Awal Mula Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar Saling Balas di X, Berujung Tantangan Debat

Awal Mula Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar Saling Balas di X, Berujung Tantangan Debat

Menteri HAM Natalius Pigai dan Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar alias Uceng saling berbalas twit di media sosial X.

Percakapan keduanya memicu respons luas hingga sejumlah pihak, mulai dari stasiun televisi dan kanal YouTube, menawarkan forum untuk debat terbuka yang dapat disaksikan masyarakat.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Sabtu (28/2/2026), Pigai sempat mengunggah pernyataan yang menyebut Uceng enggan berdebat secara ilmiah. 

Dalam cuitannya, Pigai mengaku bahwa KompasTV sudah memberi tahu Uceng bahwa ia siap berdebat.

"Eh tiba2 video ini muncul. Beliau tidak mau debat ilmiah (ilmu pengetahuan)," tulis Pigai di akun X pribadinya @NataliusPigai2, Sabtu.

"Sampai disini kadar kualitas seorang Profesor. Jangan pernah nantang orang yang hidup di dunia HAM. Selesai!" tambahnya.

Lantas, bagaimana awal polemik antara Pigai dan Uceng hingga wacana debat terbuka mencuat?

Awal Mula Pigai dan Zainal Arifin Berbalas Twit

Sebelum saling membalas pernyataan, Pigai lebih dulu mengunggah tangkapan layar postingan Uceng di media sosial pada Rabu (25/2/2026) pukul 13.47 WIB.

Dalam unggahan tersebut, Uceng menyinggung pernyataan Pigai yang mengaku telah mempelajari hak asasi manusia (HAM) sejak usia lima tahun dan tidak pernah keliru dalam memahami isu tersebut.

Uceng mengutip pemberitaan salah satu media nasional dan menyertakan refleksi berdasarkan kutipan Imam Al Ghazali tentang empat kategori manusia. 

Berikut isi kutipan tersebut:

Sy cuma mau kutipkan Imam Al Ghazali, bahwa ada 4 jenis manusia:

Orang yang tahu dan dia tahu bahwa dia tahu, inilah yang harus jadi panutan.

Orang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu, ini orang yang perlu disadarkan.

Orang yang tidak tahu dan dia tahu bahwa dia tidak tahu, ini orang awam yang merasa perlu belajar dan wajib diajari

Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang jenis ini sesat dan menyesatkan, perlu dihindari.

Kira-kira anda semua masuk yang mana? Tulis di komen ya.

Pernyataan itu langsung ditanggapi oleh Pigai. Ia menegaskan pemahamannya mengenai HAM terbentuk dari pengalaman hidup di tengah konflik bersenjata di Papua, termasuk situasi antara OPM dan TNI, yang menurutnya membuat ia merasakan langsung tipisnya jarak antara hidup dan mati.

"Disitulah saya mengerti nilai fundamental tentang Hak Asasi Manusia. Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang2 tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara telah teruji dengan mengarungi badai dan gelombang, cacian, makian dan hinaan," kata Pigai di X.

Uceng lalu merespons dengan menyatakan keinginannya belajar langsung dari Pigai serta mengajak berdiskusi dan mendebatkan berbagai kasus HAM di Indonesia yang dinilai telah dipahami oleh Pigai.

"Sebut saja kapan dan dimana sy bs belajar," tulis Uceng di kolom komentar cuitan Pigai.

"Memahami HAM bukan hanya soalan hidup di bawah moncong senjata Pak dan pernah di Komnas HAM. Ada mantan komisioner KPK yang juga penegak hukum dari muda tapi tetap saja korupsi. Memahami bukan berarti anda pasti benar. Benarnya anda akan diukur dengan kerja2 penegakan HAM," tambahnya.

Menanggapi hal itu, Pigai menyatakan kesediaannya mengikuti debat terbuka yang disiarkan televisi nasional. 

Ia menyebut siap menyiapkan materi dan berdiskusi secara ilmiah. Pigai juga meminta Uceng menyimak podcast di kanal YouTube Fadli Zon sebelum debat berlangsung.

Sejumlah pihak kemudian menawarkan keduanya untuk berdebat secara terbuka. Uceng menyampaikan bahwa dirinya telah dihubungi Direktur Utama KompasTV, Rosianna Silalahi, terkait tawaran debat di program Rosi di KompasTV.

"Baru aja dicolek mbak @Rosianna766Hi katanya dia sediakan tempat dan waktu di acara Rosi @KompasTV... Gimana Pak @NataliusPigai2," cuit Uceng.

Sikap Uceng soal Rencana Debat

Uceng menilai pertemuan terbuka bisa menjadi momentum untuk menjelaskan kinerja penegakan HAM. 

Ia berpendapat kondisi penegakan HAM di Indonesia, khususnya dalam dua tahun terakhir, perlu mendapat evaluasi publik.

"Menurut saya bagus juga kalau beliau mau datang, supaya jadi kayak semacam pertanggungjawaban terhadap kerja dia," kata Uceng, dikutip dari , Jumat (27/2/2026).

"Saya sih berharap ini bukan, kalau debat teoritik sih ngapain. Itu urusan debat teoritik datangi kampus aja. Kalau publik kan barangkali yang dia berharap itu adalah apa sebenarnya yang sudah dilakukan," ucapnya.

Uceng mengaku, pada dasarnya enggan terlibat debat. Namun, menurutnya, pejabat publik dalam sistem demokrasi perlu menjawab kritik dengan data dan kinerja, bukan sekadar slogan.

"Itu masa kampanye yang gitu-gitu. 'Kami akan melakukan ini, kami akan berbuat baik, kami sudah memahami persoalan', itu kan di masa kampanye. Masa dua tahun kerja ini, apa yang dilakukan. Itu yang paling penting sebenarnya," ungkapnya.

Uceng menambahkan bahwa dirinya sebenarnya sudah lelah saling berbalas cuitan di X. Karena itu, ia menilai lebih baik perdebatan dilakukan secara langsung.

"Dan menurut saya, bagian dari nagih. Saya mewakafkan diri saya untuk nagih itu (kinerja). Saya sih enggak suka debat, tapi kalau menurut saya ya saya mau pengen mewakafkan waktu saya untuk nagih. Capek juga sih debat di Twitter, jadi mending sekalian langsung aja," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang