Diserbu Pelaku Kuliner Dunia! Ini Alasan Food, Hotel & Tourism Bali 2026 Wajib Dikunjungi
Industri kuliner dan pariwisata di Indonesia Timur kembali menunjukkan geliatnya, terutama dengan semakin banyaknya ruang pertemuan bagi pelaku usaha untuk berbagi inovasi dan tren terbaru. Salah satu yang paling dinantikan tahun ini adalah gelaran Food, Hotel & Tourism Bali 2026 yang akan berlangsung pada 28–30 April 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center.
Di tengah pesatnya perkembangan industri food & beverage (F&B), ajang ini tak hanya menjadi tempat pameran, tetapi juga cerminan bagaimana tren kuliner dan hospitality terus berevolusi. Dari makanan premium hingga inovasi food service seperti bakery, pastry, hingga gelato, berbagai produk dan konsep baru akan diperkenalkan kepada publik dan pelaku industri. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
Menurut Meysia Stephanie selaku Portfolio Director, ajang ini menghadirkan lebih dari sekadar pameran produk.
“FHTB 2026 akan menjadi panggung utama bagi pelaku usaha untuk mengetahui bagaimana industri perhotelan, pariwisata dan F&B berkembang pesat. Pengunjung akan merasakan pengalaman yang lebih nyata dan berkualitas. Maka FHTB diharapkan bisa terus menjadi platform penting untuk ekspansi usaha, penjajakan kemitraan strategis, serta penetrasi pasar Indonesia Timur yang semakin menjanjikan,” jelas Meysia, dalam keterangannya, dikutip Rabu 22 April 2026.

Tren kuliner yang diangkat pun semakin beragam. Selain eksplorasi cita rasa global, perhatian juga tertuju pada gaya hidup sehat melalui konsep wellness tourism yang kini semakin populer di Bali. Tidak hanya itu, pendekatan berkelanjutan atau sustainability juga mulai menjadi bagian penting dalam industri makanan dan pariwisata, mulai dari penggunaan bahan organik hingga pengelolaan limbah yang lebih bijak.
Salah satu daya tarik utama dalam gelaran ini adalah kompetisi memasak bergengsi Salon Culinaire Bali yang kembali hadir dengan berbagai kategori menarik. Ajang ini menjadi wadah bagi para chef, khususnya generasi muda, untuk menunjukkan kreativitas mereka dalam mengolah hidangan.
President Bali Culinary Professional (BCP), Bayu Retno Timur, menjelaskan konsep kompetisi tahun ini yang lebih kolaboratif.
“Kompetisi memasak ini ada beberapa kategori, tapi salah satu yang menarik adalah kelas Asian Chef Menu dan The Return of Dewata Gastronomy Challenge yang sudah 8 tahun vakum sejak 2018. Sebagai kategori prestigious national team, kelas ini akan dilombakan bekerjasama dengan Chef, Sommelier/Barista, Waiters Service Team, serta Manager Team dalam satu payung restoran atau hotel yang sama,” jelas Bayu.
Tak hanya chef, industri kopi juga mendapat sorotan lewat kompetisi barista khusus perempuan yang mengangkat peran perempuan di dunia F&B. Ajang ini dinilai menjadi langkah inklusif dalam membuka lebih banyak peluang bagi talenta perempuan di industri yang terus berkembang.
Project Head Barista Female Creation, Yani Elok Pratiwi, menegaskan pentingnya ruang tersebut.
“Ajang ini diikuti oleh 12 peserta perempuan yang berasal dari berbagai perusahaan dan brand ternama di Indonesia. Tak ada batasan usia bagi para peserta, karena kami percaya bahwa kemampuan, pengalaman, dan passion di dunia kopi tidak dibatasi oleh usia,” kata Yani.
Di balik berbagai kegiatan tersebut, pertumbuhan industri F&B dan pariwisata memang menunjukkan tren positif. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah wisatawan, dengan Bali masih menjadi kontributor utama kunjungan internasional ke Indonesia. Hal ini sekaligus memperkuat posisi pulau tersebut sebagai pusat perkembangan kuliner dan hospitality di kawasan timur.