Rais PWNU DIY: Lama Berkonflik, Lalu Ishlah, Kini Salam-Salaman

Gus Salam Berkunjung ke PWNU DIY
Gus Salam Berkunjung ke PWNU DIY

 KH Abdussalam Shohib atau akrab disapa Gus Salam mengunjungi PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka silaturahmi. Tak sendiri, Gus Salam datang bersama rombongan para Masyayikh dari PP Al-Falah Ploso dan PP Lirboyo, Kediri Jawa Timur.

Gus Salam sebelumnya telah menyampaikan rencana kehadirannya untuk bersilaturahmi kepada pengurus wilayah NU Yogyakarta. Dia datang di kantor PWNU DIY dan disambut Katib PWNU, KH Mukhtar Salim disusul jajaran pengurus lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya datang jelang waktu isya' disambut Kiai Mukhtar, kemudian disusul pengurus yang lain. Dan Alhamdulillah, sebelum acara dimulai Masyayikh Ploso dan Lirboyo, Kediri bisa ngobrol gayeng dengan pengurus," kata Gus Salam dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 18 April 2026.

Silaturahmi tersebut dilakukan pada Jumat, 17 April 2026, pukul 20.00 WIB.

“Saya mengenalkan sosok Gus Salam sebagai cucu pendiri NU Mbah Bishri Syansuri. Gus Salam juga bagian dari keluarga PP. Al-Falah Ploso dan PP. Lirboyo, Kediri. Saya sampaikan niatan silaturahmi Gus Salam, kaitan ikhtiarnya sebagai kandidat Ketua Umum PBNU melalui muktamar yang akan datang,” kata Gus Makmun.

“Gus Salam berikhtiar maju sebagai Ketua Umum PBNU atas permintaan dan perintah dari para guru-kiainya. Karenanya dia ingin mendapat silaturrohim mohon do’a-restu dari pengurus PWNU dan PCNU se-Yogyakarta,” sambungnya.

Ditengah sekitar tiga puluhan Pengurus Wilayah dan Cabang NU se-Yogyakarta, Gus Salam menyampaikan perkenalannya melalui gagasan dan pikiran tentang jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dia menjelaskan tentang kondisi NU saat ini dan proyeksinya kedepan.

“Alhamdulillah, saya berkesempatan menyampaikan pemikiran dan gagasan tentang NU kedepan yang dimulai dari landasan dan pentingnya rekonsiliasi secara menyeluruh,” kata Gus Salam.

“Rekonsiliasi dijalankan dengan memulihkan hubungan semua unsur di jam’iyyah Nahdlatul Ulama demi menjaga persatuan. Dan persatuan itu bisa dibangun Kembali bila semuanya dengan penuh kesadaran bisa mengabaikan ego pribadi dan kelompok serta perbedaan-perbedaan yang membatasi untuk bisa bersatu,” tambahnya.

Dilandasi argumentasi teologis, filosofis dan ragam keteladan, Gus Salam menuturkan bahwa dengan kebersamaan, NU bisa merajut kembali usaha-usaha untuk mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan jam’iyyah di tengah masyarakat berdasar garis perjuangan muassis dan pendahulu NU.

“Saya yakin, dengan meneladani dan menjalankan 5 wasiat Mbah Ali Maksum, Rais Aam PBNU 1981-1984, menantu KH. M. Munawwir Al-Hafid, pendiri PP Al-Munawwir, Krapyak Yogyakarta, kita bisa mengembalikan marwah, wibawa dan kebesaran NU,” ujar Gus Salam.

Perkenalan pemikiran Gus Salam disertai dialog-rembugan gayeng ala NU dan pesantren. Secara bergiliran mulai dari PWNU dan PCNU se-Yogyakarta diminta memberi tanggapan-pemikiran terkait kondisi NU saat ini dan harapan kedepan dibawah kepemimpin baru PBNU.

Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang dialog-rembugan antara Gus Salam dengan Pengurus PWNU-PCNU se-Yogyakarta. Mulai dari isu-isu bersifat dogmatis, ideologis, administratif hingga aksi-aksi nyata penopang kemandirian NU terdiskusikan dengan gayeng. 

Termasuk isu sensitif mengenai AHWA dan mekanisme pemilihan pimpinan PBNU, juga terlontar dari audiens.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara, Rais PWNU DIY, KH. Mas’ud Masduki mengatakan ketegangan-ketegangan didalam NU segera diakhiri, sebaliknya saling berangkulan untuk kebaikan NU melalui khidmah secara konsisten disertai keikhlasan.

“Kita di NU sudah lama berkonflik, kemudian terjadi ishlah. Kini, saatnya bersalam-salaman,” pungkas Kiai Mas’ud.