Awal Mula Penyebaran Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Kini Muncul Kasus di Swiss dan Singapura

Penumpang yang Tunjukkan Gejala Hantavirus Dievakuasi dari MV Hondius
Penumpang yang Tunjukkan Gejala Hantavirus Dievakuasi dari MV Hondius

Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius kini menjadi perhatian dunia setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dan sejumlah kasus lain terdeteksi di beberapa negara. Otoritas kesehatan internasional juga masih melakukan pelacakan terhadap para penumpang yang sudah kembali ke negara masing-masing.

Lantas, seperti apa awal mula penyebaran hantavirus di kapal pesiar tersebut? Scroll untuk info lebih lanjut... 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir dari The Guardian, MV Hondius memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Kapal ekspedisi tersebut membawa sekitar 150 penumpang dan kru dari berbagai negara untuk melakukan perjalanan menuju wilayah Atlantik Selatan hingga Tanjung Verde.

Selama perjalanan, kapal sempat mengunjungi sejumlah area satwa liar terpencil. Dari sinilah dugaan awal paparan virus mulai muncul, meski sumber pasti wabah hingga kini belum dipastikan.

Beberapa hari setelah kapal berlayar, sejumlah penumpang mulai mengalami gejala mirip flu seperti demam, nyeri otot, dan gangguan pernapasan. Namun saat itu kasus belum dicurigai sebagai hantavirus.

Korban pertama dilaporkan meninggal dunia pada 11 April saat kapal masih berada di tengah pelayaran. Pria asal Belanda berusia 70 tahun itu awalnya disebut meninggal karena penyebab alami sehingga belum memicu kewaspadaan besar di atas kapal.

Situasi mulai berubah ketika MV Hondius berhenti di Pulau St Helena pada 24 April. Sebanyak 30 penumpang turun dari kapal, termasuk istri korban pertama yang membawa jenazah suaminya keluar dari kapal.

Setelah turun dari kapal, para penumpang melanjutkan perjalanan ke berbagai negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, hingga Afrika Selatan. Dua hari kemudian, istri korban pertama dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit Johannesburg, Afrika Selatan. 

Kematian tersebut mulai memicu investigasi lebih lanjut karena pasien diketahui memiliki riwayat perjalanan yang sama dengan korban pertama. Kasus di kapal kemudian semakin menjadi perhatian setelah korban ketiga dilaporkan meninggal dunia pada awal Mei. 

Saat kapal tiba di Praia, Tanjung Verde, otoritas kesehatan mulai melakukan pemeriksaan terhadap para penumpang dan kru. Pengujian laboratorium kemudian memastikan adanya strain Andes dari hantavirus pada beberapa pasien. 

Strain ini tergolong langka karena diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak yang sangat dekat. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut hingga kini terdapat delapan kasus terkait wabah di MV Hondius. Dari jumlah tersebut, lima kasus sudah dikonfirmasi positif hantavirus.

Meski demikian, WHO menegaskan risiko penyebaran global masih rendah karena virus tersebut tidak menular semudah COVID-19 atau flu.

Terakhir, kabar terbaru menyebut wabah mulai terdeteksi di negara lain setelah penumpang kembali dari perjalanan. Seorang penumpang di Swiss dilaporkan positif hantavirus dan kini menjalani perawatan di rumah sakit di Zurich.

Sementara itu, Singapura juga mengisolasi dua warga yang sempat berada di kapal MV Hondius. Keduanya menjalani pemeriksaan di National Centre for Infectious Diseases (NCID). Salah satu penumpang dilaporkan mengalami gejala ringan, sedangkan satu lainnya tidak menunjukkan gejala.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejumlah negara kini terus melakukan pemantauan terhadap penumpang yang sempat berada di kapal. Otoritas kesehatan di Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Swiss, Kanada, Afrika Selatan, hingga Singapura dilaporkan ikut melakukan pelacakan kontak.

Tiga pasien juga telah dievakuasi untuk menjalani perawatan medis lebih lanjut di Eropa. Para ahli kesehatan menduga penularan awal kemungkinan berasal dari paparan hewan pengerat di wilayah satwa liar yang dikunjungi kapal selama perjalanan sebelum akhirnya terjadi penularan terbatas di dalam kapal pesiar.