Studi Ungkap Potensi Propolis bagi Pasien dengan Gangguan Metabolik
Pemanfaatan bahan alam dalam dunia kesehatan terus menjadi perhatian para peneliti. Salah satu yang kini kembali mendapat sorotan adalah propolis, senyawa alami yang dihasilkan oleh lebah dan dikenal memiliki beragam kandungan bioaktif.
Seiring berkembangnya pendekatan berbasis bukti ilmiah atau evidence-based medicine, berbagai penelitian dilakukan untuk mengkaji manfaat propolis secara lebih terukur, termasuk melalui uji klinis berbasis rumah sakit. Scroll lebih lanjut yuk!
Baru-baru ini dipublikasikan hasil penelitian klinis ke-25 HDI Propoelix terkait penggunaan ekstrak propolis yang dilakukan di salah satu rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Studi tersebut tidak hanya menyoroti potensi manfaat propolis dari sisi kesehatan, tetapi juga menggambarkan perjalanan panjang riset bahan alam—mulai dari tahap eksperimental di laboratorium hingga pengujian pada pasien secara langsung dalam lingkungan klinis.
Dalam perspektif sains dasar, propolis dikenal sebagai bahan alam yang memiliki komposisi senyawa aktif yang kompleks. Kandungan tersebut diyakini memiliki potensi dalam mendukung berbagai fungsi biologis tubuh, termasuk sistem imun.
Namun, dalam praktik medis modern, pembuktian ilmiah yang kuat serta proses standardisasi menjadi faktor penting sebelum bahan alami dapat digunakan secara lebih luas.
"Propolis merupakan salah satu bahan alam yang memiliki kompleksitas senyawa bioaktif yang sangat tinggi. Tantangannya adalah bagaimana memastikan standardisasi dan pembuktian ilmiahnya agar dapat diterima dalam praktik medis modern. Upaya seperti yang dilakukan HDI menjadi penting untuk menjembatani sains dasar dengan aplikasi klinis." ujar Dr. Muhamad Sahlan., S. Si., M.Eng., selaku Akademisi dan peneliti dari Universitas Indonesia, dalam acara Seminar Kesehatan Nasional bertajuk 'Beyond the Fundamentals of Propolis Science: Clinical Evidence Behind HDI Propoelix', di Jakarta, Sabtu 7 Maret 2026.
Penelitian ini dilakukan di RS Soerojo Magelang dan melibatkan pasien dewasa dengan kondisi metabolik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi. Kondisi-kondisi tersebut sering kali berkaitan satu sama lain dan dapat berkembang menjadi sindrom metabolik, yaitu kumpulan faktor risiko kesehatan yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular.
Sindrom metabolik sendiri ditandai oleh gangguan regulasi gula darah, tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, serta ketidakseimbangan profil lipid dalam tubuh. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena berkaitan dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular.
Studi klinis tersebut dipimpin oleh dr. H. Harli Amir Mahmudji, Sp.PD-KEMD, Ketua Clinical Research Unit (CRU) RS Soerojo. Ia menjelaskan bahwa penelitian dilakukan dengan pengawasan medis ketat untuk memastikan keamanan serta evaluasi hasil yang objektif.
"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi HDI Propoelix dalam pengawasan medis memberikan adanya potensi manfaat propolis dalam mendukung keseimbangan sistem imun dan parameter metabolik tertentu, terutama pada pasien dengan kondisi metabolik. Yang terpenting, seluruh intervensi dilakukan dalam pengawasan medis dengan hasil keamanan yang baik." jelasnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa propolis berpotensi menjadi pendekatan komplementer dalam mendukung kesehatan metabolik. Dalam penelitian tersebut, konsumsi ekstrak propolis secara rutin dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan sistem imun, mendukung parameter metabolik tertentu, serta berpotensi meningkatkan ketahanan tubuh terhadap stres.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penggunaan bahan alami seperti propolis tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis utama.
Sebaliknya, pemanfaatannya lebih diarahkan sebagai pendamping dalam perawatan kesehatan yang tetap disertai pengawasan tenaga medis serta penerapan gaya hidup sehat.
Melalui penelitian berbasis rumah sakit seperti ini, diharapkan pemanfaatan bahan alam dapat terus dikaji secara ilmiah. Kolaborasi antara akademisi, institusi kesehatan, dan industri juga dinilai penting untuk memastikan bahwa inovasi kesehatan berbasis bahan alami tetap mengedepankan keamanan, kualitas, serta validasi ilmiah yang kuat.