Prakiraan Cuaca BMKG pada Arus Balik Lebaran: Banten, Lampung, dan Jateng Berpotensi Hujan Lebat

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam periode arus balik Lebaran 2026, sejumlah wilayah masih berpotensi diguyur hujan lebat.
Hal ini berdasarkan pemantauan BMKG sepanjang periode 19–22 Maret 2026, di mana beberapa daerah masih tetap diguyur hujan, meski kondisi cuaca terik terpantau di sejumlah wilayah Indonesia.
Suhu maksimum tercatat di Banten dan Sumatera Utara masing-masing sebesar 35,7°C, Lampung, DK Jakarta, dan Kalimantan Barat sebesar 35,2°C, Papua Barat 34,9°C, serta Jawa Timur 34,6°C.
Kondisi udara yang terasa lebih panas ini umumnya dipengaruhi oleh berkurangnya tutupan awan, sehingga radiasi matahari dapat mencapai permukaan secara lebih optimal.
Di sisi lain, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga masih terjadi di sejumlah wilayah.
Curah hujan tertinggi terpantau di Aceh sebesar 81,5 mm/hari, Sulawesi Tengah 56,5 mm/hari, Papua Tengah 50,2 mm/hari, Kalimantan Timur 48,8 mm/hari, Sulawesi Selatan 47,2 mm/hari, dan Sulawesi Tenggara 46,2 mm/hari.
Kondisi ini dipengaruhi oleh masih aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan Kelvin, adanya pola pertemuan serta perlambatan angin di beberapa wilayah, serta pemanasan yang cukup kuat pada siang hari yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Khusus di wilayah Jabodetabek, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga terpantau dalam beberapa hari terakhir, dengan curah hujan tertinggi antara lain di Depok sebesar 178,0 mm/hari, Jakarta Timur 67,0 mm/hari, Jakarta Utara 60,0 mm/hari, Jakarta Selatan 59,6 mm/hari, Bogor 52,8 mm/hari, Jakarta Pusat 40,0 mm/hari beserta Bekasi 33,6 mm/hari.
Dinamika atmosfer di arus balik Lebaran
Dalam sepekan ke depan, hasil analisis menunjukkan ENSO berada pada kategori netral hingga La Niña lemah.
Nilai SOI yang teramati sebesar +13,3 dan indeks NINO 3.4 sebesar -0,53 dinilai belum cukup signifikan dalam meningkatkan pola konvektif di wilayah Indonesia, sementara DMI sebesar +0,53 menunjukkan tidak adanya aliran udara signifikan dari Samudra Hindia timur Afrika menuju wilayah Indonesia bagian barat.
Meskipun demikian, analisis regional berdasarkan anomali OLR, MJO, dan aktivitas gelombang ekuator mengindikasikan kecenderungan peningkatan aktivitas konvektif, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur.
Peningkatan aktivitas konvektif tersebut diprakirakan diperkuat oleh aktifnya MJO secara spasial pada 24–25 Maret 2026 di wilayah timur Indonesia, yang didukung oleh gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, serta gelombang frekuensi rendah yang cenderung persisten.
Kombinasi ketiga fenomena ini berpotensi semakin meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan curah hujan, terutama di wilayah perairan dan daratan Indonesia bagian tengah hingga timur.
Di sisi lain, Ex-Siklon Tropis Narelle yang terpantau di pesisir barat Australia bagian utara masih memberikan pengaruh tidak langsung terhadap dinamika atmosfer di Indonesia, terutama meningkatkan kecepatan angin di wilayah Nusa Tenggara Timur, Laut Timor, dan sekitarnya, serta konvergensi dan konfluensi di perairan selatan Sulawesi dan Maluku bagian selatan hingga tenggara.
Selain itu, sirkulasi siklonik diprakirakan muncul di Samudra Hindia barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua, disertai sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi yang membentang di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Labilitas atmosfer lokal yang kuat juga masih terpantau di beberapa wilayah, termasuk Sumatera, Kalimantan, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, sehingga kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan dan cuaca signifikan di sejumlah wilayah.
Daerah mana yang berpotensi hujan?
Periode 24–26 Maret 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang.
Tapi perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat–sangat lebat): Lampung, Banten, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Pegunungan.
- Angin kencang: Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, dan Papua Selatan.
Periode 27–30 Maret 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang.
Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat–sangat lebat): Papua Pegunungan dan Papua Selatan.
- Angin kencang: Papua Barat, Papua, dan Papua Selatan.