Makam dengan Patung Dua Bocah Main Bola di TPU Bonoloyo Solo Viral, Ini Cerita Sang Ibu

Sebuah makam unik di Tempat Pemakaman Umum (TPU Bonoloyo), Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, mendadak viral di media sosial. Makam tersebut mencuri perhatian karena dihiasi patung dua bocah yang tengah bermain bola di atasnya.
Penelusuran di lokasi pada Senin (17/11/2025), makam itu berada di kompleks sisi utara TPU Bonoloyo, tak jauh dari jalan utama.
Bentuknya mencolok di antara makam lainnya, dengan panjang kurang dari dua meter dan ornamen patung dua bocah berwarna cokelat serta bola berwarna hitam-cokelat di atas nisan.
Pada nisan tertera nama almarhum Ignatius Toto Endratmo, lahir 11 April 1994 dan meninggal 17 Oktober 2010. Toto wafat pada usia 16 tahun.
Patung Sudah Ada Sejak Tahun Pertama Pascadimakamkan
Sukimin (59), petugas kebersihan TPU Bonoloyo, mengatakan patung itu sudah lama terpasang.
"Sudah lama, sepertinya tidak sampai setahun setelah dimakamkan, patungnya sudah dibuat itu," ujar Sukimin.
Meski sering melihat makam tersebut, ia mengaku tidak mengetahui detail keluarga almarhum. Namun, menurutnya, pemasangan patung di TPU Bonoloyo bukan hal baru.
Ada tradisi tak tertulis bahwa keluarga sering membuat patung sesuai hobi atau profesi jenazah. Karena itu, Sukimin menduga Toto menggemari olahraga sepak bola.
"Biasanya kalau bukan mantan pemain bola, ya kemungkinan sukanya nonton bola. Soalnya ada juga kok makam yang dibangun seperti profesi sebelum meninggal. Seperti di sisi timur ada makam dengan patung mobil balap, ternyata yang dimakamkan mantan pembalap. Terus di tengah TPU juga ada makam dengan patung gamelan, itu juga mantan penabuh gamelan," kata dia.
Sosok Toto: Pecinta Sepak Bola dan Siswa Seminari
Dari penelusuran lebih lanjut, makam itu merupakan tempat peristirahatan akhir Ignatius Toto Endratmo, putra pasangan suami-istri asal Solo.
Niken, ibu mendiang, menjelaskan bahwa patung dua bocah yang tengah bermain bola tersebut memiliki makna khusus. Toto dikenal sangat mencintai sepak bola sejak kecil.
Meski bersekolah di seminari calon pastor Katolik, yakni Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Toto tetap aktif bermain sepak bola pada 2009.
Ia bahkan telah menjadi wasit untuk beberapa pertandingan di daerah sekitar sekolah.
Niken mengungkapkan bahwa Toto bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional dan berkarier di Meksiko, tanpa meninggalkan panggilannya sebagai calon pastor.
"Sangat-sangat suka sepak bola, bahkan sekolah di seminari sana itu biar bisa jadi pemain bola di Meksiko karena ada koneksi dari sekolah seminari dengan sepak bola di Meksiko sana. Bahkan saat itu Toto sudah jadi wasit juga, terus juga sering jadi wasit di pertandingan bola di daerah sana," ujar Niken, Kamis (27/11/2025).
Ia menambahkan, Toto masuk seminari karena tertarik dengan fasilitas olahraga di sana.
"Ketertarikannya yang utama karena di situ ada lapangan sepak bola yang sangat bagus menurutnya. Tapi kemudian sangat puas dan bahagia karena di seminari mendapatkan banyak kesempatan belajar musik, teater, bahasa latin, dan lain-lain. Menurutnya di seminari 'kecekel' semua yang diinginkan," tambahnya.
Kecelakaan yang Merenggut Nyawa Toto
Namun, Takdir berkata lain. Baru satu tahun menempuh pendidikan, Toto mengalami kecelakaan lalu lintas pada 11 Oktober 2010, tak jauh dari sekolahnya.
Saat itu, Toto sedang mengantar temannya berbelanja ke sebuah minimarket.
"Jadi Toto ketabrak truk saat nganter temannya ke Indomaret dekat seminari dan meninggal dunia waktu itu," tutur Niken.
Jenazah Toto kemudian dimakamkan berdekatan dengan kakaknya, yang juga dikenal gemar bermain bola.
Niken mengaku merasakan firasat tak biasa beberapa hari sebelum peristiwa tragis itu. Ia beberapa kali bermimpi aneh.
Sepuluh hari sebelum meninggal, Toto juga sempat pulang ke Solo dan menunjukkan sikap lebih hangat kepada ibu dan adiknya, yang memiliki keterbatasan.
"Sepuluh hari sebelum kejadian itu, Toto sempat pulang ke Solo. Sempat juga boncengin adiknya yang punya keterbatasan, muter-muter naik kendaraan sama saya. Tapi sudah ada firasat, kok Toto kelihatan bersih dan bersinar," ujar Niken.
Ia bahkan sempat bertanya apakah Toto tidak lagi bermain bola di seminari, namun putranya menjawab bahwa tidak ada hal berbeda di sekolah.
"Tapi memang beberapa kali saya sempat mimpi juga, jadi sudah seperti ada firasat gitu," tambahnya.
Asal Usul Patung Dua Bocah Bermain Bola
Niken menjelaskan bahwa patung bocah bermain bola itu tidak langsung dipasang setelah Toto dimakamkan. Ia dan suaminya menunggu hingga 1.000 hari pascakepergian putra mereka.
Kakak Niken yang merupakan pemahat patung turut membantu mendesain dan membuat patung tersebut. Ide dua bocah bermain bola dipilih sebagai simbol dua putranya yang sama-sama menggemari sepak bola.
"Itu dari saya. Kebetulan kakak saya tukang patung, jadi saya buatin patung itu. Setelah seribu hari atau tiga tahun baru patungnya dibuat. Kebetulan kan samping makamnya ada makam kakaknya juga," kata Niken.
"Iya, itu karena anak saya dua di sana dimakamkan. Jadi saya buatkan dua patung anak-anak bermain bola. Bayangan saya supaya di surga mereka bisa main bersama," lanjutnya.
Niken tidak menyangka patung tersebut akan menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Ia berharap publik tidak salah paham.
"Apa yang saya lakukan itu hanya bentuk sayang saya sebagai seorang ibu kepada putra-putra saya," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Viral, Makam di Solo dengan Patung 2 Bocah Bermain Bola, Ternyata di TPU Bonoloyo
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang