Ketergantungan Jerman ke China Tidak Berubah meski Situasi Geopolitik bikin Gerah
Bagi Matthias Rüth, tak ada alasan untuk banting setir menjauhi China. Di tengah peringatan berulang dari pemerintah Jerman soal bahaya menggantungkan bisnis kepada Beijing, direktur pelaksana perusahaan dagang komoditas dan logam tanah jarang (rare Earth) Tradium itu tetap teguh, China adalah urat nadi perusahaannya.
Sebagai negara yang nyaris memonopoli sektor logam tanah jarang (rare Earth) — bahan baku strategis dalam teknologi modern — China, kata Rüth, tak mungkin begitu saja digantikan.
"Dengan China memasok lebih dari 95 persen pasar logam tanah jarang, Anda tidak bisa mencari alternatif dalam waktu singkat. Hubungan dagang ini sudah terbukti. Material dan prosesnya teruji,” ungkapnya, seperti dikutip dari situs DW, Rabu, 26 November 2025.
Bagi Rüth dan banyak pelaku usaha Jerman lainnya, China masih menjadi alamat pertama untuk berbisnis. Selama bertahun-tahun, pemerintah Jerman memberi dukungan penuh kepada orientasi bisnis ke arah timur.
Namun, arah berubah sejak Beijing kian mengeras di bawah Presiden Xi Jinping, termasuk kedekatannya dengan Moskow setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Hubungan China-Uni Eropa memasuki babak baru. Berlin kini berbicara tentang de-risking: mengurangi ketergantungan pada satu negara untuk komponen penting, barang, hingga bahan baku.
"Kalau terjadi masalah, itu risiko Anda. Jangan datang kepada pemerintah,” kata Kanselir Friedrich Merz, mengingatkan para pengusaha Jerman yang masih berbisnis di China. Awal pekan ini, Menteri Keuangan Lars Klingbeil terbang ke Beijing.
Sambil bicara soal hubungan ekonomi yang mulai beruba, ia mengingatkan bahwa Jerman melihat adanya "persaingan yang tidak lagi sehat dan ancaman terhadap lapangan kerja industri.” Namun, Klingbeil menegaskan satu hal, "Kita harus berbicara dengan, bukan tentang, China".
Di mata industri Jerman, hubungan dengan China ibarat kisah cinta yang sulit diakhiri. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, China kembali menyalip Amerika Serikat (AS) sebagai mitra dagang terbesar Jerman, dengan nilai perdagangan sebesar 185,9 miliar Euro.
Raksasa-raksasa industri Jerman terus menancapkan investasi di sana. Laporan Mercator Institute for China Studies menyebutkan, pada semester I 2024, investasi langsung Jerman mencakup 57 persen total investasi Eropa di China — sekitar 2,3 persen dari PDB Jerman.
Arus modalnya pun tak surut, naik 1,3 miliar Euro dibandingkan tahun sebelumnya. Di sektor otomotif, Volkswagen, BMW, dan Mercedes Benz berusaha mengembalikan supremasi pasar.
Meski tersandung tekanan baru, asa belum padam. Bahkan, BMW baru saja menanam 3,8 miliar Euro untuk proyek baterai di Shenyang.
"Kami meninjau dan menyesuaikan strategi pasar secara berkala, tapi tidak ada perubahan fundamental di wilayah tersebut,” kata Juru Bicara BMW Britta Ullrich. Namun, meski penting, hubungan itu sedang mengalami retakan besar—bukan hanya soal geopolitik.
Produsen mobil Jerman kini berhadapan dengan lawan tangguh: merek-merek China yang agresif, terutama di kendaraan listrik. Banyak di antaranya tumbuh berkat praktik industri yang dituding tak sejalan dengan aturan perdagangan global.
"Kondisi bersaing harus setara dan adil,” kata Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA). Mereka mendesak China mengajukan proposal konstruktif, menindak praktik anti-kompetisi, dan menjamin kebebasan perdagangan.
Sementara itu, tekanan finansial makin terasa. Ekspor Jerman ke China merosot 25 persen sejak 2019. Pangsa pasar Volkswagen, Mercedes Benz, dan BMW jatuh tajam, terpukul oleh gebrakan industri kendaraan listrik China.
"De-risking tengah dijalankan secara serius oleh perusahaan otomotif,” ujar VDA. Tapi, lanjutnya, upaya itu "harus difasilitasi secara politis, bukan sekadar dituntut.” De-risking, kata mereka, bukan berarti menutup pasar. "Kebijakan terbaik adalah memperkuat daya saing dan investasi domestik.”
Rüth mengingatkan bahwa rekannya di China pun menjadi korban dari situasi politik yang memanas. "Kesulitannya berasal dari keputusan politik, bukan dari para pemasok,” ujarnya. Yang paling mengguncang usahanya adalah pembatasan ketat ekspor logam tanah jarang oleh Beijing. Para pemasok pun sama frustrasinya.
"Mereka juga kena dampaknya,” katanya. Perusahaan Rüth tak menerima tekanan politik untuk menjauh dari Cina. Yang datang justru tekanan pasar: tarif global yang melonjak, rantai suplai yang tersendat, dan aturan ekspor baru dari Beijing.
"Rutinitas pengadaan yang sudah lama kami andalkan tak lagi bisa dipegang,” ujarnya. "Kami masih sangat bergantung pada mitra Cina. Untuk banyak material, memang belum ada jalan lain.”