Waspada Takjil Berbahaya, Begini Cara Bedakan Pewarna Alami dan Buatan

Waspada Takjil Berbahaya, Begini Cara Bedakan Pewarna Alami dan Buatan

Aneka jajanan pasar dan minuman segar berwarna-warni saat momen berbuka puasa sering membuat konsumen tergoda. Namun, waspadai penggunaan zat pewarna sintetis hingga bahan pengawet berbahaya di produk makanan.

Quality Assurance Specialist di industri food and beverage sekaligus kreator konten edukasi pangan, Erwin Setiawan, menuturkan, penting bagi masyarakat untuk memiliki kemampuan dasar dalam membedakan ciri-ciri fisik pangan yang aman dikonsumsi.

"Sebenarnya kalau dari kasat mata ya, banyak banget cara ngebedainnya," ujar pemilik akun TikTok @anakpanganindonesia ini di Group media Interview TikTok bertajuk "#SerunyadiTikTok: Kiat Jalani Bulan Ramadan dengan Lebih Sehat dan Seimbang bersama Kreator TikTok" di Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026).

Waspada Takjil Berbahaya, Begini Cara Bedakan Pewarna Alami dan Buatan

Ilustrasi takjil.

Ciri visual pewarna alami dan sintetis

Erwin menjelaskan bahwa cara paling sederhana untuk mengenali pewarna alami adalah dengan memperhatikan kejernihan cairan dan keberadaan residu.

Pewarna yang berasal dari alam, seperti buah-buahan, cenderung tidak bisa larut sepenuhnya menjadi cairan bening.

Minuman yang menggunakan buah asli sebagai pewarna pasti akan menyisakan sedikit serat di bagian bawah wadah. Hal ini sangat berbeda dengan minuman yang menggunakan pewarna kimia yang biasanya terlihat sangat jernih.

"Kalau warna merahnya alami, katakanlah dari stroberi, dia pasti ada endapan di bawahnya," ucap Erwin.

Sebaliknya, masyarakat patut curiga jika menemukan minuman dengan warna yang sangat mencolok, tetapi terlihat tembus pandang tanpa ada sisa serat sedikit pun.

"Kalau minuman warnanya merah cerah, tapi bening banget, kemungkinan besar dia menggunakan pewarna sintetik. Kayak pewarna tekstil dan lain sebagainya, yang itu bisa menyebabkan berbagai penyakit," sambung dia.

Ilustrasi bakso gepeng.

Kenali tekstur bakso boraks

Selain warna pada minuman, Erwin juga menyoroti jajanan populer seperti bakso yang kerap mengandung pengenyal berbahaya.

Penggunaan boraks sering dilakukan oknum pedagang untuk menyiasati harga daging sapi yang mahal agar tetap mendapatkan keuntungan besar.

"Baksonya agak keras, teksturnya keras, terus kalau dilempar mantul, sudah dipastikan dia punya pengenyal yang sangat tinggi," jelas Erwin.

Meski tidak bisa memastikan seratus persen secara kasat mata, Erwin menyebutkan bahwa daya pantul yang ekstrem pada bakso adalah indikasi kuat adanya zat kimia yang mampu menahan air dalam jumlah banyak di dalam adonan.

"Pengenyal yang bisa menahan air dan kenyal banget itu salah satunya, yang banyak digunakan, adalah boraks. Karena bisa menahan air yang ada di dalam daging sapi yang harganya mahal, dia cukup pakai yang namanya boraks," tutur dia.

Perbedaan mencolok juga bisa dirasakan saat bakso dikunyah. Bakso yang sehat seharusnya memiliki tekstur yang masih memperlihatkan serat daging asli, bukan sekadar kenyal seperti karet.

"Bedanya kenyal bakso yang asli gimana? Kenyalnya bakso asli kan digigit 'kriuk' karena dia masih ada seratnya. Tapi kalau digigit, kita butuh effort untuk mengunyah, berarti kandungan tepungnya banyak, airnya banyak, dan pengenyalnya juga nyak," kata Erwin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang