Mengapa Olahraga Sebelum Berbuka Lebih Efektif Membakar Lemak

Mengapa Olahraga Sebelum Berbuka Lebih Efektif Membakar Lemak

Banyak orang tetap berolahraga selama bulan Ramadhan untuk menjaga kebugaran tubuh. Salah satu waktu yang sering dipilih adalah menjelang berbuka puasa.  Apakah olahraga sebelum berbuka benar-benar efektif untuk membakar lemak?

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, mengatakan, olahraga dalam kondisi perut kosong memang dapat membantu proses pembakaran lemak dalam tubuh.

“Setuju, memang benar olahraga pada saat perut saat kosong itu yang terbakar lemaknya,” kata dr. Ega saat ditemui di Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurut dia, kondisi tubuh saat berpuasa membuat sistem metabolisme bekerja dengan cara yang sedikit berbeda dibandingkan saat tubuh mendapatkan asupan makanan secara normal.  Hal ini berkaitan dengan bagaimana tubuh menggunakan cadangan energi yang tersedia.

Cadangan gula darah tetap tersedia saat puasa

Dr. Ega menjelaskan, meskipun seseorang tidak makan selama berjam-jam, tubuh masih memiliki cadangan energi yang bisa digunakan untuk aktivitas fisik. Energi tersebut berasal dari gula darah yang tersimpan di dalam tubuh.

“Selama berpuasa, gula darah itu tetap ada di dalam tubuh meskipun tidak makan hampir 13 belas jam. Olahraga yang aman saat puasa itu yang intensitasnya sedang seperti jogging,” ujarnya.

Selama cadangan gula darah masih tersedia, tubuh akan memanfaatkannya sebagai sumber energi utama untuk melakukan aktivitas, termasuk olahraga. 

Oleh karena itu, jenis olahraga dengan intensitas sedang dinilai lebih aman dilakukan saat puasa. Aktivitas seperti jogging, jalan cepat, atau latihan kardio ringan dapat menjadi pilihan yang tepat karena tidak membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Kapan lemak mulai digunakan sebagai energi

Ketika cadangan gula darah mulai menipis, tubuh akan mencari sumber energi lain untuk mempertahankan aktivitas fisik. Pada tahap inilah cadangan lemak dalam tubuh mulai digunakan.

“Energi yang dibutuhkan tidak terlalu banyak, sehingga bisa menggunakan sumber energi dari gula darah yang tersisa di tubuh selama puasa,” jelas dr. Ega.

Ia menambahkan, proses tersebut kemudian berlanjut pada pemanfaatan cadangan lemak.

“Ketika gula darahnya sudah mulai habis, dia mengambil cadangan gula dari lemak. Jadi cadangan lemak kita dibakar menjadi sumber energi untuk kita pergerakan olahraga,” katanya.

Inilah yang membuat olahraga saat perut kosong sering dikaitkan dengan proses pembakaran lemak.  Meski demikian, hal tersebut tetap harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi tubuh dan jenis aktivitas yang dilakukan.

Waktu olahraga untuk intensitas lebih tinggi

Bagi orang yang ingin melakukan olahraga dengan intensitas lebih tinggi, waktu latihan perlu dipertimbangkan dengan lebih hati-hati. 

“Kalau memang mau olahraga yang intensitas lebih tinggi, seperti gym, angkat beban atau treadmill di gym, disarankan mungkin 1 sampai 1,5 jam sebelum kita buka puasa,” saran dr. Ega.

Menurut dia, pemilihan waktu tersebut bertujuan agar tubuh tidak mengalami kekurangan gula darah akibat aktivitas fisik yang terlalu berat saat puasa.

“Tujuannya agar kita tidak mengalami yang namanya gejala hipoglikemia karena terlalu banyak gula yang dipakai,” jelasnya.

Hipoglikemia merupakan kondisi ketika kadar gula darah turun terlalu rendah, yang dapat menyebabkan gejala seperti pusing, lemas, hingga berkeringat dingin.

Maka dari itu, pemilihan jenis dan waktu olahraga saat puasa tetap perlu dilakukan secara bijak. 

Pemilihan waktu yang tepat, jenis aktivitas yang sesuai, serta penyesuaian intensitas latihan menjadi faktor penting agar tubuh tetap bugar tanpa menimbulkan risiko kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang