Apa Penyebab Bencana Sumatera? Ini Kata BMKG dan Ahli ITB
- Siklon Tropis Senyar Memicu Cuaca Ekstrem
- Anomali Atmosfer Membuat Siklon Muncul Dekat Ekuator
- ITB: Sumatera Utara Sedang di Puncak Musim Hujan
- Vortex Sejak 24 November Berkembang Jadi Senyar
- ITB: Kerusakan Lingkungan Memperparah Banjir
- Mitigasi Harus Gabungkan Langkah Struktural dan Nonstruktural
- Dampak Bencana Masih Terus Dipantau
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak Senin (24/11/2025).
Bencana ini telah menelan ratusan korban jiwa dan menyebabkan ribuan orang harus mengungsi.
Data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (28/11/2025), sore melaporkan jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara mencapai 116 orang.
Lantas, apa sebenarnya bencana banjir dan longsor masif yang melanda Sumatera ini?
BMKG dan peneliti ITB menilai banjir dan longsor Sumatera dipicu gabungan faktor atmosfer, kondisi geospasial, serta menurunnya daya tampung wilayah.
rangkaian faktor itu saling menguatkan sehingga hujan ekstrem berujung pada banjir besar dan longsor di banyak titik.
Siklon Tropis Senyar Memicu Cuaca Ekstrem
BMKG menjelaskan bahwa hujan lebat yang mengguyur Sumatera bagian utara berkaitan dengan kemunculan Siklon Tropis Senyar.
Siklon Tropis Senyar terbentuk dari Bibit Siklon 95B di Selat Malaka, bagian timur Aceh, pada Rabu (26/11/2025).
Kemunculan Senyar menyebabkan sebagian Aceh hingga Sumatera Utara mengalami cuaca ekstrem berupa hujan lebat, lalu berdampak pada Sumatera Barat dan Riau melalui hujan sedang hingga lebat.
Hujan lebat disertai angin kencang juga terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, dan Riau.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menegaskan Senyar bukan fenomena yang umum di Indonesia.
"Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan," kata Andri, dilansir dari keterangan resmi BMKG.
BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan warga karena siklon dekat Indonesia dapat memicu hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi.
Anomali Atmosfer Membuat Siklon Muncul Dekat Ekuator
Andri menyebut siklon tropis seharusnya jarang terbentuk di Indonesia lantaran posisinya berada dekat garis ekuator.
Secara teori klimatologi, wilayah dekat ekuator kurang mendukung pembentukan dan lintasan siklon tropis.
Catatan lima tahun terakhir menunjukkan siklon tropis makin sering mendekati Indonesia, termasuk Senyar.
"Kondisi ini memiliki kemiripan dengan kejadian langka Siklon Vamei pada tahun 2001 yang juga terbentuk di Selat Malaka pada lintang sangat rendah," tutur Andri saat dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (28/11/2025) pagi.
BMKG menganalisis kemunculan Senyar dipicu rangkaian anomali atmosfer seperti penguatan monsun Asia, konvergensi besar di Selat Malaka, suhu laut hangat, serta shear angin rendah.
Fenomena regional seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby Wave ikut memperkuat konvektivitas sehingga bibit siklon berkembang di selat yang sempit.
"Perubahan pola cuaca dan tren siklon tropis yang semakin mendekati wilayah Indonesia perlu kita cermati dengan serius, karena hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sepenuhnya terlindungi dari ancaman siklon tropis, baik dari arah barat, utara maupun selatan," terang Andri.
ITB: Sumatera Utara Sedang di Puncak Musim Hujan
Peneliti FITB ITB menyebut ekstremnya hujan terjadi saat Sumatera bagian utara memasuki puncak musim hujan.
Ketua Program Studi Meteorologi ITB Dr Muhammad Rais Abdillah menjelaskan pola hujan di wilayah ini memiliki dua puncak dalam setahun dan periode sekarang berada pada salah satu puncaknya.
"Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya," ujar Rais dalam rilisnya, Jumat (28/11/2025).
Rais menambahkan curah hujan pada periode tersebut tergolong sangat lebat.
Data lapangan dan laporan media menunjukkan beberapa wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter.
BMKG bahkan mencatat curah hujan lebih dari 300 milimeter, masuk kategori curah hujan ekstrem.
Pantauan BMKG soal keberadaan Siklon Tropis KOTO dan Senyar di sekitar wilayah Indonesia pada Kamis (27/11/2025) pukul 07.00 WIB.
Vortex Sejak 24 November Berkembang Jadi Senyar
Rais menyatakan ada pusaran atau sirkulasi siklonik yang memperkuat hujan ekstrem di Sumatera bagian utara.
"Pada tanggal 24 November sudah mulai terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas," jelasnya.
Sistem berputar itu kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka dan bergerak ke arah barat.
Rais menilai Senyar memang tidak sekuat siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, tetapi cukup meningkatkan suplai uap air, memperkuat awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera utara.
ITB: Kerusakan Lingkungan Memperparah Banjir
Pakar geospasial ITB Dr Heri Andreas menilai kerusakan lingkungan, perubahan tutupan lahan, dan menurunnya kapasitas tampung wilayah memperburuk dampak banjir.
"Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi), sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah," jelasnya.
Heri menyebut kawasan dengan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki serapan air jauh lebih tinggi dibanding wilayah yang berubah menjadi permukiman atau perkebunan.
"Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir," ujarnya.
Heri menyarankan penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, serta pemodelan geospasial sebagai mitigasi jangka panjang.
"Peta bahaya dan risiko banjir yang kita miliki saat ini belum optimal, karena masih terbatas oleh data geospasial yang akurat dan pemodelan yang komprehensif," tambahnya.
Mitigasi Harus Gabungkan Langkah Struktural dan Nonstruktural
Heri menilai mitigasi banjir tidak bisa hanya mengandalkan tanggul atau normalisasi sungai.
"Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai dinilai sangat penting untuk menjaga kapasitas wilayah dalam menyerap air dan mengurangi limpasan," tegasnya.
Rais menekankan peringatan dini perlu akurat secara ilmiah sekaligus mudah dipahami warga.
"Prediksi cuaca dan potensi bencana harus dapat diterjemahkan menjadi informasi praktis yang menjawab kebutuhan warga, seperti kapan dan area mana yang berpotensi terdampak serta langkah antisipasi yang harus dilakukan," ujarnya.
Dampak Bencana Masih Terus Dipantau
BMKG menyebut Siklon Tropis Senyar mulai menjauhi Indonesia per Jumat (28/11/2025) dan melemah setelah masuk wilayah Malaysia.
"Saat ini (Siklon Tropis Senyar) sudah mulai menjauh, sudah memasuki wilayah daratan Malaysia dalam 24 jam ke depan, dan prediksi akan terus menjauh ke arah ke wilayah Laut China Selatan," ungkap Andri.
Deputi Meteorologi BMKG Guswanto memastikan siklon itu sudah tidak aktif lagi di Indonesia.
"Siklon Tropis Senyar sudah punah atau melemah dan tidak lagi aktif," ucapnya, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (28/11/2025).
Sisa gangguan atmosfer dari eks-Senyar masih ikut menaikkan curah hujan, memicu angin kencang, dan menimbulkan gelombang tinggi di sejumlah wilayah.
Data BNPB per 27 November 2025 mencatat bencana ini menimbulkan 34 korban meninggal, 52 orang hilang, serta ribuan warga terdampak dan mengungsi.
Jumlah korban masih berpeluang bertambah seiring proses pendataan dan pencarian yang terus berjalan di lapangan.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul dan "Ahli ITB Ungkap Penyebab Banjir Bandang Sumatera: Siklon Senyar dan Degradasi Lingkungan".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang