baik. "Orang, rakyat di desa nggak pake dolar, kok, ya, kan, pangan aman energi aman, ya, banyak negara panik, Indonesia masih oke," ucapnya.

Pernyataan tersebut kontras dengan sikap yang pernah ditunjukkan SBY saat Rupiah melemah pada 2013. Kala itu, kurs Rupiah bergerak dari kisaran Rp11.600 ke Rp11.700 per dolar AS.

Dalam pidatonya pada 27 November 2013, SBY justru meminta seluruh pihak mewaspadai dampak buruk dari gejolak ekonomi global. Ia menilai pelemahan Rupiah menjadi sinyal serius yang harus dihadapi dengan realistis.

“Bad news-nya, Rupiah melemah,” kata SBY, kala itu. Ia juga menyebut Indonesia kemungkinan memasuki “new equilibrium” atau keseimbangan baru dalam kondisi ekonomi nasional.

Presiden ke-6 RI itu mengakui sejumlah indikator ekonomi sedang mengalami tekanan, mulai dari pelemahan harga saham hingga defisit perdagangan. “Saya duga kita akan memiliki new equilibrium, normal baru,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menjelaskan pemerintah saat itu sudah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi impor dan mendorong ekspor melalui berbagai insentif fiskal dan kebijakan ekonomi.

“Kesimpulan dari situasi ekonomi kita dan dunia, ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan tidak mudah. Saya lebih baik bicara seperti itu, daripada suka mengalirkan angin surga,” ungkap SBY.