Bukan Tidak Penting, Ini yang Terjadi pada Otak Anak Saat Mereka Bermain

pendidikan anak usia dini, Bukan Tidak Penting, Ini yang Terjadi pada Otak Anak Saat Mereka Bermain, Fondasi perkembangan anak dimulai sejak dini, Mengapa bermain sangat penting, Belajar dari permainan sederhana, Lingkungan bermain tidak harus mahal, Bermain adalah hak anak

Dunia bergerak semakin cepat, kehidupan anak pun mengalami perubahan yang jauh dari generasi sebelumnya.

Teknologi digital, arus informasi yang melimpah, serta tuntutan kompetensi masa depan membuat banyak orangtua merasa anak harus “cepat pintar”.

Akibatnya, tidak sedikit anak usia dini yang sejak kecil sudah dijejali berbagai aktivitas akademik, yakni kursus membaca, berhitung, bahkan pelajaran tambahan sebelum mereka benar-benar siap.

Padahal, masa awal kehidupan merupakan waktu anak belajar dengan cara yang sangat berbeda dari orang dewasa, yaitu melalui bermain.

Anggota ECED Council Indonesia Sisilia Maryati menjelaskan, anak-anak masa kini memang memiliki akses informasi yang luas. Namun, tantangan yang mereka hadapi juga semakin kompleks.

“Mereka harus mampu memilah informasi, memahami dunia yang terus berubah, serta beradaptasi dengan berbagai situasi baru,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (13/3/2026).

Oleh karena itu, Sisilia menegaskan, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menekankan kecerdasan akademik. 

Praktisi pendidikan dari Sekolah Mutiara Ibu Purworejo, Jawa Tengah (Jateng) itu mengatakan, anak juga perlu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan bekerja sama.

Keterampilan itu dikenal sebagai keterampilan abad ke-21 atau creativity, critical thinking, communication, and collaboration (4C).

Pertanyaannya, kapan kemampuan-kemampuan ini seharusnya mulai dibangun? Jawabannya jauh lebih awal dari yang sering kita bayangkan.

Fondasi perkembangan anak dimulai sejak dini

Penelitian perkembangan anak menunjukkan bahwa masa paling menentukan dalam kehidupan manusia justru terjadi pada usia dini. 

Periode tersebut sering disebut sebagai golden age, yakni ketika perkembangan otak berlangsung sangat pesat.

Setiap pengalaman yang dialami anak membentuk hubungan antarsel saraf di otaknya. Semakin kaya pengalaman yang diperoleh, semakin kuat pula jaringan saraf yang terbentuk.

Pada masa itu, anak belajar hampir dari segala hal yang mereka temui, yaitu suara, bahasa, gerak tubuh, ekspresi emosi, hingga cara orang dewasa berinteraksi.

Sisilia mengatakan, pendidikan anak usia dini (PAUD) bukan hanya untuk mempersiapkan anak masuk sekolah dasar. 

“Yang jauh lebih penting adalah membangun fondasi perkembangan anak secara menyeluruh, mulai dari emosional, sosial, kognitif, motorik, hingga karakter,” terangnya.

Fondasi tersebut dianggap menentukan kemampuan anak dalam belajar, beradaptasi, dan menghadapi tantangan kehidupan pada masa depan.

Mengapa bermain sangat penting

Bagi anak usia dini, bermain bukan sekadar kegiatan mengisi waktu; bermain adalah cara utama mereka belajar.

Saat bermain, anak mencoba berbagai hal, bereksperimen, berimajinasi, dan memecahkan masalah. 

Mereka juga belajar berinteraksi dengan teman, berbagi peran, serta memahami aturan sosial.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, bermain masih sering dianggap sebagai kegiatan yang tidak serius.

Tidak jarang orangtua mengatakan kepada anak, “jangan main terus, ayo belajar dulu”.

Padahal, bagi anak kecil, bermain dan belajar adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Penelitian di bidang neuroscience perkembangan menunjukkan, anak belajar paling efektif ketika mereka berada dalam kondisi emosional yang positif, merasa aman, senang, dan bebas dari tekanan.

Kondisi seperti itu justru muncul secara alami ketika anak bermain. Saat bermain, anak biasanya terlibat penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi. 

Otak mereka aktif membangun koneksi saraf baru yang menjadi dasar berbagai kemampuan berpikir di masa depan.

Belajar dari permainan sederhana

Sekilas aktivitas bermain anak sering terlihat sederhana. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, proses belajar yang kompleks sebenarnya sedang terjadi.

Misalnya, ketika anak membuat “kereta” dari kursi, balok, atau benda-benda di sekitarnya.

Mereka merancang ide, memilih bahan yang bisa digunakan, menyusun, dan memperbaiki ketika susunannya tidak berhasil. Anak juga berdiskusi dengan teman, berbagi peran, bahkan berdebat kecil.

Semua proses itu melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah. 

Dengan kata lain, melalui permainan sederhana, anak sedang mengembangkan berbagai keterampilan yang kelak sangat dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

Lingkungan bermain tidak harus mahal

Lingkungan memiliki peran besar dalam mendukung pengalaman bermain anak.

Namun, lingkungan bermain yang baik tidak harus selalu mahal atau dipenuhi mainan modern. 

Banyak permainan justru bisa muncul dari benda-benda sederhana di sekitar anak. Balok kayu, kardus bekas, pasir, air, daun, atau batu kecil dapat memicu imajinasi anak untuk menciptakan berbagai permainan. 

Sisilia mengatakan, anak tidak selalu membutuhkan mainan mahal, tetapi ruang untuk bereksplorasi.

“Yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk mencoba, bereksplorasi, dan menggunakan imajinasi mereka,” katanya.

Dalam proses itu, orang dewasa berperan sebagai pendamping, bukan pengatur permainan. Terlalu banyak instruksi justru dapat mematikan rasa ingin tahu anak.

Sebaliknya, orangtua atau guru dapat memperkaya pengalaman bermain dengan pertanyaan yang mendorong anak berpikir.

Contohnya adalah “apa yang terjadi jika balok besar diletakkan di atas balok kecil?”, “bagaimana supaya kereta ini bisa dinaiki?”, “keretanya mau pergi ke mana?”.

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat membuka ruang eksplorasi yang lebih luas bagi anak.

Bermain adalah hak anak

Dalam Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bermain diakui sebagai hak dasar setiap anak. Anak berhak untuk bermain, berekreasi, dan menikmati kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Oleh karena itu, membatasi kesempatan bermain sebenarnya sama dengan mengurangi kesempatan anak untuk belajar dan berkembang.

Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu memastikan bahwa anak memiliki ruang yang cukup untuk bermain, bereksplorasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Sisilia menegaskan, sudah waktunya semua orang melihat bermain dengan cara yang berbeda. 

“Bermain bukanlah lawan dari belajar. Justru bagi anak usia dini, bermain adalah cara belajar yang paling alami,” jelasnya.

Melalui bermain, anak belajar memahami dunia, membangun hubungan dengan orang lain, serta mengembangkan berbagai kemampuan yang akan mereka gunakan sepanjang hidup.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang