Lapangan Bola Viral di Karanganyar: Rumput "Mewah", Biaya Pembangunan Rp 1,4 M
Lapangan sepak bola berstandar tinggi biasanya hanya ditemukan di kota-kota besar.
Namun, suasana itu kini hadir di Desa Karang, Kabupaten Karanganyar, yang berada di lereng Gunung Lawu.
Hamparan rumput hijau dengan pola rapi layaknya stadion modern membuat lapangan ini cepat viral dan disebut-sebut sebagai fasilitas “mewah” untuk ukuran desa.
Sekretaris Desa Karang, Triyono, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berbanding terbalik dengan masa lalu.
Ia mengatakan, desa sebelumnya hanya memiliki lapangan kecil dengan rumput biasa dan ukuran yang tidak memenuhi standar.
Karena itu, muncul keinginan untuk menghadirkan lapangan berstandar nasional yang lebih layak.
Gagasan tersebut berangkat dari visi kepala desa yang kemudian mendapat dukungan penuh lembaga masyarakat desa.
"Jadi, cita-citanya dari dimulai dari visi misi Pak Kades, kemudian didukung oleh seluruh lembaga masyarakat desa, mempunyai cita-cita yaitu mempunyai lapangan dengan standar nasional dan kualitas yang rumput yang baik bisa menunjang potensi-potensi olahraga di wilayah desa Karang," ujar Triyono saat ditemui Kompas.com di Kantor Desa Karang, Selasa (3/3/2026).
Pemdes Gandeng Lestarindo untuk Bangun Lapangan
Dari situ, Desa Karang mulai mengembangkan potensi baru di sektor olahraga melalui konsep Eco Sport untuk melengkapi potensi wisata alam yang sudah lebih dulu ada.
Guna mewujudkannya cita-cita tersebut, pemerintah desa bekerja sama dengan PT Harapan Jaya Lestarindo.
Adapuh Lestarindo adalah vendor yang pernah menggarap lapangan sepak bola di Gelora Bung Karno (GBK) dan Jakarta International Stadium (JIS).
"Kemudian berangkat dari itu kita mempunyai cita-cita itu dan pada akhirnya kita dipertemukan dengan PT Harapan Jaya Lestarindo," jelas Triyono.
"Setelah riset dan mencari-cari pihak ketiga atau pihak yang bisa membangun lapangan dengan standar nasional, akhirnya kita ketemu Lestarindo," tambahnya.
Ia menambahkan, pembangunan lapangan dimulai pada 2025 yang ditandai dengan penandatangan perjanjian.
Pembangunan lapangan dilakukan dengan nilai kontrak sekitar Rp 1,4 miliar yang bersumber dari Dana Desa dan Pendapatan Asli Desa.
Anggaran tersebut dibagi dalam dua tahun, yakni 2025 dan 2026, hingga akhirnya lapangan rampung pada Januari 2026.
Setelah selesai, kata Triyono, lapangan sempat diuji coba sebelum resmi dibuka untuk umum pada Februari 2026.
Sejak saat itu, penyewaan mulai berjalan dengan tarif sekitar Rp 5 juta untuk dua jam permainan pada sore hari, lengkap dengan fasilitas seperti wasit, ballboy, hingga komentator.
Lapangan bola kelas nasional di Desa Karang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Rumput Lapangan Desa Karang Kualitas Tinggi
Triyono menjelaskan bahwa kualitas rumput menjadi salah satu keunggulan utama.
Rumput yang digunakan setara dengan stadion besar sehingga membutuhkan perawatan ekstra.
Bahkan, bentuk lapangan sengaja dibuat sedikit melengkung seperti tempurung kura-kura agar sistem drainase berjalan optimal.
Karena itu, penggunaan lapangan pun dibatasi. Triyono mengatakan, lapangan hanya digunakan pada Sabtu dan Minggu, sementara hari kerja difokuskan untuk perawatan penuh.
"Jadi, untuk perawatan rumputnya memang ya bahasanya kita 'manja' ya. Lebih sulit ngerawat rumput daripada ngerawat bayi," kelakar Triyono.
Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, tidak sembarang orang diperbolehkan menginjak atau duduk di atas rumput.
Pembatasan ini dilakukan untuk menjaga kualitas lapangan, terutama guna mencegah munculnya jamur yang dapat merusak permukaan rumput.
Pada tahap awal, perawatan lapangan masih dibantu oleh pihak kontraktor. Hal ini dilakukan karena keterbatasan sumber daya manusia di desa dengan biaya perawatan mencapai sekitar Rp 25 juta per bulan.
Selain itu, peralatan yang digunakan pun tergolong khusus. Triyono menjelaskan, mesin pemotong rumput yang dipakai didatangkan langsung dari luar negeri, yakni dari Eropa dan China.
Pendapatan Sewa Lapangan untuk Pembangunan Desa
Menurut Triyono, pengelolaan lapangan kini berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Ia menambahkan, seluruh pendapatan dari penyewaan akan dikembalikan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Seiring viralnya lapangan di media sosial, Triyono mengungkapkan minat penyewa terus meningkat, bahkan datang dari luar daerah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tingginya minat penyewa terlihat dari papan jadwal yang terpasang di area lapangan.
Seluruh slot telah terisi, bahkan pemesanan tercatat sudah penuh hingga Agustus 2026,
Melihat tingginya minat penyewa, Triyono mengatakan, kondisi ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal, termasuk UMKM di sekitar lapangan.
Ke depan, Triyono menambahkan, desa juga merencanakan pengembangan fasilitas pendukung seperti jogging track, tribun, ruang ganti, hingga area parkir.
Dengan begitu, lapangan ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan desa, tetapi juga pusat aktivitas olahraga dan ekonomi baru di wilayah tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang