CFO Fokus Hemat, CMO Kejar Growth: AI Sudah Masuk ke Jantung Bisnis dan Jadi Titik Panas di Perusahaan

Chief Marketing Officer Twilio Chris Koehler.
Chief Marketing Officer Twilio Chris Koehler.

Menurut Chief Marketing Officer (CMO) Twilio, Chris Koehler, dampaknya jauh melampaui efisiensi operasional.

Menurutnya, AI mendorong perubahan cara berpikir dan bekerja, serta cara perusahaan bersaing.

“AI bukan lagi sekadar alat tapi mengubah cara kita beroperasi. Siapa yang kita rekrut dan bagaimana kita memenangkan pasar,” ujarnya.

Adaptasi terhadap AI bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang menemukan cara baru untuk tumbuh.

Ketika dipandang sebagai innovation multiplier, AI memungkinkan marketing memperluas strategi yang berhasil, menciptakan personalisasi berskala besar, dan mengambil keputusan berbasis data secara real-time.

Pengalaman Twilio membuktikan dampak nyatanya. Sebesar 90 persen prospek diarahkan secara otomatis, 75 persen keluhan pelanggan terselesaikan tanpa intervensi manusia, dan waktu peluncuran kampanye personalisasi berkurang hingga 75 persen.

Kecerdasan buatan (AI) membebaskan tim pemasaran untuk fokus pada strategi jangka panjang, narasi merek, dan eksperimen kreatif yang berdampak tinggi.

Namun, tantangan muncul dari perbedaan sudut pandang antara CMO dan CFO (chief financial officer).

Di mata Chris, CFO cenderung melihat AI sebagai alat efisiensi biaya, sementara CMO melihatnya sebagai mesin pertumbuhan.

Jika AI hanya dibatasi pada penghematan, potensi inovasi akan terhambat.

Faktanya, meski 90 persen perusahaan mengklaim telah melakukan personalisasi real-time, namun hanya 45 persen konsumen yang merasa benar-benar dipahami.

Solusinya adalah strategi AI yang disepakati bersama. Sedangkan, CMO perlu mengaitkan investasi AI dengan metrik bisnis yang relevan bagi CFO—mulai dari peningkatan ROI (return on investment), efisiensi operasional, mitigasi risiko, hingga percepatan go-to-market.

Keberhasilan Twilio, klaim Chris, adalah saat meluncurkan 1-800-ChatGPT bersama OpenAI menunjukkan bahwa AI hanya efektif jika didukung keselarasan lintas tim dan eksekusi terkoordinasi.

"Keberhasilan AI bukan soal teknologi semata, tetapi tentang pola pikir, kolaborasi, dan keberanian untuk bertindak bersama—sekarang, bukan nanti. Pada akhirnya, keunggulan kompetitif tidak ditentukan oleh seberapa canggih AI yang dimiliki perusahaan, melainkan oleh seberapa tepat dan selaras AI dimanfaatkan," tegas dia.