Sejarah Sholat Tarawih, Mengapa Disebut Tarawih dan Bagaimana Asal-usulnya?

Qiyam Ramadhan, shalat Tarawih, Umar bin Khattab, Sejarah Tarawih, Sejarah Sholat Tarawih, Mengapa Disebut Tarawih dan Bagaimana Asal-usulnya?, Bermula dari Qiyam Ramadhan, Sejarah Shalat Tarawih di Masa Rasulullah SAW, Perubahan di Masa Khalifah, Makna "Istirahat" dalam Tarawih

Shalat Tarawih menjadi salah satu amalan khas yang menghidupkan suasana di bulan suci Ramadhan. Meski berstatus ibadah sunnah, anjuran untuk melaksanakannya sangat ditekankan melalui berbagai hadits Nabi Muhammad SAW.

Namun, tahukah Anda bahwa istilah "Tarawih" ternyata tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW?

Bermula dari Qiyam Ramadhan

Dikutip dari mui.or.id, pada masa Rasulullah SAW, ibadah malam di bulan suci ini lebih dikenal dengan istilah Qiyam Ramadhan. Shalat ini bertujuan untuk menghidupkan malam-malam penuh berkah dengan ibadah kepada Allah SWT.

Pakar fiqih membedakan Qiyam Ramadhan (Tarawih) dengan shalat Tahajud.

Jika Tahajud lazimnya dilakukan setelah bangun tidur di waktu malam, Tarawih dilaksanakan khusus pada malam hari di bulan Ramadhan tanpa syarat harus tidur terlebih dahulu.

Sejarah Shalat Tarawih di Masa Rasulullah SAW

Merujuk pada catatan sejarah, Rasulullah SAW pertama kali mencontohkan shalat ini pada tanggal 23 Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Menariknya, Rasulullah tidak selalu melaksanakannya di masjid secara berjamaah.

Antusiasme sahabat yang sangat tinggi untuk mengikuti shalat Nabi di masjid sempat membuat Rasulullah SAW khawatir.

Hal ini terekam dalam hadits riwayat Imam Muslim (No. 1270):

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخروجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ قَالَ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Pada suatu malam (di bulan Ramadhan), Rasulullah ﷺ sholat di Masjid, lalu diikuti beberapa orang sahabat. Kemudian (pada malam kedua) beliau sholat lagi, dan diikuti banyak orang. Pada malam ketiga atau keempat mereka berkumpul, namun Rasulullah ﷺ tidak keluar sholat bersama mereka. Maka setelah pagi, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya aku tahu apa yang kalian lakukan semalam. Tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar dan sholat bersama kalian, hanya saja aku khawatir (sholat Tarawih itu) akan diwajibkan atas kalian.’”

Karena kekhawatiran akan memberatkan umat jika ibadah ini berubah status menjadi wajib, Rasulullah pun memilih untuk melanjutkannya secara mandiri.

Perubahan di Masa Khalifah

Pasca-wafatnya Rasulullah, pada masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq, umat Islam masih melaksanakan shalat Tarawih secara sendiri-sendiri (munfarid) atau dalam kelompok-kelompok kecil (3-6 orang).

Perubahan besar terjadi saat Umar bin Khattab menjabat sebagai Khalifah. Melihat kondisi jamaah yang tidak kompak di masjid, Umar berinisiatif menyatukan mereka di bawah satu imam.

Ahmad Zarkasih dalam buku Sejarah Tarawih menjelaskan bahwa secara etimologi, kata "Tarawih" adalah bentuk jamak dari kata Tarwih yang berarti istirahat.

Makna "Istirahat" dalam Tarawih

Mengutip Imam al-Mawardzi dalam Kitab Qiyam Ramadhan, istilah ini muncul karena adanya jeda istirahat yang panjang di antara rakaat shalat pada masa Umar bin Khattab.

Al-Hasan RA menceritakan dalam kitab tersebut (hal. 59):

“Umar RAA memerintahkan kepada Ubai untuk menjadi imam pada qiyam Ramadhan... Mereka sholat dengan 18 rakaat salam setiap 2 rakaat dan memberikan mereka istirahat sekadar berwudhu dan menunaikan sholat hajat mereka.”

Inilah alasan mengapa shalat ini disebut Tarawih karena pelaksanaannya memberikan banyak Tarwih atau waktu istirahat bagi makmum setelah setiap dua rakaat selesai dilaksanakan.

Hingga kini, tradisi shalat Tarawih berjamaah di masjid terus terjaga. Banyak umat Islam yang mengombinasikannya dengan i’tikaf untuk meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Wallahu’alam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang