Quraish Shihab Ingatkan Prabowo: Kekuasaan Adalah Ujian dari Tuhan
Pakar tafsir Al-Qur’an Indonesia, Quraish Shihab, menyampaikan pesan reflektif kepada Presiden Prabowo Subianto saat memberikan ceramah dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Selasa 10 Maret 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa kekuasaan pada hakikatnya merupakan amanah sekaligus ujian yang tidak ringan.
Menurut Quraish Shihab, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
“Kita dalam hidup ini pasti mengalami pasang, pasti ada ujian-ujian yang kita hadapi. Ujian itu berat, Bapak Presiden. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat ujiannya,” kata Quraish Shihab dalam peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, Selasa 10 Maret 2026, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.
Ia menambahkan bahwa sejarah menunjukkan para nabi dan rasul pun tidak luput dari ujian berat ketika menjalankan tugasnya. Karena itu, para pemimpin juga harus siap menghadapi berbagai tantangan, kritik, hingga tekanan ketika memegang amanah kekuasaan.
“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga tanpa diuji? Pasti ada ujian. Rasul-rasul dan umat-umat beriman sebelum ini telah digoncang dengan berbagai ujian,” katanya mengutip pesan Al-Qur'an.
Selain berbicara mengenai ujian kekuasaan, Quraish Shihab juga menyinggung keistimewaan Al-Qur'an sebagai kitab suci yang memiliki keseimbangan luar biasa dalam susunan kata-katanya. Ia menjelaskan bahwa banyak penelitian menunjukkan pengulangan kata di dalam Al-Qur'an tersusun secara sangat teratur dan penuh makna.
Ia mencontohkan kata yaum yang berarti hari disebutkan sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun. Sementara kata bulan disebutkan 12 kali, sesuai jumlah bulan dalam satu tahun. Bahkan kata hari dalam bentuk jamak juga disebut sekitar 30 kali.
Menurut Quraish Shihab, keteraturan tersebut menunjukkan keunikan Al-Qur'an sebagai kitab suci yang diturunkan dalam berbagai situasi dan waktu yang berbeda, tetapi tetap memiliki keseimbangan bahasa yang mengagumkan.
Tidak hanya itu, keseimbangan juga terlihat pada kata-kata yang memiliki makna berlawanan.
“Panas sama jumlahnya dengan dingin. Iman sama jumlahnya dengan kufur. As-shalihat sama jumlahnya dengan keburukan. Ini menunjukkan keseimbangan yang sangat menakjubkan,” kata dia.
Menurutnya, keseimbangan yang ditunjukkan Al-Qur'an tersebut sebenarnya menjadi pelajaran bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Alam semesta, kata dia, juga diciptakan dengan prinsip keseimbangan yang sangat rapi, termasuk hubungan antara matahari dan bulan.
“Matahari dan bulan berjalan dengan peredaran yang sangat teliti. Menarik bahwa bulan menyerap sinar dari matahari lalu memantulkannya ke bumi. Bisakah kita meniru bulan? Sebanyak yang dia terima, sebanyak itu pula yang dia beri,” tutur Qurasih Shihab.
Filosofi tersebut, lanjut Quraish Shihab, mengandung pesan moral bahwa manusia seharusnya mampu memberi manfaat kepada sesama sebesar apa yang ia terima dalam kehidupan.
Dalam ceramah itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan. Menurutnya, perbedaan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan masyarakat.
Ia menilai Al-Qur'an sendiri memberikan ruang bagi perbedaan pemahaman, termasuk dalam hal penentuan awal puasa. Bahkan, menurutnya, perbedaan juga bisa terjadi dalam penentuan hari raya.
“Kalau kemarin kita berbeda dalam berpuasa, terbuka kemungkinan kita juga berbeda dalam berlebaran. Tapi perbedaan sama sekali tidak harus melahirkan konflik,” tutur Quraish Shihab.
Pada bagian akhir ceramahnya, Quraish Shihab menyinggung pentingnya menegakkan keadilan dalam menjalankan kekuasaan. Ia mengutip pesan Khalifah Abu Bakar yang menegaskan bahwa pemimpin harus berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
“Yang kuat di antara kamu lemah di sisiku sampai aku mencabut hak orang lain yang diambilnya. Yang lemah kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya kepadanya,” ucapnya.
Menurut Quraish Shihab, prinsip tersebut dapat menjadi landasan moral bagi upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
“Niat Bapak untuk memberantas korupsi dapat dilakukan dengan adil melalui pemahaman Sayidina Abu Bakar,” katanya.
Ia pun menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa kekuasaan pada akhirnya berasal dari Tuhan dan harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
“Kekuasaan bersumber dari Tuhan. Tidak ada yang diberi kekuasaan kecuali atas kehendak Tuhan,” tegas Quraish Shihab.