Di Hadapan Komisi XI DPR, Bos BI Paparkan 5 Strategi Perkuat dan Jaga Stabilitas Rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, BI akan tetap berkomitmen untuk terus memperkuat kebijakan, guna memperkuat dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI di DPR RI, Senayan, Jakarta, Dia pun merinci bahwa strategi pertama yang akan dilakukan BI yakni dengan terus melakukan intervensi di pasar spot, dan transaksi derivatif valuta asing alias Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga kestabilan rupiah.
"Kedua, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) pada Mei, dan 25 bps pada Juni untuk menjaga daya tarik investasi pada instrumen keuangan domestik demi mendorong arus modal masuk," kata Perry, Rabu, 10 Juni 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (dok: Bank Indonesia)
Strategi ketiga, Perry memastikan bahwa BI juga akan tetap mengandalkan penerbitan SRBI untuk menarik kembali aliran portofolio asing, yang sempat keluar akibat gejolak global.
Dalam hal ini, BI melakukan lelang SRBI dua kali seminggu dan memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10 persen guna meningkatkan daya tarik investasi.
Strategi keempat yakni bahwa BI juga berkomitmen menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Kelima, BI akan melanjutkan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik dan transfer dolar AS ke luar negeri yang mulai diberlakukan sejak awal Juni.
Dalam kebijakan tersebut, Perry menegaskan bahwa BI juga akan membatasi pembelian dan transfer dolar AS ke luar negeri tanpa underlying transaction, sebesar US$25.000 per pelaku per bulan. Ketentuan itu turun dari aturan sebelumnya, yakni US$50.000 per pelaku per bulan.
"Kami juga meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi," kata Perry.
"Dimana kami bersama-sama terjun ke bank-bank, untuk meyakinkan bahwa transaksi valas di perbankan, yang dari korporasi maupun dari individu, itu harus ada underlying-nya," ujarnya.