Habib Umar bin Hafidz Jelaskan Cara Komedian Tetap Bernilai Ibadah di Mata Allah
Komedian dikenal sebagai sosok yang menghibur banyak orang lewat canda dan tawa. Namun, tak sedikit di antara mereka yang sempat ragu apakah profesi tersebut bisa bernilai ibadah di mata Allah, atau justru dianggap main-main. Hal ini pula yang dirasakan oleh Rigen Rakelna, seorang komedian di Indonesia.
Dalam sebuah kajian bertajuk “Heart to Heart”, Rigen berkesempatan bertanya secara langsung kepada Habib Umar bin Hafidz, ulama kharismatik asal Yaman, tentang bagaimana seorang komedian sebaiknya menjaga niat dan batas agar tidak keluar dari nilai-nilai kebaikan di hadapan Allah. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Rigen Rakelna
“Pekerjaan saya adalah seorang komedian. Saya senang membuat orang tertawa, tapi kadang saya takut, jangan-jangan apa yang saya lakukan dianggap main-main di mata Allah. Bagaimana cara seorang komedian menjaga niat agar tetap bernilai baik?” tanya Rigen yang dikutip dari YouTube Nabawi TV pada Senin, 20 Oktober 2025.
Menanggapi hal tersebut, Habib Umar memberikan penjelasan yang menenangkan sekaligus mendalam. Ia mengatakan bahwa profesi komedian bukanlah hal yang salah, selama dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang baik.
Habib Umar Bin Hafidz.
“Langkah pertama adalah memperbaiki niat. Niatkan untuk menyenangkan hati kaum mukminin, menggembirakan mereka, dan membuat mereka keluar dari kesedihan dan stres, tanpa ada cacian, hinaan, atau hal yang menyinggung,” jelas Habib Umar bin Hafidz.
Beliau juga menambahkan bahwa sebaiknya seorang komedian bisa menyisipkan nilai-nilai kebaikan dalam setiap candaan yang disampaikan, agar tawa yang muncul tidak hanya menghibur, tapi juga memberi cahaya dan mendekatkan orang kepada Allah.
“Apabila bisa memasukkan cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam konten komedi, seperti mengajak orang menjauhi keburukan atau mendekatkan diri kepada kebaikan, itu akan menjadi amal yang sangat mulia,” tambahnya.
Habib Umar bahkan mencontohkan bahwa di masa Rasulullah SAW pun ada sahabat yang memiliki sifat jenaka, seperti Sayyidina Nuaiman, yang sering membuat Rasulullah tertawa dengan cara yang sopan dan bernilai positif. Beliau menjelaskan, bahkan Rasulullah sendiri kadang bercanda dengan para sahabat, namun selalu dalam batas kesantunan dan kejujuran.