Beratnya Beban Ojol: Harga Sparepart Motor Naik, Pendapatan Segitu-gitu Aja
Beban ojek online (ojol) di Indonesia bakal terasa makin berat. Sebab, ketika harga BBM dan suku cadang motor naik, penghasilan mereka segitu-gitu saja. Bahkan, di beberapa kasus, nominalnya justru menurun.
Kini, penghasilan ojol dipotong 20 persen untuk biaya aplikasi. Meski telah dijanjikan revisi komisi, namun kebijakannya belum benar-benar terbit hingga sekarang. Sialnya, ketika 'pasukan hijau' masih menunggu ketok palunya, harga-harga kebutuhan motor terus naik.
"Kenaikan suku cadang kendaraan khususnya motor yang menimbulkan dampak fluktuasi biaya perbaikan yang masuk dalam capital expenditure, faktor ini yang memang membuat pendapatan pengemudi ojol tergerus 10-20 persen," ujar Ketua Umum Garda Indonesia, Igun Wicaksono kepada detikOto, Jumat (12/6).

Driver ojol Grab di Tendean, Jakarta Selatan. Foto: Septian Farhan Nurhuda/detik.com
Bukan hanya suku cadang, kenaikan harga Pertamax juga berdampak pada berkurangnya penghasilan mitra. Namun, Igun bersyukur, driver ojol rata-rata masih menggunakan BBM subsidi seperti Pertalite.
"Sedangkan pendapatan pengemudi ojol belum mengalami peningkatan, bahkan cenderung stagnan bahkan menurun," kata dia.
Per 10 Juni 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamina tiba-tiba meroket. Pertamax saat ini dibanderol Rp 16.250/liter. Nominal tersebut naik nyaris Rp 4 ribu dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp 12.300/liter.
Selain Pertamax, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga untuk Pertamax Green di Indonesia. Jika sebelumnya bahan bakar tersebut dibanderol Rp 12.900/liter, sekarang harganya tembus Rp 17.000/liter. Kenaikannya mencapai Rp 4.100/liter!
Di saat bersamaan, harga-harga suku cadang seperti oli dan ban juga mengalami kenaikan besar-besaran. Belum lama ini, kami mengunjungi bengkel umum untuk mencari tahu sejauh apa koreksi harganya. Tak main-main, kenaikannya bisa mencapai 20 persen!