Jeritan Vina, "Pengantin Pesanan" asal Cirebon yang Terjebak di China: Pak Dedi Mulyadi, Tolong Saya...

Sebuah rekaman video berdurasi 59 detik menjadi jendela bagi publik untuk melihat nestapa yang dialami Vina, seorang perempuan muda asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dalam video yang viral di media sosial tersebut, wajah Vina tampak diselimuti ketakutan yang mendalam.
Dari ribuan kilometer jauhnya di daratan China, ia mengirimkan pesan darurat. Targetnya satu: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Saya memohon dengan sangat kepada Gubernur Jawa Barat Pak Dedi Mulyadi, tolong bantu saya agar bisa kembali ke tanah air. Saya ingin kembali ke rumah, tolong bantu saya, Pak,” ujar Vina dengan suara bergetar dalam video yang diterima Kompas.com, Sabtu (28/2/2026).
Vina adalah satu dari sekian banyak perempuan yang diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus pengantin pesanan.
Alih-alih mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia justru terjebak dalam lingkaran kekerasan dan isolasi dokumen di negara asing.
Bermula dari Janji Manis di Pantai Indah Kapuk
Luka yang dialami Vina tidak terjadi seketika. Kuasa hukum keluarga korban, Asep Maulana Hasanudin dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Garuda Sakti, membeberkan bahwa semua bermula dari kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.
Di sana, Vina bertemu dengan seorang perantara yang menjanjikan pernikahan dengan pria asal China. Janjinya klise namun memikat: kehidupan yang jauh lebih mapan di luar negeri.
Proses "peminangan" pun tampak meyakinkan. Sang calon suami bersama rekannya beberapa kali mendatangi kediaman keluarga Vina di Cirebon untuk melamar secara resmi.
Hingga akhirnya, pada awal Agustus 2025, Vina diberangkatkan menuju China. Namun, sesampainya di sana, "mimpi indah" itu berubah menjadi mimpi buruk.
Komunikasi dengan keluarga perlahan dibatasi, hingga akhirnya Vina berhasil merekam video pengakuannya yang kini viral.
Disekap dan Mengalami Kekerasan Fisik
Vina Warga Desa Gombang Kecamatan Plumbon Kabupaten Cirebon Jawa Barat melakukan video call dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menceritakan dugaan tindak pidana perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan yang dialaminya di Cina, yang diterima Kompas.com Sabtu (28/2/2026) petang
Kondisi Vina saat ini jauh dari kata baik. Selain dokumen pentingnya ditahan oleh pihak tertentu, ia mengaku kerap menerima perlakuan kasar.“Vina mengaku beberapa kali mengalami dugaan kekerasan fisik apabila tidak menuruti keinginan para terduga pelaku,” ungkap Asep Maulana.
Kekhawatiran keluarga semakin memuncak karena status pernikahan Vina ternyata sudah terdaftar secara hukum di China. Hal ini menjadi batu sandungan birokrasi dalam proses pemulangannya.
“Kendalanya karena buku nikah sudah terlanjur terbit sehingga dianggap sah secara hukum di sana. Tapi kami yakin pemerintah dapat membantu Vina agar dapat kembali pulang,” tambah Asep.
Respon Cepat Gubernur Jabar dan DP3AKB
Video viral tersebut langsung mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pada Sabtu petang, Vina sempat melakukan video call langsung dengan orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.
Dalam percakapan itu, Dedi sempat memberikan teguran keras namun kebapakan kepada Vina.
“Pak Gubernur sempat memarahi saya, kenapa mau menikah dengan orang yang belum sangat dikenal. Saya memahami dan memang saya salah. Selain itu, Pak Gubernur juga meminta banyak informasi dari saya,” cerita Vina kepada Kompas.com.
Menanggapi kasus ini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jawa Barat, Siska Gerfianti, menyatakan bahwa pihaknya telah bergerak cepat melakukan penelusuran.
“Pemprov Jabar berkomitmen memberikan perlindungan kepada warga, khususnya perempuan dan anak yang diduga menjadi korban kekerasan atau TPPO,” tegas Siska dalam keterangan tertulisnya.
DP3AKB kini tengah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) karena kasus ini melibatkan lintas negara. Layanan pendampingan psikologis dan sosial juga telah disiapkan untuk menyambut kepulangan Vina nantinya.
Belajar dari Kasus Reni Rahmawati di Sukabumi
Tragedi yang menimpa Vina seolah mengulang luka lama. Belum genap satu tahun, tepatnya pada 18 November 2025, Pemprov Jabar baru saja memulangkan Reni Rahmawati, warga Sukabumi yang juga menjadi korban pengantin pesanan di Guangzhou, China.
Dedi Mulyadi mengingatkan masyarakat agar tidak lagi tergiur dengan iming-iming kekayaan instan melalui pernikahan lintas negara.
"Pada warga Jawa Barat, saya ingetin, jangan deh berorientasi kalau nikah sama orang asing, kemudian belum jelas statusnya siapa dia, itu akan jadi kaya," tegas Dedi di Gedung Sabuga ITB beberapa waktu lalu.
Bagi masyarakat yang menemukan indikasi praktik serupa, Pemprov Jabar menyediakan layanan pengaduan melalui:
- Hotline UPTD PPA: 0852-2220-6777
- Layanan SAPA: 129
Kini, Vina dan keluarganya di Cirebon hanya bisa berharap koordinasi antara Pemprov Jabar, Kemenlu, dan KBRI dapat segera memutus rantai penderitaannya dan membawanya pulang ke tanah air.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang