Kisah Umar bin Khattab Menegur Ayah yang Mengadu Anaknya Durhaka
Islam mengajarkan bahwa seorang anak wajib berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibu yang telah mengandung dan membesarkannya dengan penuh perjuangan. Namun dalam ajaran Islam, kewajiban berbakti tersebut juga memiliki batas, terutama jika orang tua justru mendorong anak melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran agama.
Dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 14, Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ayat tersebut menjelaskan bahwa seorang ibu mengandung anaknya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah serta menyapihnya hingga dua tahun. Karena itu, manusia diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah dan juga kepada kedua orang tua.
Meski demikian, Islam juga mengajarkan bahwa ketaatan kepada orang tua tidak berlaku apabila mereka memaksa anak untuk melakukan kemaksiatan atau menyekutukan Allah. Hal tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 8 yang menegaskan bahwa manusia tetap harus berbuat baik kepada orang tua, tetapi tidak boleh mematuhi mereka jika diperintahkan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama.
Sebuah kisah yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab menggambarkan keseimbangan antara kewajiban anak dan tanggung jawab orang tua. Suatu ketika, seorang ayah membawa putranya menghadap Khalifah Umar untuk mengadukan perilaku anaknya yang dianggap durhaka.
Di hadapan Umar bin Khattab, sang ayah meminta agar putranya dinasihati. Ia mengeluhkan bahwa anaknya tidak patuh dan tidak berbakti kepadanya.
Umar kemudian menasihati pemuda tersebut agar bertakwa kepada Allah dan mengingat bahwa ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua.
Namun, pemuda itu kemudian bertanya kepada Umar apakah Islam hanya mewajibkan anak untuk berbakti kepada orang tua, atau juga mewajibkan orang tua menjalankan tanggung jawab terhadap anak.
Umar menjawab bahwa orang tua memang memiliki kewajiban besar terhadap anak-anak mereka.
Mendengar jawaban tersebut, pemuda itu menjelaskan bahwa ayahnya tidak menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Ia mengaku ayahnya memperlakukan ibunya dengan buruk, memberinya nama yang tidak baik, serta tidak pernah mengajarinya membaca Al-Qur’an.
Mendengar penjelasan itu, Umar bin Khattab kemudian menegur sang ayah. Ia menyatakan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata kesalahan anak, melainkan juga kelalaian orang tua dalam menjalankan tanggung jawabnya.
“Jika demikian, bukan anakmu yang durhaka, tetapi kamulah orang tua yang durhaka,” kata Umar kepada ayah tersebut.
Kisah tersebut sering dijadikan pengingat bahwa hubungan antara orang tua dan anak dalam Islam bersifat timbal balik. Anak diwajibkan berbakti kepada orang tua, sementara orang tua juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik, membimbing, dan memperlakukan anak dengan baik.
Ulama Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Tuhfat al-Maudud juga menegaskan bahwa orang tua yang menyia-nyiakan pendidikan anak akan mengalami kerugian besar. Menurutnya, banyak kerusakan moral pada anak terjadi karena orang tua tidak memberikan pendidikan yang baik sejak dini.
Ia menyebutkan bahwa ketika anak tidak dibimbing dalam pendidikan agama dan akhlak, maka mereka dapat tumbuh tanpa arah dan tidak mampu memberikan manfaat bagi dirinya sendiri maupun bagi kedua orang tuanya di masa depan.