Psikolog: Pekerjaan Anda Bukan Identitas Anda, Banyak Anak Muda Belum Menyadarinya
Banyak anak muda merasa gagal ketika pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan harapan, jurusan kuliah, atau target karier yang mereka bayangkan sejak lama.
Tak sedikit yang kemudian mulai meragukan kemampuan diri, merasa tertinggal dari teman sebaya, hingga mengalami quarter-life crisis di usia 20-an.
Padahal, menurut psikolog, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan pekerjaan dengan identitas diri.
Psikolog Ibunda.id Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa pekerjaan saat ini tidak selalu mencerminkan siapa seseorang sebenarnya.
"Pekerjaan Anda saat ini adalah apa yang Anda lakukan untuk membayar tagihan, bukan siapa Anda yang sebenarnya," ujar Danti saat diwawancarai Kamis (11/6/2026).
Pandangan ini menjadi penting di tengah fenomena banyak lulusan yang bekerja di luar bidang studinya atau merasa kapasitasnya belum sepenuhnya terpakai di dunia kerja.
Ketika pekerjaan menjadi sumber penilaian diri
Danti menjelaskan, banyak lulusan muda yang tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai tolok ukur utama untuk menilai harga diri.
Ketika pekerjaan tidak sesuai ekspektasi, mereka kemudian merasa gagal sebagai individu.
Padahal, menurut dia, identitas seseorang jauh lebih luas daripada jabatan, posisi, atau tempat bekerja.
Masalah mulai muncul ketika seseorang menganggap pekerjaan sebagai representasi penuh dari dirinya. Akibatnya, setiap kesulitan karier terasa seperti kegagalan personal.
Kondisi tersebut dapat semakin berat ketika individu terus membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses di media sosial.
Di sisi lain, tekanan pasar kerja yang kompetitif membuat banyak lulusan harus menerima pekerjaan yang mungkin belum sesuai dengan latar belakang pendidikan atau cita-cita awal mereka.
Mengapa banyak anak muda merasa kehilangan arah?
Ilustrasi Gen Z di tempat kerja. Di tengah tekanan karier dan quarter-life crisis, banyak anak muda tanpa sadar menjadikan pekerjaan sebagai ukuran nilai diri, padahal identitas seseorang jauh lebih luas daripada profesinya.
Menurut Danti, perasaan kehilangan arah sering muncul ketika seseorang hanya berfokus pada aspek pekerjaan, sementara kebutuhan untuk berkembang dan mengaktualisasikan diri tidak terpenuhi.
Akibatnya, muncul keyakinan bahwa hidup sedang berjalan ke arah yang salah.
Padahal, pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari perjalanan hidup dan karier seseorang.
Karena itu, Danti mengingatkan pentingnya menjaga jarak psikologis yang sehat antara identitas diri dan pekerjaan yang sedang dijalani.
Dengan cara tersebut, seseorang tetap dapat melihat dirinya sebagai individu yang memiliki kemampuan, nilai, minat, dan potensi, terlepas dari posisi kerja yang sedang ditempati.
Tetap aktualisasi diri di luar pekerjaan utama
Danti menyarankan agar lulusan muda tidak menggantungkan seluruh rasa percaya dirinya pada pekerjaan saat ini.
Sebaliknya, mereka perlu mencari ruang lain untuk mengembangkan kemampuan dan minat yang dimiliki.
"Carilah ruang di luar pekerjaan utama, seperti proyek sampingan, komunitas, atau kursus untuk tetap mengaktualisasikan kemampuan yang lebih tinggi agar self-efficacy tetap terjaga," kata Danti.
Menurut dia, langkah tersebut dapat membantu seseorang tetap merasa berkembang meski pekerjaan yang dijalani saat ini belum sepenuhnya sesuai harapan.
Selain itu, aktivitas di luar pekerjaan juga dapat menjadi pengingat bahwa kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh satu jabatan atau satu tempat kerja saja.
Fokus pada hal yang bisa dikendalikan
Di tengah kondisi pasar kerja yang tidak selalu ideal, Danti mengingatkan pentingnya memusatkan perhatian pada hal-hal yang masih berada dalam kendali diri.
Ia menjelaskan bahwa sulitnya pasar kerja atau ketidaksesuaian jurusan dan pekerjaan sering kali berada di luar kendali individu.
Karena itu, energi sebaiknya diarahkan pada hal-hal yang bisa dilakukan secara nyata, seperti memperbarui resume, mengembangkan keterampilan, memperluas jaringan profesional, dan menjaga kesehatan mental.
Dengan cara tersebut, seseorang tidak terjebak dalam perasaan gagal hanya karena posisi kariernya belum sesuai harapan.
Pada akhirnya, kata Danti, pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari kehidupan, bukan keseluruhan identitas seseorang. Memahami hal ini dapat membantu anak muda menghadapi tekanan karier dengan lebih sehat dan realistis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang