Night Terror pada Anak Bukan Kesurupan, Ini Penjelasan Dosen IPB

night terror, gangguan tidur, kesehatan anak, Fase tidur, Night Terror pada Anak Bukan Kesurupan, Ini Penjelasan Dosen IPB, Night terror merupakan gangguan tidur, Biasanya terjadi pada awal malam, Gejala yang muncul saat night terror, Kurang tidur bisa menjadi pemicu, Orangtua diminta tetap tenang, Penting membedakan night terror dengan kejang

Fenomena anak tiba-tiba berteriak histeris atau terlihat sangat ketakutan saat tidur sering membuat orangtua panik.

Sebagian orang bahkan mengaitkan kondisi ini dengan hal mistis. Padahal secara medis, kondisi tersebut dikenal sebagai night terror, yaitu gangguan tidur yang memiliki penjelasan ilmiah.

Penjelasan ini disampaikan oleh dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (10/3/2026).

Night terror merupakan gangguan tidur

Yeni menjelaskan bahwa tidur memiliki peran penting bagi kesehatan anak. Tidur membantu pemulihan fisik sekaligus mendukung perkembangan sistem saraf.

“Tidur merupakan fungsi biologis yang sangat penting karena berperan dalam pemulihan fisik dan perkembangan sistem saraf anak,” kata dr. Yeni.

Secara normal, tidur terdiri dari beberapa fase, yaitu non-rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).

Fase tidur paling dalam terjadi pada fase tiga dan empat NREM. Pada fase ini tubuh melakukan proses pemulihan.

Yeni menjelaskan bahwa night terror termasuk dalam kelompok parasomnia, yaitu gangguan tidur yang terjadi ketika seseorang bangun sebagian dari fase tidur.

“Gangguan seperti night terror termasuk dalam kelompok parasomnia, yakni gangguan bangun parsial dari fase Non-REM sebagaimana diklasifikasikan oleh American Academy of Sleep Medicine,” jelasnya.

Biasanya terjadi pada awal malam

night terror, gangguan tidur, kesehatan anak, Fase tidur, Night Terror pada Anak Bukan Kesurupan, Ini Penjelasan Dosen IPB, Night terror merupakan gangguan tidur, Biasanya terjadi pada awal malam, Gejala yang muncul saat night terror, Kurang tidur bisa menjadi pemicu, Orangtua diminta tetap tenang, Penting membedakan night terror dengan kejang

Ilustrasi anak sedih. Dosen IPB menjelaskan bahwa night terror merupakan gangguan tidur yang sering membuat anak berteriak atau panik saat tidur.

Night terror umumnya terjadi pada bagian awal waktu tidur. Episode ini biasanya muncul sekitar satu hingga satu setengah jam setelah anak tertidur.

“Sleep terror atau night terror umumnya muncul pada sepertiga awal malam, sekitar 60–90 menit setelah anak tertidur,” ujar dr. Yeni.

Saat episode terjadi, anak bisa menunjukkan berbagai gejala yang membuat orangtua khawatir.

Gejala yang muncul saat night terror

Anak yang mengalami night terror dapat tiba-tiba berteriak atau menangis saat tidur. Anak juga dapat terlihat sangat ketakutan atau gelisah.

Beberapa anak mengalami jantung berdebar, napas cepat, dan berkeringat.

Pada saat kejadian berlangsung, anak biasanya sulit dibangunkan dan tidak merespons ketika ditenangkan.

“Setelah episode berakhir, anak bisa tampak bingung sesaat lalu kembali tidur. Keesokan paginya, sebagian besar tidak mengingat kejadian tersebut,” jelas dr. Yeni.

Kurang tidur bisa menjadi pemicu

Pada sebagian besar kasus, night terror sebenarnya tidak berbahaya. Kondisi ini juga biasanya tidak membutuhkan pengobatan khusus, terutama jika jarang terjadi.

Yeni menjelaskan bahwa salah satu pemicu yang paling sering adalah kurang tidur.

“Anak yang terlalu lelah justru lebih berisiko mengalami episode ini. Karena itu, menjaga kecukupan dan kualitas tidur menjadi kunci utama,” katanya.

Orangtua diminta tetap tenang

Ketika night terror terjadi, orangtua diimbau untuk tetap tenang. Yeni menyarankan agar orangtua tidak membangunkan anak secara paksa.

“Jangan membangunkan anak secara paksa. Pastikan lingkungan aman agar anak tidak cedera,” ujarnya.

Jika diperlukan, orangtua juga dapat merekam kejadian tersebut sebagai bahan konsultasi dengan tenaga medis.

Penting membedakan night terror dengan kejang

Yeni mengingatkan bahwa night terror perlu dibedakan dengan kondisi kejang. Perbedaan utamanya terletak pada durasi dan pola gerakan.

Night terror biasanya berlangsung lebih lama dan gerakannya tidak selalu sama. Sementara itu, kejang biasanya berlangsung singkat dan memiliki pola gerakan yang sama setiap kali terjadi.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan electroencephalography (EEG) dapat dilakukan untuk merekam aktivitas gelombang otak.

“Kapan harus ke dokter? Jika kejadian sangat sering, gerakannya selalu sama dan sangat singkat, atau sampai menyebabkan cedera,” tegas dr. Yeni.

Umumnya akan membaik seiring pertumbuhan anak. Yeni menjelaskan bahwa night terror pada banyak anak merupakan bagian dari proses perkembangan sistem saraf.

Kondisi ini biasanya akan membaik seiring bertambahnya usia anak.

“Yang terpenting adalah orangtua memahami kondisi ini secara rasional dan tetap menjaga pola tidur anak dengan baik,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang