Kisah Tegas Umar bin Khattab, Suruh Warga Pukul Kepala Gubernur Gegara Anaknya Angkuh

Padati Makam Rasulullah, Jemaah Haji Salat Arbain di Masjid Nabawi
Padati Makam Rasulullah, Jemaah Haji Salat Arbain di Masjid Nabawi

 Dalam sejarah peradaban Islam, sejumlah sahabat Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pemimpin umat yang meneladani ajaran Rasulullah SAW. Salah satu di antara mereka adalah Umar bin Khattab RA, khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq. 

Sosok berjuluk al-Faruq ini dikenang sebagai pemimpin tegas yang menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, termasuk ketika pelaku pelanggaran berasal dari kalangan terpandang.

Banyak kisah menunjukkan bagaimana Umar menjunjung tinggi prinsip keadilan. Salah satu peristiwa yang paling sering dikutip melibatkan putra gubernur Mesir, Muhammad bin ‘Amr bin al-‘Ash. Kejadian ini bermula dari sebuah perlombaan pacuan kuda di Fustat, Mesir.

Dalam ajang tersebut, dua peserta tersisa di babak akhir: putra gubernur dan seorang pemuda Koptik, warga Mesir beragama Kristen. Pertarungan berlangsung ketat hingga akhirnya pemuda Koptik itu berhasil melaju lebih cepat dan menyentuh garis akhir sebagai pemenang. Namun kemenangan itu justru berujung insiden yang tidak terduga.

Tiba-tiba, putra gubernur memukul punggung lawannya dengan cemeti sambil berteriak, “Khuz ha! Wa ana ibnu 'l-akramin!” Kalimat tersebut menunjukkan keangkuhan dan penyalahgunaan status, sesuatu yang sangat ditentang nilai-nilai Islam.

Merasa diperlakukan tidak adil, pemuda Koptik itu memutuskan mengadukan kejadian tersebut langsung kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah. Ia menempuh perjalanan panjang untuk mencari keadilan.

Setibanya di Madinah, ia segera bertemu Umar dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar laporan tersebut, al-Faruq langsung memanggil gubernur Mesir, ‘Amr bin al-‘Ash, beserta putranya agar mempertanggungjawabkan tindakan mereka. Peristiwa ini disaksikan langsung oleh Anas bin Malik.

Dalam sesi pengadilan, Umar menyerahkan tongkat kepada pemuda Koptik itu dan memerintahkan agar ia membalas pukulan yang diterimanya. Pemuda tersebut kemudian memukul putra gubernur hingga merasa adil dan puas.

Tidak berhenti di situ, Umar berkata, “Sekarang, alihkan pukulanmu ke kepala ayahnya (maksudnya kepada gubernur). Demi Allah, anaknya memukulmu adalah karena jabatan orang tuanya ini!” Namun pemuda itu menolak dan berkata, “Saya sudah puas dan menerima hak saya.”

Setelah itu, Umar menoleh kepada ‘Amr bin al-‘Ash dan mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi salah satu ungkapan paling terkenal dalam sejarah kepemimpinan Islam: “Hai 'Amr! Sejak kapan engkau memperbudak rakyat, padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”

Sebelum pemuda Koptik itu kembali ke tanah kelahirannya, Umar pun berkata, “Pulanglah kau dengan tenang! Jika ada sesuatu terjadi padamu, kirimkan surat padaku.”

Kisah ini menjadi bukti bagaimana Umar bin Khattab memegang teguh prinsip keadilan, memastikan setiap orang mendapatkan haknya tanpa memandang jabatan, status keluarga, atau perbedaan agama.