BMKG Prakirakan Cuaca Lebaran 2026 Didominasi Berawan, Wilayah Ini Potensi Hujan Lebat Saat Hari Raya
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca saat Hari Raya Idul Fitri 2026 di sejumlah wilayah Indonesia akan didominasi oleh kondisi berawan dengan potensi hujan, termasuk hujan lebat di beberapa provinsi.
Informasi ini menjadi perhatian karena periode Lebaran identik dengan mobilitas masyarakat yang tinggi, baik untuk mudik maupun aktivitas liburan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa potensi hujan masih perlu diwaspadai meskipun secara umum kondisi cuaca saat Lebaran diperkirakan tidak didominasi cuaca ekstrem.
“Kalau hujan lebat, tadi sudah saya sebutkan di beberapa provinsi yang dapat kita perhatikan, tapi pada saat Lebaran diperkirakan didominasi kondisi berawan hingga berpotensi hujan lebat,” kata Faisal saat menyampaikan paparan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/3/2026) dikutip dari Antara.
Prakiraan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam mempersiapkan berbagai sektor yang terdampak aktivitas mudik dan libur panjang Lebaran.
Apa saja faktor yang memengaruhi cuaca menjelang Lebaran?
BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca menjelang dan selama periode libur Lebaran dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.
Faisal menjelaskan terdapat beberapa fenomena atmosfer yang berperan, antara lain:
- Monsun Asia yang membawa lebih banyak uap air ke wilayah Indonesia
- Madden Julian Oscillation (MJO), yaitu fenomena pergerakan aktivitas awan dan hujan di wilayah tropis yang bergerak ke arah timur
- Gelombang atmosfer yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan
- Potensi tumbuhnya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Menurut Faisal, kombinasi dari berbagai faktor tersebut menyebabkan potensi peningkatan curah hujan pada periode tertentu di bulan Maret.
“Dengan demikian, di pekan kedua Maret ini ada potensi kenaikan curah hujan, tapi selanjutnya akan menurun,” ujar Faisal.
Wilayah mana yang perlu mewaspadai hujan sangat lebat?
BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi curah hujan sangat tinggi di beberapa wilayah Indonesia selama bulan Maret.
Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, maupun genangan di kawasan perkotaan.
“Kita perlu mewaspadai tiga provinsi yang berpotensi mengalami curah hujan sangat tinggi, yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan,” kata dia.
Dengan adanya potensi cuaca tersebut, masyarakat di wilayah rawan diimbau untuk tetap memperhatikan informasi prakiraan cuaca yang diperbarui secara berkala oleh BMKG.
Sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat saat periode mudik dan libur Lebaran, BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi cuaca secara berkala. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah, operator transportasi, serta masyarakat dalam merencanakan perjalanan dengan lebih aman.
BMKG juga terus melakukan pemantauan terhadap dinamika atmosfer yang berkembang di wilayah Indonesia agar potensi cuaca ekstrem dapat diantisipasi lebih dini.
Apa perkiraan tanggal Idul Fitri 2026?
Selain memantau kondisi cuaca, BMKG juga merilis data astronomi terkait kemungkinan penentuan awal Syawal 1447 Hijriah.
Berdasarkan analisis astronomi, Idul Fitri 1447 Hijriah diperkirakan berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Perkiraan tersebut mengacu pada peta ketinggian hilal tahun 2026 yang digunakan untuk memantau kemungkinan terlihatnya bulan sabit muda sebagai penanda awal bulan Syawal.
Dalam data BMKG, posisi hilal pada 29 Ramadhan 1447 Hijriah atau 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas yang digunakan negara-negara anggota MABIMS, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Kriteria MABIMS menetapkan awal bulan hijriah dapat ditetapkan apabila ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam. Jika posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Ramadhan biasanya digenapkan menjadi 30 hari.
Meski terdapat analisis astronomi dari BMKG, penetapan resmi 1 Syawal 1447 Hijriah tetap akan dilakukan oleh pemerintah melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang