Cara Mengelola Emosi Saat Kesal dengan Sikap Keluarga di Hari Lebaran
Berkumpul dengan keluarga besar saat Lebaran tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Sering kali, momen kebersamaan ini memicu kemunculan berbagai emosi negatif, mulai dari rasa kesal, sedih, hampa, hingga marah, akibat pertanyaan basa-basi yang menyudutkan privasi.
Alhasil, banyak individu memilih diam, menahan diri, atau mengabaikan perasaan tidak nyaman tersebut demi menjaga kerukunan keluarga.
Namun, Psikolog Klinis Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, menjelaskan, menekan emosi secara paksa justru berisiko memicu ledakan amarah yang merugikan diri sendiri maupun orang lain di sekitarmu.
"Semua yang dirasakan adalah emosi yang valid dan boleh dirasakan. Boleh marah? Ya boleh. Tapi kalau marah sambil mukul orang, itu enggak tepat. ," jelas dia dalam webinar KALM Counseling bertajuk "Nelen Sabar Sampe Kenyang: Tips Biar Nggak Meledak Pas Lebaran", Sabtu (14/3/2026).
Akar masalah dari pola asuh
Banyak orang kesulitan mengekspresikan perasaannya secara tepat sasaran. Ketakutan bahwa respons mereka akan memicu konflik membuat sebagian besar individu lebih memilih untuk memendam perasaan atau sekadar kabur dari situasi.
"Emosi yang negatif memang cenderung ingin kita hindari untuk dirasakan. Ingin diabaikan. Akhirnya, kita memunculkan beberapa perilaku yang tidak adaptif," terang Wenny.
Beberapa perilaku tersebut bisa berupa menyakkiti diri sendiri, atau meyakiti orang lain, karena belum belajar cara untuk mengelola emosi yang tepat.
Ilustrasi Lebaran Berapa Hari Lagi? Ini Jadwal Idul Fitri 2026 Pemerintah dan Muhammadiyah
Menurut Wenny, kecenderungan menghindari emosi negatif ini sangat erat kaitannya dengan riwayat pola asuh masa kecil di masyarakat Indonesia.
Sejak usia dini, anak-anak sering kali tidak diberikan ruang yang aman untuk memvalidasi perasaan tidak nyaman yang sedang dialami.
"Karena mungkin, yang sering terjadi di pola asuh orang Indonesia itukalau kita nangis waktu kecil, langsung dibilang enggak boleh nangis. Jadi kita sering banget diajarkan ketika mengalami suatu emosi itu ditekan, diabaikan, dihindari," tutur Wenny.
Akibat pola asuh tersebut, seseorang belum memiliki keterampilan mumpuni untuk menyalurkan emosinya ketika sudah dewasa.
Apalagi, momen perayaan biasanya dengan cepat membangkitkan ingatan masa lalu, termasuk tentang perlakuan kerabat yang gemar membanding-bandingkan pencapaian atau tidak pernah memberikan apresiasi sama sekali.
Jangan seperti balon yang siap meledak
Ilustrasi tradisi Lebaran Ketupat. Berikut 50 ucapan Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir dan batin yang bisa dibagikan kepada keluarga, sahabat, dan rekan kerja saat Lebaran.
Wenny mengibaratkan tumpukan emosi negatif yang terus ditahan dan dipendam layaknya sebuah balon yang terus ditiup tanpa henti.
Semakin banyak udara dari masalah eksternal yang masuk tanpa ada celah untuk dikeluarkan secara sehat, tekanan di dalamnya pasti akan semakin membesar dan berujung pada kondisi psikologis yang membahayakan.
"Sekarang ketika kita sudah mulai dewasa, kita kayak balon yang terus-terusan diisi udaranya, akhirnya meledak. Jadinya reaktif pada suatu kondisi," papar dia.
Cara mengelola emosi secara efektif
Langkah adaptif dan sehat yang seharusnya diambil oleh setiap individu bukanlah menolak kehadiran emosi negatif tersebut.
Fokus utama yang perlu dibangun secara bertahap adalah mempraktikkan manajemen emosi yang efektif.
Manajemen emosi yang tepat tidak hanya memberikan kelegaan sesaat yang bersifat impulsif, tetapi juga turut memikirkan dampak panjang dari tindakan yang akan diambil. Menyalurkan rasa marah melalui tindakan destruktif atau agresi secara lisan merupakan indikator manajemen diri yang buruk.
"Yang efektif itu adalah yang ketika kita menyampaikannya, melakukannya, itu melegakan tapi tidak merugikan untuk diri kita sendiri dan juga orang lain," tutur Wenny.
Manajemen emosi yang tepat bisa dimulai dari memvalidasi perasaan sendiri, misalnya dengan berkata pada diri sendiri, "Saya merasa jengkel dengan pertanyaan ini, dan itu wajar".
Mengakui emosi bisa mengurangi tekanan "balon" dalam batin. Lalu, beri jeda pada diri sendiri ketika kammu sudah merasa sangat tertekan. Misalnya dengan pergi ke kamar mandi atau luar rumah selama lima menit untuk mengatur napas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang