Kesedihan Ayah Pratu Farkhan: Anak Saya Mati Bukan di Ujung Senjata Musuh, tapi di Tangan Rekan Sendiri

Papua, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Pratu Farkhan, Intan Jaya, Kesedihan Ayah Pratu Farkhan: Anak Saya Mati Bukan di Ujung Senjata Musuh, tapi di Tangan Rekan Sendiri, Kronologi Kejadian di Distrik Homeyo, Pelaku Ditahan di POM Timika, Atensi Panglima TNI dan Presiden RI, Kekecewaan Sang Ayah, Permintaan Ibu Korban: Pecat Pelaku!

Isak tangis menyambut kedatangan jenazah Prajurit Satu (Pratu) Farkhan Syauqi Marpaung (23) di rumah duka, Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara, Sabtu (3/1/2026) dini hari.

Prajurit TNI yang bertugas di Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–Papua Nugini tersebut meninggal dunia pada Rabu (31/12/2025) setelah diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya sendiri saat bertugas di Papua Tengah.

Berikut adalah fakta-fakta terkait sosok Pratu Farkhan Syauqi Marpaung dan kronologi peristiwa yang menjadi perhatian serius Mabes TNI.

Kronologi Kejadian di Distrik Homeyo

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan prajurit dari Batalyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti, Aceh. Ia sedang menjalankan tugas negara di Pos TK Sanepa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

Berdasarkan keterangan Zakaria Marpaung, ayah korban, insiden bermula saat Farkhan merasa kurang enak badan.

Saat sedang menghangatkan badan di perapian, seorang bintara berpangkat Sersan datang memijatinya. Namun, tak lama berselang, datang seorang oknum senior berinisial Kopda F.

"Diajaknya ke samping, lalu disuruh tunduk, dipukul pakai ranting punggungnya. Disuruh peluk tobat, ditendang. Dia tersungkur, jatuh," ungkap Zakaria pilu saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/1/2026).

Pelaku Ditahan di POM Timika

Terduga pelaku, Kopda F, kini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan intensif di Polisi Militer (POM) Timika. Berdasarkan hierarki pangkat Tamtama TNI AD, Kopral Dua (Kopda) merupakan atasan dari Prajurit Satu (Pratu).

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI (Inf) Donny Pramono, menegaskan bahwa pimpinan TNI AD tidak akan mentoleransi tindakan kekerasan antar-prajurit.

"Almarhum adalah prajurit muda yang tengah menjalankan tugas negara. Apabila dari hasil penyelidikan terbukti adanya pelanggaran hukum maupun disiplin militer, maka proses hukum akan ditegakkan secara tegas," tegas Donny.

Atensi Panglima TNI dan Presiden RI

Kasus ini menarik perhatian tinggi hingga ke level tertinggi pimpinan negara. Komandan Brigif 25/Siwah, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, menyebutkan bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subianto telah memberikan instruksi langsung.

"Kasus ini mendapat atensi khusus dari Panglima TNI. Memang ada dugaan kekerasan, namun karena kejadian di daerah penugasan, ada proses dan mekanisme penyelidikan yang sedang berjalan," kata Dimar.

Ia juga menambahkan bahwa proses profesionalisme hukum dalam kasus ini dikawal langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Kekecewaan Sang Ayah

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Zakaria Marpaung. Ia bangga anaknya berani melakukan pembelaan diri di saat-saat terakhir, namun ia menyayangkan nyawa anaknya hilang di tangan rekan seperjuangan.

"Yang kukecewakan, anakku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anakku mati sesama TNI dan di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI," ujar Zakaria.

Zakaria mengingatkan agar tradisi kekerasan di tubuh TNI segera dihentikan.

"Mereka menyambung nyawa di sana, harusnya saling menguatkan, kenapa malah saling membunuh?" lanjutnya.

Permintaan Ibu Korban: Pecat Pelaku!

Ibu korban, Marsinah Wati Silalahi (54), yang sempat histeris saat peti jenazah tiba, meminta keadilan seadil-adilnya bagi sang putra.

"Setidaknya dicopot dari jabatannya dan dipecat. Serta dihukum yang seberat-beratnya. Hilangkan rasa ego, hilangkan rasa berbangga punya baju loreng untuk menganiaya bawahan. Kalau salah, diberitahu saja," tutur Marsinah dengan nada lirih.

Upacara pemakaman Pratu Farkhan Syauqi Marpaung dilaksanakan secara militer di TPU Dusun V, Desa Hessa Air Genting pada Sabtu siang. Kolonel Inf Dimar Bahtera bertindak sebagai inspektur upacara.

Meskipun keluarga tampak terpukul, prosesi pemakaman berjalan khidmat. Jenazah Farkhan diantarkan ke peristirahatan terakhirnya diiringi penghormatan senjata dari rekan-rekan prajurit, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya di tanah Papua.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan di Tribun-Medan.com dengan judul Terduga Pelaku Penganiayaan Pratu Farkhan Marpaung Diamankan, Ayah Korban Kesal

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang